20201114

Padahal belum.

Kita lelah seperti sudah sampai di penghujung padahal belum.
Angin di luar selalu kencang dan matahari terik menyengat. 
Tidak ada yang lebih berat daripada terjaga dalam situasi seperti ini.
Kita berharap saja semua cepat koma, agar setelah ini semua usai tidak lagi ada yang pasca-pasca.

Kita lelah seperti sudah melakukan banyak hal padahal belum.
Sudah lama merdeka menjadi narasi yang tidak lagi menjual karena kita semua tidak berbuat apa-apa.
Jangan lagi ada yang bilang tanah surga karena kita belum kemana-mana.
Tanah air kau tidak kulupakan apalagi,
Pergi jauh dan kamu pasti tidak ingin kembali lagi.

Kita lelah seperti sudah sering mendoakan padahal belum.
Tuhan tau kamu hanya memaki tapi tidak pegang kendali.
Menghitung dosa mengurangi pahala.
Cintamu platonis tidak romantis.
Kamu tidak mau berjuang, hanya mau tau-tau selesai.
Tidak belajar, menghindari ujian.
Lalu berharap semua bisa ideal seperti yang kamu inginkan.

Kita lelah seperti tidak membaca sejarah.




20190930

How to Dad

Dear, Dad.

Bisa kita mulai dari mana aja gue ngga ada ide.
Yang gue bisa tulis cuma cinta gue yang tulus dan kekecewaan yang begitu besar.
Sebagai anak perempuan terhadap ayahnya, terhadap cinta pertamanya.
Anak perempuan yang mengetahui dirinya ngga diinginkan menjadi perempuan.
Yang terus didesak untuk jadi kuat seperti laki-laki (katanya).
Yang ngga boleh nangis.
Ngga boleh juga kecewa karna hidup ngga akan pernah memihak yang perasa.

Suatu hari pernah gue cukupkan segala luka yang ngga pernah diobati.
Gue berdiri dengan kemauan sendiri.
Dan berlari untuk tujuan yang pasti.

Meski ujian yang sering datang adalah sandiwara murahan, gue ngga marah.
Gue merasa ini bagian dari cara Tuhan menunjukan bahwa Ayahnya hanya tidak tahu bagaimana caranya menjadi Ayah.

20190314

Jalangkung.

Waktu kecil gue sering banget denger orang tua gue bawa-bawa soal setan yang godain manusia. Males berangkat ngaji, diajak ngomongin setan. Males bangun subuh, diajak ngomongin setan. Males belajar, diajak ngomongin setan. Semua hal yang "jelek" tapi suka banget gue lakukan semua dihubungkan dengan godaan setan. Sampe gue pernah berpikir, kenapa Setan suka banget godain gue? Kenapa ngga godain adek-adek gue juga?

1. Gue punya tetangga nasrani dan baik banget. Tetangga terbaik yang pernah gue punya. Bukan hanya sering memberi, tapi mereka mau berkorban juga. Gue sering sedih setiap tetangga gue berbuat baik sama gue, karena di kepala gue tercantum "Kita ngga akan ketemu di surga karna kamu bukan Islam.." Sampai di saat yang bersamaan, gue punya tetangga brengsek banget yang nyokapnya sering gossip dan pernah beberapa kali bikin nyokap gue nangis karena omongannya yang pedes. Saat dijahatin begitu timbul pergolakan hati gue yang menolak untuk masuk Surga kalo harus ketemu orang-orang ini lagi. Kemudian suatu hari gue bertanya sama guru Agama kesayangan gue sampai sekarang, namanya pak Suratman.
"Pak, aku punya tetangga baik banget. Tapi dia Kristen. Emangnya bener kalo bukan Islam ngga akan masuk Surga? Padahal baik banget, Pak... Baik banget. Aku sampe ngga rela kalau tetangga ku itu masuk neraka.."
Pertama kali nanya begitu, pak Suratman cuma asal jawab, "Kalo gitu suruh syahadat aja."
Beberapa kali nanya hal yang sama, mungkin akhirnya pak Suratman ngeh juga kalau ini udah kebaperan akut yang bikin anak SD kelas 5 berencana murtad. Beliau menjawab dengan cerita di jaman Nabi, bahwa ada Pelacur yang sekalipun ia bukan Islam, ia masuk surga karena kebaikan hatinya memberi minum anjing kelaparan. Namun ada juga cerita Paman Nabi yang sangat setia kepada Nabi, namun hingga akhir hayatnya ia belum juga memeluk Islam, maka ia masuk neraka. Semua ketentuan masuk atau tidaknya manusia ke dalam Surga, adalah kehendak Allah.
Namun setelah mendengar cerita itu gue malah tambah gusar. Dunia ini penuh ketidakpastian. Lalu mengapa orang-orang bisa mengatakan kitab ini pasti, agama ini pasti, janji Allah pasti dan lain-lain. Apa sebaiknya kita berbuat baik dan benar aja tanpa klaim yang pasti-pasti? Mungkinkah setan sedang menggoda gue saat gue bertengkar dengan isi kepala gue sendiri?

2. Gue punya Eyang Putri baik banget, super baik dan penyayang. Kebetulan gue pun cucu pertama, jadi gue ngerasain banget disayang setengah mati sama almarhumah. Sayang meski saat itu gue masih kecil, gue udah bisa membaca aura tidak bahagia Eyang Putri terhadap pernikahannya dengan Eyang Kakung. Kalau dipikir sekarang gue kadang nyesel kenapa ngga belain Eyang Putri kalo Eyang Kakung udah mulai Patriarki eshol. Udah luka-luka, tertimpa tangga pula karena Nyokap gue suka ingetin gue kalo Eyang Putri gue bukan Islam, tapi Kejawen. Yang diungkit cuma hal-hal yang bikin anak umur 10 tahun bergidik geli karna Nyokap mention "Eyang Putri masih makan darah ayam" gue pun merasa bahwa Islam gue lebih baik dari Islam Eyang Putri, padahal.. kalau sekarang ditanya kenapa gue begitu liberal, mungkin karena Eyang Putri gue juga.. Beliau sosok yang teladan dan meninggal dalam keadaan yang paling baik. Sosok yang tidak pernah lagi gue temukan, tidak peduli berdoa dengan ritual yang mana, tidak peduli makan apa, beliau adalah inspirasi gue seumur hidup.

3. Setiap (akhirnya) datang ngaji, gue selalu kesulitan membaca huruf Hijaiyah, sampe jadi olok-olokan temen-temen seumuran waktu itu. Seiring waktu berjalan gue masuk ke tahap baca Al-qur'an, dan di SD gue, setiap memulai hari kita akan baca Al-qur'an berbarengan dan karna ngga terlalu jago baca al-qur'an, gue selalu ketinggalan dan kadang salah baca, akhirnya karna kesel gue lalu memutuskan untuk baca artinya aja dalam hati sambil komat-kamitin bibir pura-pura baca huruf arabnya, gue merenungi setiap arti ayatnya (yang sampe saat ini banyak yang masih ngga gue ngerti maksudnya apa). Sampai suatu ketika, gue ketauan ngga ikutan baca sama-sama, akhirnya gue dihukum dan dijadiin bahan ketawaan satu kelas, jujur saat gitu ngga ada trauma berarti, cuma malu dan sedih.. Tapi dari situ gue kaya mau nanya sama diri gue sendiri, sama guru yang waktu itu ngehukum gue dan temen-temen gue yang nyumbang ketawa, apa kita cukup dengan baca Al-qur'an tanpa tau apa arti dan maksud dari ayat-ayatnya? Apa lagi-lagi setan mengganggu gue, makanya gue harus beda sendiri dan keluar jalur sendiri? Kalau gue tanya Nyokap gue, jawaban dia selalu 'Iya itu godaan Setan." lalu mulai membandingkan sikap gue dan adik-adik gue yang penurut dan sesuai garis peradaban banget. Tapi gue ngga puas sampe sana aja, karna Setan ngga pernah jawab itu sendiri. Darimana gue bisa percaya Nyokap gue bener atau engga.

Sampai terkadang gue kepikiran buat main Jalangkung aja pas lagi sendiri biar setan yang selama ini ngikutin dan godain gue bisa kenalan sama gue, mungkin kita bisa berteman baik, tanpa harus tuduh-tuduh dia terus sebagai biang dari segala keonaran pikiran yang gue buat.

20181116

Dua.

Akhir-akhir ini gue sedang terkesima dengan kemampuan membelah dunia gue menjadi dua.

Satu dunia isinya ngomongin Filsafat, ngomongin hal-hal gila yang bisa kejadian dengan segala kemungkinan, ngomongin relativitas, ngomongin absurditas, ngomongin segala hal dengan bebas, tanpa batas.

Di sisi lain, begitu gue ditarik untuk terlibat dalam dunia Penerbangan, tiba-tiba gue bisa jadi orang yang paling waras, paling serius, paling prosedural, ngga mau ngomongin hal-hal di luar data dan jadi Pilot yang jalannya lurus segaris.

Kok bisa ya? Apa aman? Atau gue harus juga sambil belajar Psikologi?

20180518

Musim #1


Dhamendra berlari kecil setelah turun dari mobilnya. Bergegas ia masuk ke dalam gedung apartemen yang penghangatnya selalu dimatikan. Dingin ini tidak pernah sedingin ini, terlebih keheranannya yang sudah memakai 4 lapis baju. Ia menaiki tangga menuju flatnya, berbeda dengan gedungnya, ruangan miliknya tidak pernah mengijinkan pemanas dimatikan, berapapun ia harus bayar. Sebab, mati kedinginan adalah hal terkonyol di jaman ini. 

Ia mengecek sekitar, mengecek ponselnya, kemudian menengok ke arah luar jendela. Ada sesuatu yang ia khawatirkan di tengah dinginnya Minnesota, kepulangan istrinya di cuaca yang seekstrim ini.

“Kamu dimana, Ta?”, Dhamendra mencantolkan earphone dan meletakan ponselnya di dekat meja penghangat, berharap penerima telpon di sebrang bisa merasakan hangatnya.

“On my way, Sayang. Bentar yah.”

“Kamu ngga dingin?”

“Kan di dalem mobil, Sayang.. masih ramean juga kali ya, jadi belum berasa banget..”, jawab sebrang dengan suara latar gaduh musik dan suara orang bercerita, suaranya tiba-tiba menjauh, “Berapa derajat sih ini? Minus 2 ya?”

Dhamendra menunggu suaranya mendekat lagi.

“Sayang, pemanasnya ngga ada masalah kan? Soalnya pada mau ke sana..”, suara itu mendekat lagi, namun kali ini membuat Dhamendra mendadak menghentikan napasnya.

“Eng... Ta, kamu mau bawa temen-temen kamu ke sini?”, tanya Dhamendra mengulang.
“Ya, Sayang. Tadi pagi aku udah pesen Lasagna, nanti tinggal dipanasin, aku taro di kulkas.”, selesai menjawab, suara gaduh kembali terdengar, seperti suara bersorak gembira di belakang. Dada Dhamendra tiba-tiba berdegup kencang dan merasa tidak ada harapan.

“Kamu ngga bilang kalau mau ajak mereka ke rumah?”

“Duh, Sayang.. Kalo aku bilang nanti kamu repot pasti masak-masak buat mereka...”, tiba-tiba lagi terdengar suara mengeluh di belakang. “Iya, nanti lo pada makan Lasagna mesen ya, bukan Lasagna buatan Dhamen, hahaha..”, canda sang Istri dengan teman-temannya.

“Eng, bukan itu...”

Nashita terdiam. Perasaannya menebak sesuatu.

Dhamendra menarik nafas, “Iya, Ta.. Aku lagi ngga mau ketemu orang..”

“Ya.. nanti aku telpon lagi ya!”, lalu sambungan pun dimatikan. Meninggalkan Dhamendra yang kembali berpikir, tidak ada manusia yang bisa membawa kehangatan di musim dingin ini, termasuk istrinya. Yang justru semakin dingin menjelang musim dingin, karena aura panasnya hanya akan muncul begitu ia mengundang banyak teman ke rumah untuk koleksi kalor. Kadang, ia hanya ingin sekedar tau kabar Istrinya, tanpa berharap ia ada di sekitar.

Musim #2



“Ada ngga sih, orang yang lebih aneh dari kamu?”, singgung Nashita sambil melirik ke arah Dhamendra lewat meja riasnya. Ia membersihkan sisa riasannya pelan-pelan dengan alis mengkerut seperti biasa.

Dhamendra tidak menjawab, sering kali pertanyaan bukan pertanyaan melainkan sarana pemicu konflik. Yang terlontar dari bibir Istrinya jelas sudah ribuan kali, sampai kini hilang makna. Nashita mengetahui dengan sangat jelas keunikan suaminya yang selalu menyita pengertian. Dhamendra yang mengunci kamar saat ia datang bersama teman-temannya, yang hanya diam dalam gelapnya kamar, dan baru keluar jika Nashita yang geram sengaja mematikan heater ruangan. Dhamendra yang tiba-tiba lupa mencabut kunci pintu rumah dari dalam karena ia keluar apartement dengan melompat keluar jendela di musim panas, yang mengakibatkan Nashita harus memanjat tangga lurus penuh resiko untuk masuk ke dalam kamarnya sendiri. Dhamendra yang memiliki musim tak tentu, musim alergi bertemu orang lain.

Meski di hari lain, Dhamendra dikenal sebagai Dhamendra yang hangat dan penolong oleh tetangga dan teman-teman Nashita. Senang menjamu, memasak, meladeni setiap diskusi sampai pernah menjadi ketua Paguyuban WNI di Minnesota. Namun entahlah, musim dingin dan musim hangatnya tidak terprediksi dan itu membuat Nashita, sebagai satu-satunya yang mengetahui hal ini merasa tidak habis pikir.

“Kamu katanya mau jadi Menteri, kan ngga bisa kaya gini terus?”

“Kan ada kamu.”

“Kalo ngga ada aku?”

“Bilang aja ngga enak badan.”

Nashita memutar matanya. “Kamu tau ini aneh banget kan ya? Aneh banget.”

“Kamu mau sampai kapan sih memilih buat ngga kenal aku?”, Dhamendra tiba-tiba menatap Nashita balik melalui cerminnya. Tatapannya menjelaskan banyak hal yang diketahui Nashita, namun tidak bisa ia terima. Tidak bisa ia maklumi, hanya karena terlalu banyak kerepotan yang diakibatkan. Hanya karena Nashita tidak pernah bertemu manusia seunik ini.

“Sampai musim dingin ini selesai.”, jawab Nashita melengos keluar kamar. Hanya karena hal ini, ia tidak mau ada di satu ruangan dengan Dhamendra.

“Musim dingin kita ngga akan pernah selesai.”

20180503

Bapak.

Saat pesawat cruising di final level gue punya sedikit waktu senggang untuk nerbangin pikiran gue keluar dari pesawat ini. Kadang pikiran yang sering gue kunjungin adalah pikiran tentang "Bagus lagi apa? Udah makan belum ya?" atau "Pesawat di bawah secanggih pesawat gue ngga ya?" atau ngga jarang juga pikiran gue melanglangbuana ke belakang karena obrolan gue sama Kepten gue mengarahkan gue ke sana.

Kebanyakan pertanyaan yang dateng ketika tau gue lulusan Filsafat UI adalah.... "Kok, ambil Filsafat Mel? Kenapa?", lalu muka gue pun sumringah sesumringah kalo ditanya "Mel terbang pesawat apa?", karna gue mencintai dua hal itu. Filsafat dan Boeing. Haha.

Sedikit cerita, dulu kalo ditanya senior jaman Ospek,
"Alasan masuk Filsafat apa?"

Jawaban gue pasti, "Saya mau jadi Penulis." Itu doang sampe bosen.

Sampai gue akhirnya setuju, keputusan gue milih Filsafat UI sebagai pilihan pas ujian SNMPTN tahun 2009 adalah keputusan terbaik gue dalam hidup. Kalo ngga kuliah jurusan Filsafat ngga kebayang gue akan jadi orang kaya apa setelah banyak hal banal gue lewatin selama ini. Sejauh ini, Filsafat yang menyelamatkan gue, mengubah default pikiran gue, dan melatih kerja otak gue secara otomatis ke garis etis dan romantis. Empat tahun aja, tapi dampaknya seumur hidup.

Filsafat itu sulap buat gue. Sebelum masuk Filsafat gue adalah kera dalam gua. Menjalani hidup dengan sangat-sangat pragmatis. Sampai kerja otak gue setara dengan kerja gerobak mie ayam, didorong maju, ditarik mundur. Ngga punya sikap. Kesadaran gue akan hal ini membawa gue mencari dunia yang bisa jadi pintu dimana otak gue bisa naik kastan dari gerobak mie ayam jadi gerobak mainan. Beragam dan menarik.

Filsafat, awalnya, like literally, gue pikir cuma belajar tentang sejarah Filsuf-filsuf dan pemikiran mereka, tugas-tugas yang diminta Dosen ngga pernah gue anggap serius, saat kebagian mimpin diskusi di kelas bahan-bahannya gue siapkan 2 menit sebelum nama gue dipanggil, atau gue lebih milih nongkrong di kantin nontonin senior-senior gue yang gondrong bakar tembakau. Ngga ada yang gue inget tentang dunia akademisnya selain ketika gue dihadapkan dengan kenyataan kalau gue harus ngerjain Skripsi supaya gue bisa lulus dengan gelar Sarjana Humaniora. Dan gue diserahkan kepada salah satu Dosen nyentrik se-UI, Rocky Gerung.


Memiliki dia sebagai dosen pembimbing jadi masa-masa paling menyenangkan sepanjang gue kuliah. Karna, begitu kenal dia gue baru bisa mengimplementasikan apa itu Filsafat ke dalam keseharian. Secara otomatis, Rocky Gerung yang gue panggil Bapak, jadi bapak gue beneran. Gue menanti dimana hari Senin kembali, karna jadwal bimbingan gue selalu jadi hari paling extra selama seminggu, gue dapet caci-maki tapi juga pelajaran sepanjang hidup dalam satu waktu. Manusia konsisten, logis dan etis dengan pikiran paling terbuka yang paling berhati yang pernah gue temui.

Bapak jadi makin bapak begitu gue berhasil menyelesaikan Skripsi gue dengan nilai yang sangat memuaskan, seperti bapak-bapak pada umumnya, dia bangga. Dia tersenyum dan bilang,
"bikin buku, ya."
Namun, saat itu gue hanya tersenyum, menjawab pelan, "Pak, saya mau pendidikan dulu ya tapi." dan gue pun cabut.

Meninggalkan mimpi-mimpi lulusan Filsafat di tempatnya.

Dan setelahnya hari-hari kita ketemu hanya diisi oleh curhatan-curhatan hidup, tentang percintaan atau ngomongin kelakuan orang dengan otak Filsafat satu semester setengah, yang ketemu jaman Yunani dan berakhir di Abad Pertengahan.

Sepanjang perjalanan gue selalu membawa aura Bapak kemanapun gue pergi. Gue belajar konsisten, belajar jadi orang yang logis-etis-romantis dengan pikiran seterbuka mungkin. Tiap gue ngerasa hampir gagal menguasai diri karna gemes liat banalitas, gue nyariin Bapak di Youtube atau TV dan dengerin dia ngomel-ngomel lalu gue pun jadi tenang. Seperti melampiaskan omelan gue melalui dia. That's why mungkin gue emang harus belajar Filsafat sebelum gue memulai apapun itu dalam hidup. Memulai karir dan rumah tangga. Gue perlu ketemu Bapak dulu. Gue butuh memiliki Bapak untuk menyeimbangkan hidup gue. Gue butuh seorang Bapak.

Jadi, kenapa gue dulu memilih masuk Filsafat?

Mau jadi Penulis.

Tetap dengan alesan itu?

Iya. Karna mau bikin buku, buku buat Bapak.


20180101

2018


Sering kali dalam hidup gue, hal-hal yang tadinya hanya gue pikirin dan lupa gue bawa dalam doa, tau-tau kejadian. Yang hanya selewat-selewat pengen, cuma bikin gue mencibir karna gue anggep Tuhan ngga akan ngurusin mimpi-mimpi aneh, kaya mau nikah di bulan Desember atau mau nikah di Bali (dan pake adat Bali). Ternyata selama ini gue banyak sotoy. Karena Tuhan beneran selalu ada dimana-dimana, diem-diem mengerahkan semesta bergerak ke arah yang gue mau, bahkan terhadap pikiran-pikiran yang belum sempet dibahasakan.

Dan suatu hari, di sebuah turning point di 2013, gue ambil spidol dan nyoret semua resolusi yang udah gue bikin untuk beberapa tahun ke depan. Dalam keadaan hampa, frustasi dan agak nekat. Lalu gue mulai bikin resolusi baru di kertas lain. Meskipun kertas itu akhirnya ilang seiring gue pindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain, tapi entah kenapa gue masih inget apa yang gue tulis di kertas itu, malem itu, yang sempet bikin gue nangis karna gue beneran ngga tau apa yang gue tulis.. resolusi sampai tahun 2020, yang ternyata bikin gue terus gerak sampai sekarang.

Beberapa resolusi banyak yang ngga tepat waktu, tapi entah kenapa gue tetap tenang, mungkin sebenernya gue mengetahui semesta kadang kewalahan juga bergerak untuk nurutin apa yang gue mau. Seperti mempertemukan gue dengan seseorang yang berada paling jauh dari gue.... namun gue rasa dia yang paling deket sama keseluruhan gue.. Dalam hal ini, kurang kerja keras apa coba semesta?!

Berikut Resolusi yang sudah dikondisikan, haha

Di tahun 2014,

Gue udah harus masuk BIFA untuk sekolah Pilot.

2015,

Gue udah harus lulus dari BIFA.

2016,

Gue udah harus masuk Garuda.

2017,

Gue udah harus terbang dan qualified.

2018,
Gue mau punya keluarga baru, tapi, kalo gue ngga nemu orang yang tepat, gue akan tunda beberapa tahun lagi dan ngerasa ngga akan ada masalah. Ternyata 2018 memang waktu gue memulai keluarga baru dengan seseorang yang gue ngga percaya ada orang kaya dia hidup di dunia nyata, gue pikir cuma ada di novel-novel teenlit yang suka gue baca jaman SMP. 


Gue baru sadar resolusi itu doa.
Setelah selama ini gue anggep resolusi itu hanya tujuan kemana gue arahin roda kerja keras gue. Dengan beneran menikah di tahun ini, gue ngga bisa mengkategorikan resolusi sebagai sesuatu yang sesederhana itu lagi, resolusi jadi komunikasi gue dengan semesta lewat kepala. Resolusi jadi sesuatu yang magis dengan pasti-tidak pasti. Dan gue percaya akan terus seperti itu.




Jadi, apakah lo berani menulis yang lebih dari Resolusi?




20171025

Dear, World.

Kemana 2014?
Bingung mau mulai nyeritain 2014 dari mana selain pengen banget masukin transkrip Path ke sini.

Yang jelas 2014 isinya negasi semua. S.E.M.U.A
Karena banyak bodohnya.
Banyak ngga masuk akalnya.
Meskipun banyak senengnya.

Gue keranjingan bikin BUKU ETIS selama 2014, mengingat banyak hal-hal yang ngga etis gue biarkan lewat gitu aja di depan mata. Dari mulai Pemilu, test BUMN, sampe jadi junior di sekolah penerbangan swasta yang katanya Internasional.
Well, really. i don't get it when it called International just because they're hire Flight Instructor from India, Uruguay, or England. I don't get those traditions called International, because they're too old.

Kaget.
Super kaget.
Gue pikir di jaman serba maju dan segala hal menjadi sangat mudah ketika kita pinter, udah ngga ada lagi yang namanya senioritas. And they told me, "This is Indonesian tradition." I went to their brain and ate them. Senioritas sama aja kaya penjajah, senior ngga bayar juniornya untuk melakukan sesuatu, mereka nyuruh-nyuruh atas nama senior dengan gratis, ketawa saat juniornya kesakitan, mulut junior dibungkam buat diem. Itu tradisi Belanda. Jepang. Dan negara-negara lain yang udah mengakui keusangan strategi menjajah untuk menjadi maju. Dan sekolah penerbangan Internasional mengadaptasi itu untuk diterapkan dan disebut tradisi di Indonesia.

Get well soon, sick brain.


Mellisa,

Buleleng, 7 Januari 2015

20171016

Officially Mrs. Priambada 💍

Pernah ngga sih lo, punya seseorang yang secara ngga sadar lo simpan di tempat tersendiri dalam hati lo di tengah-tengah lo bolak-balik jatuh cinta dan patah hati?

Tiba-tiba senyum pas lagi nangis sesegukan di pojokan kamar karna tau seseorang ini tiba-tiba aja cuma like foto lo, atau komen di salah satu postingan lo.

Atau sebenernya secara sadar lo mengharapkan dia maju selangkah aja supaya lo tau lo ngga ada di tempat masing-masing untuk waktu yang ngga tau mau sampai kapan.

Ini orangnya :)



Suatu hari gue ngeliat cowo di facebook. Dia adik dari salah satu dosen yang gue idolakan saat itu. Dari liat profilenya aja gue udah tau kalau cowo ini tipe gue banget. Pinter dan hangat. Saat itu seperti remaja pada umumnya gue mau tau dia lebih lanjut, maka gue sering bukain facebook dia dan menelaah dia dari segala postingan dan apa yang diposting orang tentang dia. Semua hal membuat gue jadi sadar kalo gue naksir orang di facebook, yang bahkan mungkin orang ini aja ngga tau gue. Tapi emang cowo pinter itu selalu memenangkan perhatian gue.

Bagus Dhamantra, yang secara ngga sadar gue simpan di salah satu sudut hati gue dan gue biarkan dia di sana, selama bertahun-tahun.

Di Tahun 2014 kita dipertemukan di salah satu acara dimana gue harus kerja untuk Bagus. Rasanya jangan ditanya, gue berdandan lebih cantik dari biasanya dan grogi lebih dari biasanya. Saat itu gue tau Bagus punya pacar dan yang ada dipikiran gue hanya, betapa beruntung pacarnya punya laki-laki yang ganteng, sopan, humoris dan pintar. Lalu kita pun berjalan masing-masing setelah itu dengan status stranger yang udah berubah jadi temen. Bagus orang yang punya mimpi. Gue sedikit banyak juga termotivasi karna gue adalah lingkungannya, gue mau bikin Bagus juga sedikit ngerasa bangga punya temen kaya gue seperti gue yang selalu bangga punya temen kaya dia.

Lalu suatu hari setelah 3 tahun berlalu sebagai teman yang sesekali coal-coel di sosial media, Bagus menghubungi gue dengan niat yang gue bilang agak lebih dari biasanya.. Karena kepintarannya, dia bisa nyambung sama gue, bahkan lebih punya banyak pengetahuan seputar bidang yang lagi gue tekunin saat itu. Dan suatu hari pula gue membawanya ke dalam mimpi, dan memanggil namanya lewat Line setelah bangun. Tanpa ada tujuan dan sebab juga. Hanya mau memastikan dia di sana. Dan dia ternyata masih di sana.

Hari berlalu, begitupun juga komunikasi kita. Setelah gue beberapa kali merasa gagal menjaga hubungan dan memastikan diri gue kalo gue akan baik-baik aja sendirian jalanin hidup ini, Bagus ada di situ nawarin hal lucu yang selama ini gue ignore. Pernikahan.

Yang sebenernya, secara konsep, pernikahan adalah sesuatu yang kami ngga pernah peduli, di sisi lain gue cuma ngerasa gue bisa jalanin seumur hidup gue sama dia karna dia selalu berusaha berjalan ke arah yang lebih ideal dengan isi kepalanya yang selalu bikin gue nga-nga terkagum-kagum. Belum ada seorang pun sampai ke tahap itu selama hidup gue.

Hal mengejutkan lainnya adalah... akhirnya gue menyerah dengan tembok-tembok konsep anti-pernikahan, yang sempat kami diskusikan panjang-panjang, bahwa tujuan dari pernikahan kami hanya untuk menyelamatkan status anak di kemudian hari.. Maka gue bersedia menikahinya, menikahi hidupnya dan isi kepalanya. Dengan anggapan pernikahan bukanlah hal yang cukup untuk menaungi perasaan dan pikiran kami.


Di sebuah Kantor Catatan Sipil (haha) di Kissimme, Florida, gue dan Bagus mencatatkan pernikahan kami disertai commitment ceremonial. Bahwa secara administrasi pernikahan kami legal dan dilindungi hukum.



Setelah pulang ke Michigan, Bagus bikinin gue dinner reception untuk keluarga dan kerabat terdekat, kami merayakan pencapaian komitmen kami untuk berumah tangga setelah ini. Untuk menjadi dua orang yang rela berbagi nasib dan kesunyian masing-masing.

Gue ngerasa gue lagi dipermainkan Tuhan banget, sering kali gue memincingkan mata ke langit berharap Tuhan lagi ngeliatin gue ketawa-ketawa dan gue akan bales Tuhan dengan senyum sampai nangis, Terima Kasih ya Allah.. Karena udah baik banget. Ngga ngerti lagi, kenapa selalu baik :")

Untuk seumur hidup gue, gue hanya menginginkan konsep pernikahan seperti ini, gue lakukan secara sadar, mengikat komitmen dengan orang yang akan nemenin dan gue temenin seumur hidup atas dasar cinta, dan kasih sayang. Beruntung juga kami ada di keluarga yang selalu mendukung setiap keputusan yang kami buat, yang juga ngga lupa untuk ngingetin setiap prosesi yang harus tetap dijalanin bulan Desember nanti karna banyak telinga yang harus dipuaskan dengan konsep dan perayaan Pernikahan yang berjalan sesuai norma-norma yang ada, di sini :D

Status panggilan dari Pacar jadi Istri bikin gue awal-awal suka ngakak sendiri, apaan sih gue masih mau main barbie, Bagus!!! Kamu, masak sendiri, makan sendiri, tidur sendiri, dan mandi sendiri ya.













26 September 2017

Selintingan linting.

Buset.

Ini blog udah banyak amat jaring laba-labanya. Tunggu bentar, gue panggil spiderman kali-kali aja dia butuh stok jaring laba-laba.

#KRIK

Hallo, pembaca nyasar :)
hihi..
Gue lagi sakit 4 hari ini, demam flu batuk berkepanjangan bikin gue baru bisa baca-baca lagi, nulis-nulis lagi. Setelah kemarin-kemarin gue nulis, baca dan bikin video gitu kalo instruktur lagi cuti atau kalau sched lagi khilaf kasih gue libur 3 hari.

By the wayyy.. banyak hal banget yang biasa gue share di sini setelah sekian tahun, tiba-tiba berhenti. Karena ternyata.... gue adalah orang yang lemah banget sama rasa bahagia, kalo udah seneng lupa sama diary lupa sama blog, ilang tamasya ke bulan. Tapi bahagia gue kali ini, bahagia sadar nyata ngga perlu lagi pake magic mushroom. HAHA. Dan kebahagiaan gue ternyata butuh beberapa klarifikasi mengingat banyak komen lucu yang gue terima dari beberapa mata-mata yang tersebar sejagat neraka.

Imel nikahnya pake pemberkatan ya? Imel hamil duluan ya?

Terus gue bener-bener cuma ketawa geli, dan komen, "heh, cuma gue yang boleh ngegossipin orang begitu, tau ga?" itupun gue biasanya langsung nanya sama orangnya karna kekepoan maksimal gue cuma sama orang-orang yang gue sayang.

So. Apa yang beredar ngga bener, sayang.. Jangan gitu ah.
Sentil nih.


Ini Penting.

Udah hampir setaun yang lalu gue janjiin mau bikin video tentang Fresh Graduate Pilot yang masih nganggur, mencantumkan data dan berita yang paling update. Rencananya sih tadi begitu, ternyata jalan bisa ngga semulus itu. Meskipun gue beruntung temen-temen gue yang pinter selalu bersedia bantu dan ada di kala gue harus mengalami hal-hal yang tidak gue inginkan.

Berat, iyalah pasti berat, namanya juga lagi perjuangin kepentingan orang banyak..

Sedikit cerita hal-hal yang gue lalui ini gue jalanin dan gue ikhlasin karna gue tau, tujuan gue bukan buat selamet, tapi nyelametin orang.. Jadi berbagai sindiran, diasingkan dan anceman gue anggep semuanya lepehan permen karet, gue cukup buat lewatin dan ngga nginjek biar gue terus bisa tetep jalan nyaman. Tapi namanya berjuang, ngga pernah ada yang segampang posting selfie di instagram pake seragam lengkap di cockpit dan dihiasi caption panjang-panjang jelasin hal-hal absurd kan? HAHA

Hal-hal yang bikin gue bersyukur sebenernya terjadi lebih sering daripada hal-hal bego begitu, karena sampai sejauh ini setiap gue terbang sama Kepten dan gue diskusi tentang Fresh Graduate Pilot yang nganggur, semuanya sepakat. Beberapa karna ada saudara bahkan anak yang juga lagi nganggur lama setelah keluar hampir 1M buat sekolah dan ambil rating, beberapa karna berpikir dengan logika dan akal sehat, juga beberapa ada yang justru ikut berperan aktif ikut perjuangin hal ini dan ngejelasin ke gue secara lebih rinci lagi dimana letak-letak permasalahannya.


Berkat beberapa sumber yang selalu mendukung gue untuk terus maju, gue menemukan video-video dan tulisan-tulisan yang mendukung statement gue agar gue ngga lagi dibilang HOAX, mematahkan mimpi masa depan generasi penerus bangsa, atau dibilang cari sensasi. Meskipun banyak juga yang berpikir gue seperti itu karna mereka ngga ngerti, latar belakang gue melakukan banyak himbauan semacam ini.

Gue lulus dari Flying School, Oktober 2015. Lalu ngajar simulator Cessna 172 di Simulator Center yang kebetulan berlokasi deket sama rumah gue, dari sana gue baru tau kalau ternyata profesi yang gue jalanin lancar-lancar aja ini ngga lancar buat sebagian besar yang udah lulus di sekitaran tahun itu. Gue lantas mengkhawatirkan temen satu batch gue yang juga belum dapet kontrak kerja di airlines. Lalu ada senior-senior gue. Junior-junior gue. Dan beberapa temen dari Flying School lain. Lalu sekarang adik sepupu gue.. Pikiran gue keganggu banget dan ngga tau mesti apa saat itu. Gue ngerasa keberuntungan gue yang udah di kontrak Garuda sebelum gue bahkan memulai fase Student Pilot License ngga artinya, kalau sekitar gue ternyata terpuruk seperti ini.






Video di atas gue bikin dengan sangat random, meski latar belakang gue sangat kuat. Menyinggung beberapa pihak, ya udah jelaslah. Kalo ngga ada pihak yang saya singgung namanya saya diam. Itu sih orang yang ngga berani terbang solo tapi jadi instruktur juga tau. (weheeeei imel tetep nyinyir!)

Terlepas dari beberapa Pilot yang jadi Selebgram dan sedikit punya kecenderungan Narcissistic Personality Disorder, gue mau kasih himbauan buat adik-adik atau teman-teman di luar dunia penerbangan bahwa pekerjaan Pilot ini pekerjaan yang penuh resiko namun bukan pekerjaan yang luar biasa, dan harus diagung-agungkan. Syarat jadi Pilot yang paling penting secara umum, cuma harus sehat aja kok. Meskipun mengalami banyak tambahan persyaratan, tapi serius deh, semua bisa jadi Pilot seperti semua orang bisa jadi manusia yang punya akal sehat. Cuma perkara mau atau engga.

Oia, berikut gue cantumkan beberapa sumber yang mendukung pernyataan gue dari rekan-rekan seperjuangan dan juga dari lembaga resmi seperti IPI (Ikatan Pilot Indonesia).



Tulisan oleh Mas Sathya Yupardi, BIFA Batch XXV


Tulisan dalam website IPI, mmmmm meskipun sebenernya gue agak geram sama statement pak Menteri, tapi yaudahlah sopo sing terbang sopo sing laserin hijau-hijau.


Sempet diajak gabung dalam pertemuan ini, oleh Capt Heri Martanto, tapi berhalangan karna harus trerbang :(

Dan yang terakhir yang paling lo wajib buka adalah blog di bawah ini :


Ditulis oleh Capt Heri Martanto.


Selamat menyusuri jejak-jejak kebenaran :)

20160911

Syarat.

Dentuman kaki itu mendekat ketika saya sudah balik badan.
Nadanya menjadi merdu setelah kemarin berujung gemuruh.
Ada apa?

"Aku, tidak akan lagi memaksa kamu bangun tengah malam hanya untuk mencarikan mimpiku yang hilang.. Atau sarapan dengan menu merepotkan, atau keinginanku memiliki seluruh rambut dan kulit halus lenganmu.. Atau meminta kamu tinggal di sini, di tempat yang tidak kamu kenal ini."

Saya masih bisa mengedipkan kedua mata saya dengan ritme sederhana, tanpa terbelalak.
"Kalau begitu, jadilah Imam yang baik.. Untuk calon Istrimu, bukan saya."

Karena perasaan memiliki lelah yang berujung. Dan kamu adalah pembunuhnya.

20160517

Dilematis Flying School

Hal-hal yang mengganggu di kepala sering kali keucap dua-tiga kali dalam sehari. Jadi puluhan di tiap minggunya, yang dalam hitungan bulan, bisa jadi ledakan yang ngga terarah. Gue beruntung bisa menuangkan bebas di sini, supaya kamu bisa baca.

Mungkin kedengarannya seperti mematikan mimpi-mimpi yang terlihat dekat, tapi percayalah ini hanya fase menunda untuk pertimbangan jangka panjang. Karena apa yang ditawarkan kadang tidak seindah apa yang sedang terjadi di belakang, apa yang sedang menjadi masalah dan ditutupi sedemikian cantik.

Pahit.
Tapi ketahuilah dunia penerbangan tidak sedang bahagia, terutama bagi Pilot yang baru saja lulus dari Flying School. Sebagian besar harus menunggu sambil menjalani kesibukan yang tidak ada kaitannya dengan skill yang sudah dimiliki. Kalimat "Indonesia kekurangan Pilot", menjadi pemicu yang mengundang para pemimpi untuk buru-buru sekolah di Flying School. Sementara kenyataan tidak bersinggungan di lapangan, masih banyak Pilot dengan license CPL/IR (Comercial Pilot License/Instrument Rating) bahkan ME (Multi Engine) masih "diam" menunggu untuk bekerja? Apakah 'Indonesia kekurangan Pilot' hanya sebuah dongeng indah untuk mereka yang bermimpi?

Semula, muncul banyak praduga kalau lulusan Flying School memiliki "Airlines Minded", dengan arti, jadi Pilot itu harus Pilot yang bekerja untuk Airlines, meski kenyataannya tidak melulu. Pilot lulusan Flying School bisa menjadi Pilot pesawat charter, perintis, agrikultural, rescue/ambulance, rekreasi bahkan menjadi Flight Instructor untuk Flying School. Namun, apakah serta-merta variasi profesi Pilot tersebut tidak memiliki persyaratan? Kadang yang diajukan, Pilot harus memiliki jam terbang lebih dari 500 jam, disertakan pengalaman bekerja. Itu berarti, harus tambah biaya lagi, harus membayar training demi training lagi. Tidak jarang banyak yang akhirnya kembali "Airlines Minded" saat mengetahui persyaratan yang bahkan kadang agak mengada-ada, dan berakhir dalam fase menunggu.

Untuk beberapa pemimpi, mungkin tidak pernah terbesit akan sedemikian rumit untuk menerima realitas, bahwa hidup jadi Pilot bukan hanya untuk gaya, tapi bagaimana kita bisa menghasilkan. Maka, saat memutuskan untuk sekolah di Flying School harus lebih dahulu melakukan research, tidak hanya dari social media ke social media, iklan ke iklan, pertimbangan jangka panjang harus diutamakan mengingat biaya yang tidak murah dan kondisi yang sedang terjadi adalah, cycle dalam rekruitmen Pilot sedang berputar ke bawah, terutama di Indonesia.

Namun, tidak menutup kemungkinan cycle rekruitmen Pilot dapat kembali berputar ke atas. Dimana pada masa itu, sumber daya diharapkan dapat mengisi kebutuhan Pilot dalam rangka membangun bangsa, entah itu berkerja untuk Airlines maupun profesi Pilot lain. Yang pasti dalam tulisan ini, masa itu belum hadir sekarang.

Semoga hal-hal yang mengganggu di kepala tidak hanya sepintas tersampaikan.

20160410

Tulisan di Kepala #4

"Kamu.

Bahagiain orang yang ada di depan kamu aja ngga bisa, ini udah mau mikirin orang lain berjubel yang kamu ngga kenal.",

Sri dengan nada ketus sambil mematikan TV ruang tengah, melewati bang Teuku yang tengah berada di meja kerjanya untuk menuju kamar.

Setelah masuk kamar dan menutup pintu, Sri ambruk. Tenaganya hilang melalui ucapannya tadi. Ia mulai merasakan matanya panas dan rongga dadanya ngilu. Tak lama kemudian ia mendengar suara barang-barang dibanting dan pecahan kaca bertubi-tubi. Tangisnya pun pecah mendengar suara paling menakutkan di rumah itu.

Ia bersandar di tepi kasur, membiarkan pintu tidak terkunci karena ia tahu persis, suara itu tidak akan menyakitinya. Tapi entah kenapa itu menghancurkannya. Hatinya, harapannya, waktunya, ia merasa sudah sangat terlambat untuk menyesal. Sri menangis untuk puluhan malam yang sama.

Bang Teuku sudah berhenti mengamuk di luar kamar, terdengar suara TV kembali menyala. Beberapa menit kemudian bang Teuku seperti terkekeh oleh sesuatu yang ditontonnya, Sri tau sudah waktunya ia keluar kamar untuk membereskan apa yang dibanting dan dipecahkan bang Teuku tadi.

"Sayang, besok saya jadi ya blusukan ke desa yang ada di belakang perumahan mewah proyekan Walikota itu, sedih saya liatnya."

Sri membereskan satu persatu pecahan beling dan barang-barang yang berceceran di lantai. Tersenyum, seperti tidak ada yang terjadi. Meski matanya masih basah dan sembab.

"Iya, Bang."

20160403

Tulisan di Kepala #3

"Setelah dari RS saya mau ketemu temen-temen saya, kebetulan mereka lagi ada di Jakarta.", Bang Teuku mengabari dari sebrang.

"Oh, kalo gitu anniversary dinner kita digabung aja sama temen-temen kamu?", Sri benar-benar bermaksud bertanya tanpa ada merasa kesal, namun setelah bang Teuku diam dan tidak merespon, Sri tau bahwa ia berhak kesal. "Kamu lupa ini tanggal berapa, bulan berapa dan ada apa... ya?"

Bang Teuku tidak menjawab.

"Setelah ketemu temen-temen, saya kabarin kamu lagi ya."

".........."

"Halo."

"Kamu beneran lupa."
Dalam hati Sri berharap ini hanya skenario bang Teuku untuknya. Tapi harapan itu dengan cepat ia tepis mengingat calon suaminya itu bukan tipe laki-laki yang romantis.

"Saya pikir setelah tunangan kemarin, kita udah ngga akan rayain anniversary kaya gitu lagi, Mba.", kalimat bang Teuku yang begitu tepat sesuai tebakan membuat Sri terdiam. Tidak menanggapi.

"Kabari aku ya."

Mungkin memang harus menjalani seperti ini, banyak hal membuat Sri termenung menimbang posisinya di kepala bang Teuku. Semakin ia memikirkan, semakin ia merasa banyak hal yang salah dalam hubungan yang 6 bulan lagi akan diresmikan. Semakin ia menginginkan pernikahannya, semakin ia merasa harus banyak berkorban. Termasuk mengorbankan perasaannya. Meski ia tidak pernah merasa ini merupakan sebuah keterpaksaan.

Sri pernah berpikir di sebuah malam panjang, mempersiapkan dirinya bila suatu hari harus kehilangan bang Teuku. Setidaknya, Sri belajar banyak untuk hidupnya, cara pandangnya dan prinsipnya. Bang Teuku merupakan laki-laki pertama yang bisa membuatnya percaya bahwa ada sosok yang bisa ia jadikan panutan, setelah selama ini Sri menjalani hidupnya dengan superior dan independensi tinggi. Ia tidak pernah percaya konsep Imam. Baginya kesetaraan adalah tujuan dari semuanya.

Namun dalam masa mengenal dan menginvestigasi bang Teuku, buku-buku tentang Simone de Beauvoir dan Chantal Mouffe tiba-tiba bisa sedikit membaur dengan caranya membaca kesetiaan Siti Khadijah dan keikhlasan Aisyah. Bang Teuku menempatkan dahi Sri sejajar dengannya tanpa perlu ia menunduk atau meninggi, tanpa perlu ia mencari lagi alasan.......... dan kini ia harus merombak semua teori ganjil mengenai itu. Mengenai ketakutannya terbenam di dalam perasaan yang tidak sejajar.


20160331

Tulisan di Kepala #2

Sri dan pacarnya memasuki bulan ke 11. Belum juga kupu-kupu itu penuhi rongga perut yang terasa sudah banyak bunga. Tidak pernah ada perasaan menggelitik itu sampai ke puncak. Namun Sri masih menunggu, mau menunggu, masih mau menunggu.

"Ini cuma cara kita aja yang beda. Kamu begitu caranya cinta sama saya, saya begini caranya cinta sama kamu.", terang bang Teuku sambil menyetir mobil ke arah rumah Sri. Sri selalu lupa menanyakan lebih lanjut dari begitu dan begini versi pacarnya itu, karna sebenarnya hal itu yang Sri keluhkan setiap ia merasa mengalir di arus yang tidak ia inginkan.

"Aku udah ngejalanin sama banyak mantanku. Di bulan-bulan kaya kita sekarang, itu romansanya selalu indah, Bang. Dunia milik berdua, dibungkus wallpaper cinta. Kita, ngelewatin masa-masa kasmaran aja engga, dingin.", Sri bicara sambil memandangi bang Teuku seksama.

"Kamu yang terlalu banyak nonton drama..... Drama korea."

"Atau kamu yang ngga secinta itu?"

Bang Teuku melirik. Ia menarik tangan Sri pelan agar kepala Sri mendekat ke bahunya. Ia cium kening Sri hangat. "Maksudnya ngga pernah kasmaran tuh kaya gimana sih Mba? Kamu maunya kaya gini setiap hari?"

Sri mengangguk.

"Ya udah, saya usahain."

Sri lagi-lagi lupa, janji bang Teuku belum pernah ada yang sempat ia tepati. Terlebih untuk hubungan yang sedang mereka jalani.

Sri tidak pernah benar-benar merasa didatangi kupu-kupu di perutnya, entah mungkin mati atau enggan. Bunga-bunga di dalam perutnya pun ia tanami sendiri, ia siram sendiri. Kadang merasa butuh bantuan untuk mengundang kupu-kupu datang, tapi kepada siapa. Yang ia punya sekarang, seperti tidak mau tau kupu-kupu seperti apa ditunggu Sri.

Tulisan di Kepala #1

Sri menyenderkan kepalanya ke pagar rumah sambil memainkan ponselnya. 5 menit yang lalu, sang suami, bang Teuku menelpon minta disambut di depan pagar. Setelah berganti pakaian dari daster menjadi pakaian sabrina dengan bahu terbuka, ia berlari riang keluar rumah, mengintip dari balik pagar dan suasana subuh itu masih sepi, para tetangga belum ada yang memulai aktivitas rumahnya masing-masing.

Di jam ini, beberapa kali Sri ingat menyambut bang Teuku pulang dengan tampilan cantik rambut tergerai dan baju sedikit seksi mengingat suaminya mudah tergoda olehnya. Ia mengecek wajahnya yang baru bangun namun meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia sudah cukup cantik untuk keluar rumah.

Terdengar suara mesin mobil mendekat, belum sampai di depan rumah, Sri sudah membuka pagar mempersilahkan suaminya memarkirkan mobilnya ke dalam garasi. Terlihat samar-samar wajah bang Teuku sumringah dan seperti teriak-teriak riang di dalam mobil melihat istrinya, begitupun Sri melompat-lompat kecil tidak sabar menyuruh suaminya turun dari mobil. Sudah 5 hari tidak bertemu membuat mereka seperti dua anak kecil bertemu permen dan coklat kesukaannya.

"Assalamualaikum.."
Sri mencium tangan suaminya, dan suaminya mengecup keningnya.
"Walaikumsalam...."

Sri bangun dari mimpinya.

"Kita sudah pertimbangkan resikonya sejak awal, Bang. Sejak kamu bilang, kamu sudah memasuki usia menikah. Saat itu kita dalam keadaan sadar, benar-benar sadar. Profesi dan prioritas, kita mau bilang apa sekarang karna semua sudah pernah kita sepakati.", Sri mengambil nafas. "Kamu seperti cuma mau bilang, kalau kita salah jalan..."

"Saya... hanya tidak secinta itu."

Airmata yang ia tahan selama sekian tahun, akhirnya tumpah juga. Tanpa isakan, Sri hanya terlalu siap untuk menghadapi kata-kata itu. Ia pun menandatangani gugatan cerai suaminya.

20151227

My First Time Coffee

Kehilangan daya untuk menulis ternyata mengerikan,
Sama rasanya seperti terjebak di pasar malam dengan orang yang kurang mengerti cara bahagia.
Rasanya banyak alasan untuk sekedar buang muka kala toleransi nyaris putus dan ide untuk memulai tidak lagi ada.

Kehilangan cara untuk menjelaskan apa yang tidak ada di depan mata tetapi tersusun rapih di kepala.
Kehilangan murka,
Kehilangan kata.
Mengartikan rasa jatuh cinta yang tidak lagi bisa.

Yang ingin jemari ini tau,
Ada kafein yang berhasil menembus batas untuk selamat.
Untuk menghentikan degup jantung tak bertujuan.
Dan mengakhiri dialog minta tolong.

Pertama bertemu dengan orang yang sangat mengerti apa itu bahagia,
Dalam pengaruh kopi dan percakapan sederhana.


Mellisa, 28 Desember 2015

20150913

Umur ini.

Kontemplasi adalah sujud yang paling seksi.
Renungan dengan dorongan pikiran, penghapusan penyesalan dan meletakan sasaran baru untuk ditembaki habis-habisan.
Sudah di penghujung ini, mereka bertanya, maka kelak harus buat apa lagi?

Ribuan lembaran terlepas dari bukunya, dan tidak perlu lagi berlari mengumpulkan hanya agar tidak lupa.
Hati ini menyimpan banyak proses yang berjalan tanpa perlu dicatat. Hati ini sudah kaya dengan segala rupa dunia yang ada.
Kemarin, kemarin dan kemarin.

Jiwanya sempurna, mereka berkata.
Sudah habiskan umur untuk berbuat segala yang disuka.
Sudah habiskan umur untuk hampir koleksi dosa.
Sudah habiskan umur untuk membuang yang penting dan mati untuk disiksa.
Jiwanya sempurna? mereka bertanya.

Kelak saat sudah bisa mengikhlaskan apa yang pernah tidak bisa, maka pengampunan untuk tetap berguna tidak jadi sia-sia.
Meski kadang mau lupa, bahwa tidak semua manusia punya tujuan sama.
Beberapa hanya mau bahagia. Hanya tidak ingin sengsara.
Hanya tidak ingin terus mencinta. Hanya tidak mau menunggu.
Hanya tidak mau tau. Hanya ingin jadi satu.

Hanya di umur ini, kami bisa begitu.