20180518

Musim #2



“Ada ngga sih, orang yang lebih aneh dari kamu?”, singgung Nashita sambil melirik ke arah Dhamendra lewat meja riasnya. Ia membersihkan sisa riasannya pelan-pelan dengan alis mengkerut seperti biasa.

Dhamendra tidak menjawab, sering kali pertanyaan bukan pertanyaan melainkan sarana pemicu konflik. Yang terlontar dari bibir Istrinya jelas sudah ribuan kali, sampai kini hilang makna. Nashita mengetahui dengan sangat jelas keunikan suaminya yang selalu menyita pengertian. Dhamendra yang mengunci kamar saat ia datang bersama teman-temannya, yang hanya diam dalam gelapnya kamar, dan baru keluar jika Nashita yang geram sengaja mematikan heater ruangan. Dhamendra yang tiba-tiba lupa mencabut kunci pintu rumah dari dalam karena ia keluar apartement dengan melompat keluar jendela di musim panas, yang mengakibatkan Nashita harus memanjat tangga lurus penuh resiko untuk masuk ke dalam kamarnya sendiri. Dhamendra yang memiliki musim tak tentu, musim alergi bertemu orang lain.

Meski di hari lain, Dhamendra dikenal sebagai Dhamendra yang hangat dan penolong oleh tetangga dan teman-teman Nashita. Senang menjamu, memasak, meladeni setiap diskusi sampai pernah menjadi ketua Paguyuban WNI di Minnesota. Namun entahlah, musim dingin dan musim hangatnya tidak terprediksi dan itu membuat Nashita, sebagai satu-satunya yang mengetahui hal ini merasa tidak habis pikir.

“Kamu katanya mau jadi Menteri, kan ngga bisa kaya gini terus?”

“Kan ada kamu.”

“Kalo ngga ada aku?”

“Bilang aja ngga enak badan.”

Nashita memutar matanya. “Kamu tau ini aneh banget kan ya? Aneh banget.”

“Kamu mau sampai kapan sih memilih buat ngga kenal aku?”, Dhamendra tiba-tiba menatap Nashita balik melalui cerminnya. Tatapannya menjelaskan banyak hal yang diketahui Nashita, namun tidak bisa ia terima. Tidak bisa ia maklumi, hanya karena terlalu banyak kerepotan yang diakibatkan. Hanya karena Nashita tidak pernah bertemu manusia seunik ini.

“Sampai musim dingin ini selesai.”, jawab Nashita melengos keluar kamar. Hanya karena hal ini, ia tidak mau ada di satu ruangan dengan Dhamendra.

“Musim dingin kita ngga akan pernah selesai.”

No comments: