"Kamu.
Bahagiain orang yang ada di depan kamu aja ngga bisa, ini udah mau mikirin orang lain berjubel yang kamu ngga kenal.",
Sri dengan nada ketus sambil mematikan TV ruang tengah, melewati bang Teuku yang tengah berada di meja kerjanya untuk menuju kamar.
Setelah masuk kamar dan menutup pintu, Sri ambruk. Tenaganya hilang melalui ucapannya tadi. Ia mulai merasakan matanya panas dan rongga dadanya ngilu. Tak lama kemudian ia mendengar suara barang-barang dibanting dan pecahan kaca bertubi-tubi. Tangisnya pun pecah mendengar suara paling menakutkan di rumah itu.
Ia bersandar di tepi kasur, membiarkan pintu tidak terkunci karena ia tahu persis, suara itu tidak akan menyakitinya. Tapi entah kenapa itu menghancurkannya. Hatinya, harapannya, waktunya, ia merasa sudah sangat terlambat untuk menyesal. Sri menangis untuk puluhan malam yang sama.
Bang Teuku sudah berhenti mengamuk di luar kamar, terdengar suara TV kembali menyala. Beberapa menit kemudian bang Teuku seperti terkekeh oleh sesuatu yang ditontonnya, Sri tau sudah waktunya ia keluar kamar untuk membereskan apa yang dibanting dan dipecahkan bang Teuku tadi.
"Sayang, besok saya jadi ya blusukan ke desa yang ada di belakang perumahan mewah proyekan Walikota itu, sedih saya liatnya."
Sri membereskan satu persatu pecahan beling dan barang-barang yang berceceran di lantai. Tersenyum, seperti tidak ada yang terjadi. Meski matanya masih basah dan sembab.
"Iya, Bang."
Showing posts with label Andai Jadi Penulis. Show all posts
Showing posts with label Andai Jadi Penulis. Show all posts
20160410
20160403
Tulisan di Kepala #3
"Setelah dari RS saya mau ketemu temen-temen saya, kebetulan mereka lagi ada di Jakarta.", Bang Teuku mengabari dari sebrang.
"Oh, kalo gitu anniversary dinner kita digabung aja sama temen-temen kamu?", Sri benar-benar bermaksud bertanya tanpa ada merasa kesal, namun setelah bang Teuku diam dan tidak merespon, Sri tau bahwa ia berhak kesal. "Kamu lupa ini tanggal berapa, bulan berapa dan ada apa... ya?"
Bang Teuku tidak menjawab.
"Setelah ketemu temen-temen, saya kabarin kamu lagi ya."
".........."
"Halo."
"Kamu beneran lupa."
Dalam hati Sri berharap ini hanya skenario bang Teuku untuknya. Tapi harapan itu dengan cepat ia tepis mengingat calon suaminya itu bukan tipe laki-laki yang romantis.
"Saya pikir setelah tunangan kemarin, kita udah ngga akan rayain anniversary kaya gitu lagi, Mba.", kalimat bang Teuku yang begitu tepat sesuai tebakan membuat Sri terdiam. Tidak menanggapi.
"Kabari aku ya."
Mungkin memang harus menjalani seperti ini, banyak hal membuat Sri termenung menimbang posisinya di kepala bang Teuku. Semakin ia memikirkan, semakin ia merasa banyak hal yang salah dalam hubungan yang 6 bulan lagi akan diresmikan. Semakin ia menginginkan pernikahannya, semakin ia merasa harus banyak berkorban. Termasuk mengorbankan perasaannya. Meski ia tidak pernah merasa ini merupakan sebuah keterpaksaan.
Sri pernah berpikir di sebuah malam panjang, mempersiapkan dirinya bila suatu hari harus kehilangan bang Teuku. Setidaknya, Sri belajar banyak untuk hidupnya, cara pandangnya dan prinsipnya. Bang Teuku merupakan laki-laki pertama yang bisa membuatnya percaya bahwa ada sosok yang bisa ia jadikan panutan, setelah selama ini Sri menjalani hidupnya dengan superior dan independensi tinggi. Ia tidak pernah percaya konsep Imam. Baginya kesetaraan adalah tujuan dari semuanya.
Namun dalam masa mengenal dan menginvestigasi bang Teuku, buku-buku tentang Simone de Beauvoir dan Chantal Mouffe tiba-tiba bisa sedikit membaur dengan caranya membaca kesetiaan Siti Khadijah dan keikhlasan Aisyah. Bang Teuku menempatkan dahi Sri sejajar dengannya tanpa perlu ia menunduk atau meninggi, tanpa perlu ia mencari lagi alasan.......... dan kini ia harus merombak semua teori ganjil mengenai itu. Mengenai ketakutannya terbenam di dalam perasaan yang tidak sejajar.
"Oh, kalo gitu anniversary dinner kita digabung aja sama temen-temen kamu?", Sri benar-benar bermaksud bertanya tanpa ada merasa kesal, namun setelah bang Teuku diam dan tidak merespon, Sri tau bahwa ia berhak kesal. "Kamu lupa ini tanggal berapa, bulan berapa dan ada apa... ya?"
Bang Teuku tidak menjawab.
"Setelah ketemu temen-temen, saya kabarin kamu lagi ya."
".........."
"Halo."
"Kamu beneran lupa."
Dalam hati Sri berharap ini hanya skenario bang Teuku untuknya. Tapi harapan itu dengan cepat ia tepis mengingat calon suaminya itu bukan tipe laki-laki yang romantis.
"Saya pikir setelah tunangan kemarin, kita udah ngga akan rayain anniversary kaya gitu lagi, Mba.", kalimat bang Teuku yang begitu tepat sesuai tebakan membuat Sri terdiam. Tidak menanggapi.
"Kabari aku ya."
Mungkin memang harus menjalani seperti ini, banyak hal membuat Sri termenung menimbang posisinya di kepala bang Teuku. Semakin ia memikirkan, semakin ia merasa banyak hal yang salah dalam hubungan yang 6 bulan lagi akan diresmikan. Semakin ia menginginkan pernikahannya, semakin ia merasa harus banyak berkorban. Termasuk mengorbankan perasaannya. Meski ia tidak pernah merasa ini merupakan sebuah keterpaksaan.
Sri pernah berpikir di sebuah malam panjang, mempersiapkan dirinya bila suatu hari harus kehilangan bang Teuku. Setidaknya, Sri belajar banyak untuk hidupnya, cara pandangnya dan prinsipnya. Bang Teuku merupakan laki-laki pertama yang bisa membuatnya percaya bahwa ada sosok yang bisa ia jadikan panutan, setelah selama ini Sri menjalani hidupnya dengan superior dan independensi tinggi. Ia tidak pernah percaya konsep Imam. Baginya kesetaraan adalah tujuan dari semuanya.
Namun dalam masa mengenal dan menginvestigasi bang Teuku, buku-buku tentang Simone de Beauvoir dan Chantal Mouffe tiba-tiba bisa sedikit membaur dengan caranya membaca kesetiaan Siti Khadijah dan keikhlasan Aisyah. Bang Teuku menempatkan dahi Sri sejajar dengannya tanpa perlu ia menunduk atau meninggi, tanpa perlu ia mencari lagi alasan.......... dan kini ia harus merombak semua teori ganjil mengenai itu. Mengenai ketakutannya terbenam di dalam perasaan yang tidak sejajar.
20160331
Tulisan di Kepala #2
Sri dan pacarnya memasuki bulan ke 11. Belum juga kupu-kupu itu penuhi rongga perut yang terasa sudah banyak bunga. Tidak pernah ada perasaan menggelitik itu sampai ke puncak. Namun Sri masih menunggu, mau menunggu, masih mau menunggu.
"Ini cuma cara kita aja yang beda. Kamu begitu caranya cinta sama saya, saya begini caranya cinta sama kamu.", terang bang Teuku sambil menyetir mobil ke arah rumah Sri. Sri selalu lupa menanyakan lebih lanjut dari begitu dan begini versi pacarnya itu, karna sebenarnya hal itu yang Sri keluhkan setiap ia merasa mengalir di arus yang tidak ia inginkan.
"Aku udah ngejalanin sama banyak mantanku. Di bulan-bulan kaya kita sekarang, itu romansanya selalu indah, Bang. Dunia milik berdua, dibungkus wallpaper cinta. Kita, ngelewatin masa-masa kasmaran aja engga, dingin.", Sri bicara sambil memandangi bang Teuku seksama.
"Kamu yang terlalu banyak nonton drama..... Drama korea."
"Atau kamu yang ngga secinta itu?"
Bang Teuku melirik. Ia menarik tangan Sri pelan agar kepala Sri mendekat ke bahunya. Ia cium kening Sri hangat. "Maksudnya ngga pernah kasmaran tuh kaya gimana sih Mba? Kamu maunya kaya gini setiap hari?"
Sri mengangguk.
"Ya udah, saya usahain."
Sri lagi-lagi lupa, janji bang Teuku belum pernah ada yang sempat ia tepati. Terlebih untuk hubungan yang sedang mereka jalani.
Sri tidak pernah benar-benar merasa didatangi kupu-kupu di perutnya, entah mungkin mati atau enggan. Bunga-bunga di dalam perutnya pun ia tanami sendiri, ia siram sendiri. Kadang merasa butuh bantuan untuk mengundang kupu-kupu datang, tapi kepada siapa. Yang ia punya sekarang, seperti tidak mau tau kupu-kupu seperti apa ditunggu Sri.
"Ini cuma cara kita aja yang beda. Kamu begitu caranya cinta sama saya, saya begini caranya cinta sama kamu.", terang bang Teuku sambil menyetir mobil ke arah rumah Sri. Sri selalu lupa menanyakan lebih lanjut dari begitu dan begini versi pacarnya itu, karna sebenarnya hal itu yang Sri keluhkan setiap ia merasa mengalir di arus yang tidak ia inginkan.
"Aku udah ngejalanin sama banyak mantanku. Di bulan-bulan kaya kita sekarang, itu romansanya selalu indah, Bang. Dunia milik berdua, dibungkus wallpaper cinta. Kita, ngelewatin masa-masa kasmaran aja engga, dingin.", Sri bicara sambil memandangi bang Teuku seksama.
"Kamu yang terlalu banyak nonton drama..... Drama korea."
"Atau kamu yang ngga secinta itu?"
Bang Teuku melirik. Ia menarik tangan Sri pelan agar kepala Sri mendekat ke bahunya. Ia cium kening Sri hangat. "Maksudnya ngga pernah kasmaran tuh kaya gimana sih Mba? Kamu maunya kaya gini setiap hari?"
Sri mengangguk.
"Ya udah, saya usahain."
Sri lagi-lagi lupa, janji bang Teuku belum pernah ada yang sempat ia tepati. Terlebih untuk hubungan yang sedang mereka jalani.
Sri tidak pernah benar-benar merasa didatangi kupu-kupu di perutnya, entah mungkin mati atau enggan. Bunga-bunga di dalam perutnya pun ia tanami sendiri, ia siram sendiri. Kadang merasa butuh bantuan untuk mengundang kupu-kupu datang, tapi kepada siapa. Yang ia punya sekarang, seperti tidak mau tau kupu-kupu seperti apa ditunggu Sri.
Tulisan di Kepala #1
Sri menyenderkan kepalanya ke pagar rumah sambil memainkan ponselnya. 5 menit yang lalu, sang suami, bang Teuku menelpon minta disambut di depan pagar. Setelah berganti pakaian dari daster menjadi pakaian sabrina dengan bahu terbuka, ia berlari riang keluar rumah, mengintip dari balik pagar dan suasana subuh itu masih sepi, para tetangga belum ada yang memulai aktivitas rumahnya masing-masing.
Di jam ini, beberapa kali Sri ingat menyambut bang Teuku pulang dengan tampilan cantik rambut tergerai dan baju sedikit seksi mengingat suaminya mudah tergoda olehnya. Ia mengecek wajahnya yang baru bangun namun meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia sudah cukup cantik untuk keluar rumah.
Terdengar suara mesin mobil mendekat, belum sampai di depan rumah, Sri sudah membuka pagar mempersilahkan suaminya memarkirkan mobilnya ke dalam garasi. Terlihat samar-samar wajah bang Teuku sumringah dan seperti teriak-teriak riang di dalam mobil melihat istrinya, begitupun Sri melompat-lompat kecil tidak sabar menyuruh suaminya turun dari mobil. Sudah 5 hari tidak bertemu membuat mereka seperti dua anak kecil bertemu permen dan coklat kesukaannya.
"Assalamualaikum.."
Sri mencium tangan suaminya, dan suaminya mengecup keningnya.
"Walaikumsalam...."
Sri bangun dari mimpinya.
"Kita sudah pertimbangkan resikonya sejak awal, Bang. Sejak kamu bilang, kamu sudah memasuki usia menikah. Saat itu kita dalam keadaan sadar, benar-benar sadar. Profesi dan prioritas, kita mau bilang apa sekarang karna semua sudah pernah kita sepakati.", Sri mengambil nafas. "Kamu seperti cuma mau bilang, kalau kita salah jalan..."
"Saya... hanya tidak secinta itu."
Airmata yang ia tahan selama sekian tahun, akhirnya tumpah juga. Tanpa isakan, Sri hanya terlalu siap untuk menghadapi kata-kata itu. Ia pun menandatangani gugatan cerai suaminya.
Di jam ini, beberapa kali Sri ingat menyambut bang Teuku pulang dengan tampilan cantik rambut tergerai dan baju sedikit seksi mengingat suaminya mudah tergoda olehnya. Ia mengecek wajahnya yang baru bangun namun meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia sudah cukup cantik untuk keluar rumah.
Terdengar suara mesin mobil mendekat, belum sampai di depan rumah, Sri sudah membuka pagar mempersilahkan suaminya memarkirkan mobilnya ke dalam garasi. Terlihat samar-samar wajah bang Teuku sumringah dan seperti teriak-teriak riang di dalam mobil melihat istrinya, begitupun Sri melompat-lompat kecil tidak sabar menyuruh suaminya turun dari mobil. Sudah 5 hari tidak bertemu membuat mereka seperti dua anak kecil bertemu permen dan coklat kesukaannya.
"Assalamualaikum.."
Sri mencium tangan suaminya, dan suaminya mengecup keningnya.
"Walaikumsalam...."
Sri bangun dari mimpinya.
"Kita sudah pertimbangkan resikonya sejak awal, Bang. Sejak kamu bilang, kamu sudah memasuki usia menikah. Saat itu kita dalam keadaan sadar, benar-benar sadar. Profesi dan prioritas, kita mau bilang apa sekarang karna semua sudah pernah kita sepakati.", Sri mengambil nafas. "Kamu seperti cuma mau bilang, kalau kita salah jalan..."
"Saya... hanya tidak secinta itu."
Airmata yang ia tahan selama sekian tahun, akhirnya tumpah juga. Tanpa isakan, Sri hanya terlalu siap untuk menghadapi kata-kata itu. Ia pun menandatangani gugatan cerai suaminya.
20150913
Umur ini.
Kontemplasi adalah sujud yang paling seksi.
Renungan dengan dorongan pikiran, penghapusan penyesalan dan meletakan sasaran baru untuk ditembaki habis-habisan.
Sudah di penghujung ini, mereka bertanya, maka kelak harus buat apa lagi?
Ribuan lembaran terlepas dari bukunya, dan tidak perlu lagi berlari mengumpulkan hanya agar tidak lupa.
Hati ini menyimpan banyak proses yang berjalan tanpa perlu dicatat. Hati ini sudah kaya dengan segala rupa dunia yang ada.
Kemarin, kemarin dan kemarin.
Jiwanya sempurna, mereka berkata.
Sudah habiskan umur untuk berbuat segala yang disuka.
Sudah habiskan umur untuk hampir koleksi dosa.
Sudah habiskan umur untuk membuang yang penting dan mati untuk disiksa.
Jiwanya sempurna? mereka bertanya.
Kelak saat sudah bisa mengikhlaskan apa yang pernah tidak bisa, maka pengampunan untuk tetap berguna tidak jadi sia-sia.
Meski kadang mau lupa, bahwa tidak semua manusia punya tujuan sama.
Beberapa hanya mau bahagia. Hanya tidak ingin sengsara.
Hanya tidak ingin terus mencinta. Hanya tidak mau menunggu.
Hanya tidak mau tau. Hanya ingin jadi satu.
Hanya di umur ini, kami bisa begitu.
20150318
Marah
Jangan ajak saya berenang di parit yang sempit dan kotor saat seharusnya saya bisa renangi samudra dengan warna tosca dan bau surga. Dengan absurditas minimal dan cerita-cerita yang masuk akal. Jangan ajak saya bergurau tentang hidup saat seharusnya saya bergurau tentang semesta dan bulan. Yang tidak mungkin bisa saya atur keindahan dan terang cahayanya. Ajak saya bicara tentang sesuatu yang liar dan ada di luar nalar. Saya suka melompati garis yang dibuat untuk mengatur dan membatasi senang. Saya suka kamu tanpa pakaian.
Karna pakaian itu tidak cocok kamu kenakan di pantai dengan lima matahari.
Pakaian itu tidak bicara banyak tapi terdengar paling merdu saat benar-benar diam. Pakaian yang kamu kenakan usang dan pernah aku buang.
Apa yang melekat membuat kamu tidak seseksi saat kamu telanjang.
Jangan marah.
Saya tidak sedang menggoda. Hanya menawarkan logika yang ada.
20150131
Sabar
Kami selalu mengakhiri pembicaraan dengan dingin akhir-akhir ini,
Tidak sadar bahwa jarak semakin lama semakin berarti.
Atau kami hanya kalah melawan benci yang suka datang sembarangan dan pergi tanpa permisi.
Tapi saya tau,
Kalau itu bukan dia, maka saya tidak sesederhana itu mengulur waktu dan memintanya menunggu.
Saya pasti sudah jauh-jauh hari minta dia pergi.
Tapi ternyata dia yang kurang tau,
Bahwa disetiap keluhannya, saya pun mengeluhkan hal yang sama.
Disetiap sabarnya, saya juga ingin berontak untuk bertanya 'kenapa'.
Sabar,
Orang sabar akan selamanya diminta sabar.
Tidak sadar bahwa jarak semakin lama semakin berarti.
Atau kami hanya kalah melawan benci yang suka datang sembarangan dan pergi tanpa permisi.
Tapi saya tau,
Kalau itu bukan dia, maka saya tidak sesederhana itu mengulur waktu dan memintanya menunggu.
Saya pasti sudah jauh-jauh hari minta dia pergi.
Tapi ternyata dia yang kurang tau,
Bahwa disetiap keluhannya, saya pun mengeluhkan hal yang sama.
Disetiap sabarnya, saya juga ingin berontak untuk bertanya 'kenapa'.
Sabar,
Orang sabar akan selamanya diminta sabar.
20120219
Gerbong Khusus Wanita
Menunggu di balik garis putih antrian paling ujung dari stasiun adalah hal yang dilakukan perempuan-perempuan penunggu gerbong khusus wanita.
Mereka yang mencari keamanan dari makhluk mengancam bernama laki-laki yang menjamur di gerbong lain. Mereka yang mengalami pengalaman tidak ingin diingat karna makhluk tidak berhati bernama laki-laki. Mereka yang tidak nyaman bersentuhan dengan makhluk yang tidak punya moral bernama laki-laki. Mereka yang terusik menjadi tontonan oleh makhluk hidung belang bernama laki-laki. Mereka yang hanya punya airmata saat makhluk bernama laki-laki melakukan apa yang mereka khawatirkan.
Mungkin ada makhluk pengancam, tidak berhati, tidak bermoral, berhidung belang bernama laki-laki yang bertugas melindungi. Ia barangkali menunggu di rumah. Bukan di kereta ini.
Menunggu di balik garis putih antrian suka-suka dari stasiun adalah hal yang dilakukan para lelaki yang menguasai satu kereta kecuali gerbong khusus wanita.
Tahukah mereka, makhluk indah bernama perempuan, bahwa mereka sangat menarik untuk didekati. Tidakkah mereka ingin pindah ke Gerbong kami? Tahukah mereka, makhluk berhati bernama perempuan, bahwa menyenangkan untuk membuat mereka tertawa dan menyedihkan ketika melihat mereka menangis? Tahukah mereka, mahkluk penuh moral bernama perempuan, bahwa mereka sangat anggun saat mereka menyapa bocah-bocah kecil yang mereka temui di gerbong dengan senyum keibuan? Tahukah mereka, makhluk santun bernama perempuan, bahwa mereka begitu cantik, begitu menyita perhatian, tahukah bahwa pandangan kagum ini tidak bisa hilang meskipun kaca tebal memisahkan gerbong ini dengan gerbong milik mereka? Tahukah mereka, kami bersedih harus terus disebut mengancam.
Mungkin ada makhluk indah, menarik, berhati lembut, yang santun, dan cantik bernama perempuan yang tidak merasa terancam. Ia barangkali menunggu di rumah, bukan di gerbong sebelah.
Mereka yang mencari keamanan dari makhluk mengancam bernama laki-laki yang menjamur di gerbong lain. Mereka yang mengalami pengalaman tidak ingin diingat karna makhluk tidak berhati bernama laki-laki. Mereka yang tidak nyaman bersentuhan dengan makhluk yang tidak punya moral bernama laki-laki. Mereka yang terusik menjadi tontonan oleh makhluk hidung belang bernama laki-laki. Mereka yang hanya punya airmata saat makhluk bernama laki-laki melakukan apa yang mereka khawatirkan.
Mungkin ada makhluk pengancam, tidak berhati, tidak bermoral, berhidung belang bernama laki-laki yang bertugas melindungi. Ia barangkali menunggu di rumah. Bukan di kereta ini.
* * *
Menunggu di balik garis putih antrian suka-suka dari stasiun adalah hal yang dilakukan para lelaki yang menguasai satu kereta kecuali gerbong khusus wanita.
Tahukah mereka, makhluk indah bernama perempuan, bahwa mereka sangat menarik untuk didekati. Tidakkah mereka ingin pindah ke Gerbong kami? Tahukah mereka, makhluk berhati bernama perempuan, bahwa menyenangkan untuk membuat mereka tertawa dan menyedihkan ketika melihat mereka menangis? Tahukah mereka, mahkluk penuh moral bernama perempuan, bahwa mereka sangat anggun saat mereka menyapa bocah-bocah kecil yang mereka temui di gerbong dengan senyum keibuan? Tahukah mereka, makhluk santun bernama perempuan, bahwa mereka begitu cantik, begitu menyita perhatian, tahukah bahwa pandangan kagum ini tidak bisa hilang meskipun kaca tebal memisahkan gerbong ini dengan gerbong milik mereka? Tahukah mereka, kami bersedih harus terus disebut mengancam.
Mungkin ada makhluk indah, menarik, berhati lembut, yang santun, dan cantik bernama perempuan yang tidak merasa terancam. Ia barangkali menunggu di rumah, bukan di gerbong sebelah.
Mellisa Anggiarti, 19 Februari 2012
20120121
i called it, goodbye.
Aku jatuh cinta pada pandangan pertama,
kedua,
tiga tahun belakangan sampai aku benar-benar tidak ingin lagi.
Aku patah hati pada pandangan ketiga,
keempat,
sampai tiga tahun terakhir kami.
Hari ini anniversary kami yang ke 6. Tidak ada alasan untuk tidak merayakan di restoran tempat pertama kali kami berkencan. Raga memakai jasnya, ia tampak berubah dari 6 tahun yang lalu saat ia masih mengenakan kaos berkerah dan rambut gondrongnya yang kini ia potong habis. Ia sudah 28 tahun sekarang, bukan lagi laki-laki kuliahan yang hilang tujuan.
"Aku tidak menyangka tempat ini masih tidak berubah dari terakhir kita ke sini tahun kemarin.", Raga nampak berbisik di depanku. "Bahkan dari 6 tahun yang lalu. Yang punya tempat ini konservatif."
"Bukan konservatif, mungkin yang punya terlalu cinta, sampai dia tidak mau ada yang berubah sama sekali dari tempat ini, seperti pertama kali dia jatuh cinta.", aku menjawab sambil membuka-buka pilihan menu.
Raga memajukan kepalanya sedikit ke arahku. "Seperti cintamu padaku kan?"
Aku meliriknya sedikit. Tidak kujawab, sampai akhirnya ku turunkan menu di atas meja dan menatapnya lekat, untuk memastikan bahwa ia masih menunggu jawabanku. "Andai tidak ada perubahan itu, Raga. Mungkin arus itu masih terasa sama, bahkan seperti saat pertama kali aku melihatmu di kampus."
"Maksudmu?"
"Karna semua sudah berubah, Raga."
"Maksudmu?", tanya Raga lagi dan lagi. Ia memundurkan kepalanya, tapi tatapannya ku rasa semakin mendekat. Aku tahu ini waktunya. Saat aku pikir aku sudah siap untuk benar-benar berpisah dengannya. Setelah hampir tiga tahun ku pelajari hilangnya rasa ini.
Aku memanggil salah satu pelayan untuk mencatat pesanan kami. Tidak bisa berlama-lama duduk tanpa memesan apa-apa. Raga tetap diam, ia menanti jawabanku. Akhirnya aku pesankan salah satu favoritnya, untuk sekedar berada di sampingnya, syukur-syukur ia minum nanti. Satu cup hangat Cappucino dan cup hangat Green Tea latte untukku.
"Nay, maksud kamu?", ia mencoba mengembalikan pertanyaannya, tak sabar.
"Aku melewati 3 tahun dengan mencintai kamu, dan 3 tahun untuk benar-benar melupakanmu.", mulaiku. Aku bahkan membiarkan bibir ini mengeluarkan apa saja yang ingin ku keluarkan. Tidak peduli Raga akan sakit, atau tidak.
"Melupakan apa? Kita sama-sama, Nay?"
"Ingat terakhir kali aku menangis?"
Raga mengerutkan keningnya. "Untuk apa aku harus mengingat hal yang sudah lama--
"Itu yang merubah kita, Raga.", potongku. "Tiga tahun pertama, aku yang sering menangisimu. Kamu yang berubah jadi tidak ingin ingat apa-apa. Kita tidak pernah bisa membicarakan hal-hal di belakang, karna kamu selalu bilang sudah lupa. Saat pertama kali kamu menghancurkan dongengku, ingat?"
"Nay, kamu mau kita bertengkar di sini?"
"Tidak. Kita bisa membicarakan ini baik-baik."
"Kamu tau kan aku....", Raga tampak frustasi. Ia menghela nafas. "Oke. Saat itu kamu bilang aku selingkuh, hanya karna aku menanyakan kabar mantanku, lalu, maumu sekarang adalah?"
"Aku tidak bisa bersamamu lagi, Raga."
"Kamu mau kita putus? Lagi?"
"Kamu ingat terakhir kali aku begini?"
"Kanaya, stop!!", Raga meninggikan suaranya. "Kamu bener-bener bikin aku gila. Bisa kamu berhenti mengucapkan kata-kata 'kamu ingat?' 'kamu ingat?' aku ngga inget apa-apa, Nay!"
Aku menegakan sandaranku. Raga masih mencak-mencak di depanku.
"Sebelum ini kita baik-baik aja, itu yang aku ingat.", lanjutnya.
"Ya. Semua baik-baik aja. Kamu dengan hidupmu dan aku dengan hidupku. Yang menyatukan kita hanya, kata-kata 'i love you' yang aku sendiri tidak mengerti apa aku masih merasakan hal itu sama kamu, atau itu jadi kebiasaan kita yang tidak bisa hilang. Raga, mungkin menurutmu ini aneh. Tapi rasa ingin berpisah sudah aku rasakan bertahun-tahun kemarin. Tapi aku menyadari, aku tidak bisa melewati perpisahan yang aku sendiri tidak siap. Maka aku benar-benar menyiapkan diri, untuk hari ini."
Raga masih diam. Menyimakku.
"Kamu pernah dengar, dalam sebuah pernikahan butuh setidaknya 10 tahun untuk benar-benar menyelesaikan suatu perceraian. Pasangan yang bijak, adalah pasangan tetap bersama dalam 10 tahun tersebut sampai benar-benar selesai, dan kembali ke hidup masing-masing. Dengan bersamamu 3 tahun kemarin, aku merasa benar-benar siap untuk menyelesaikan ini semua."
"Dengar. Satu hal, Kanaya. Pasangan cerai tersebut dalam kesepakatan selama 10 tahun untuk membenahi sampai akhirnya berpisah. Tapi kamu, kamu tidak dalam kesepakatan bersamaku. Untuk berpisah. Ini dua hal yang...", Raga memutar matanya.
"Apa kamu pernah mendengarku untuk membuat kesepakatan?"
Raga diam, ia berpikir. Terlalu lama menunggu jawabannya, aku menghela nafas.
"Yang akan kamu ucapkan setelah mendengarku hanya, 'aku baru menemukan pemikiran ini, sungguh aneh' apa kamu pikir aku salah bila akhirnya aku memutuskan untuk menyepakatinya dengan diriku sendiri? Kita bukan pasangan bijak. Tapi aku ingin bijak atas diriku sendiri. Aku patah hati, Raga. Aku kecewa kamu berubah dari sejak 3 tahun kita pacaran, tapi aku mencintaimu. Bila aku meninggalkanmu saat itu, aku bisa bayangkan aku adalah gadis terpatah hati yang tidak mau makan, minum, susah tidur dan terus memikirkanmu. Maka aku bertahan. Aku mempersiapkan diri untuk benar-benar bisa denganmu atau tanpamu. Dan itu lebih membantu. Aku bahkan siap untuk hari ini dan ke depannya."
"Kamu egois."
"Ya, aku akui aku egois. Menyelamatkan hatiku sendiri bukan? Tapi siapa yang akan menyelamatkannya bila bukan aku sendiri, Raga?"
Raga diam. Bertepatan dengan itu pesanan kami datang.
"Kamu bahkan masih memesankan Cappucino untukku, Nay?"
"Kalau kamu masih ingat, aku adalah orang yang paling hafal apa yang orang lain sukai, meskipun orang itu baru pertama kali aku temui. Kita berbanding terbalik, aku yang ingin mengingat semuanya, dan kamu yang ingin melupakan semuanya."
10 November 2011
kedua,
tiga tahun belakangan sampai aku benar-benar tidak ingin lagi.
Aku patah hati pada pandangan ketiga,
keempat,
sampai tiga tahun terakhir kami.
Hari ini anniversary kami yang ke 6. Tidak ada alasan untuk tidak merayakan di restoran tempat pertama kali kami berkencan. Raga memakai jasnya, ia tampak berubah dari 6 tahun yang lalu saat ia masih mengenakan kaos berkerah dan rambut gondrongnya yang kini ia potong habis. Ia sudah 28 tahun sekarang, bukan lagi laki-laki kuliahan yang hilang tujuan.
"Aku tidak menyangka tempat ini masih tidak berubah dari terakhir kita ke sini tahun kemarin.", Raga nampak berbisik di depanku. "Bahkan dari 6 tahun yang lalu. Yang punya tempat ini konservatif."
"Bukan konservatif, mungkin yang punya terlalu cinta, sampai dia tidak mau ada yang berubah sama sekali dari tempat ini, seperti pertama kali dia jatuh cinta.", aku menjawab sambil membuka-buka pilihan menu.
Raga memajukan kepalanya sedikit ke arahku. "Seperti cintamu padaku kan?"
Aku meliriknya sedikit. Tidak kujawab, sampai akhirnya ku turunkan menu di atas meja dan menatapnya lekat, untuk memastikan bahwa ia masih menunggu jawabanku. "Andai tidak ada perubahan itu, Raga. Mungkin arus itu masih terasa sama, bahkan seperti saat pertama kali aku melihatmu di kampus."
"Maksudmu?"
"Karna semua sudah berubah, Raga."
"Maksudmu?", tanya Raga lagi dan lagi. Ia memundurkan kepalanya, tapi tatapannya ku rasa semakin mendekat. Aku tahu ini waktunya. Saat aku pikir aku sudah siap untuk benar-benar berpisah dengannya. Setelah hampir tiga tahun ku pelajari hilangnya rasa ini.
Aku memanggil salah satu pelayan untuk mencatat pesanan kami. Tidak bisa berlama-lama duduk tanpa memesan apa-apa. Raga tetap diam, ia menanti jawabanku. Akhirnya aku pesankan salah satu favoritnya, untuk sekedar berada di sampingnya, syukur-syukur ia minum nanti. Satu cup hangat Cappucino dan cup hangat Green Tea latte untukku.
"Nay, maksud kamu?", ia mencoba mengembalikan pertanyaannya, tak sabar.
"Aku melewati 3 tahun dengan mencintai kamu, dan 3 tahun untuk benar-benar melupakanmu.", mulaiku. Aku bahkan membiarkan bibir ini mengeluarkan apa saja yang ingin ku keluarkan. Tidak peduli Raga akan sakit, atau tidak.
"Melupakan apa? Kita sama-sama, Nay?"
"Ingat terakhir kali aku menangis?"
Raga mengerutkan keningnya. "Untuk apa aku harus mengingat hal yang sudah lama--
"Itu yang merubah kita, Raga.", potongku. "Tiga tahun pertama, aku yang sering menangisimu. Kamu yang berubah jadi tidak ingin ingat apa-apa. Kita tidak pernah bisa membicarakan hal-hal di belakang, karna kamu selalu bilang sudah lupa. Saat pertama kali kamu menghancurkan dongengku, ingat?"
"Nay, kamu mau kita bertengkar di sini?"
"Tidak. Kita bisa membicarakan ini baik-baik."
"Kamu tau kan aku....", Raga tampak frustasi. Ia menghela nafas. "Oke. Saat itu kamu bilang aku selingkuh, hanya karna aku menanyakan kabar mantanku, lalu, maumu sekarang adalah?"
"Aku tidak bisa bersamamu lagi, Raga."
"Kamu mau kita putus? Lagi?"
"Kamu ingat terakhir kali aku begini?"
"Kanaya, stop!!", Raga meninggikan suaranya. "Kamu bener-bener bikin aku gila. Bisa kamu berhenti mengucapkan kata-kata 'kamu ingat?' 'kamu ingat?' aku ngga inget apa-apa, Nay!"
Aku menegakan sandaranku. Raga masih mencak-mencak di depanku.
"Sebelum ini kita baik-baik aja, itu yang aku ingat.", lanjutnya.
"Ya. Semua baik-baik aja. Kamu dengan hidupmu dan aku dengan hidupku. Yang menyatukan kita hanya, kata-kata 'i love you' yang aku sendiri tidak mengerti apa aku masih merasakan hal itu sama kamu, atau itu jadi kebiasaan kita yang tidak bisa hilang. Raga, mungkin menurutmu ini aneh. Tapi rasa ingin berpisah sudah aku rasakan bertahun-tahun kemarin. Tapi aku menyadari, aku tidak bisa melewati perpisahan yang aku sendiri tidak siap. Maka aku benar-benar menyiapkan diri, untuk hari ini."
Raga masih diam. Menyimakku.
"Kamu pernah dengar, dalam sebuah pernikahan butuh setidaknya 10 tahun untuk benar-benar menyelesaikan suatu perceraian. Pasangan yang bijak, adalah pasangan tetap bersama dalam 10 tahun tersebut sampai benar-benar selesai, dan kembali ke hidup masing-masing. Dengan bersamamu 3 tahun kemarin, aku merasa benar-benar siap untuk menyelesaikan ini semua."
"Dengar. Satu hal, Kanaya. Pasangan cerai tersebut dalam kesepakatan selama 10 tahun untuk membenahi sampai akhirnya berpisah. Tapi kamu, kamu tidak dalam kesepakatan bersamaku. Untuk berpisah. Ini dua hal yang...", Raga memutar matanya.
"Apa kamu pernah mendengarku untuk membuat kesepakatan?"
Raga diam, ia berpikir. Terlalu lama menunggu jawabannya, aku menghela nafas.
"Yang akan kamu ucapkan setelah mendengarku hanya, 'aku baru menemukan pemikiran ini, sungguh aneh' apa kamu pikir aku salah bila akhirnya aku memutuskan untuk menyepakatinya dengan diriku sendiri? Kita bukan pasangan bijak. Tapi aku ingin bijak atas diriku sendiri. Aku patah hati, Raga. Aku kecewa kamu berubah dari sejak 3 tahun kita pacaran, tapi aku mencintaimu. Bila aku meninggalkanmu saat itu, aku bisa bayangkan aku adalah gadis terpatah hati yang tidak mau makan, minum, susah tidur dan terus memikirkanmu. Maka aku bertahan. Aku mempersiapkan diri untuk benar-benar bisa denganmu atau tanpamu. Dan itu lebih membantu. Aku bahkan siap untuk hari ini dan ke depannya."
"Kamu egois."
"Ya, aku akui aku egois. Menyelamatkan hatiku sendiri bukan? Tapi siapa yang akan menyelamatkannya bila bukan aku sendiri, Raga?"
Raga diam. Bertepatan dengan itu pesanan kami datang.
"Kamu bahkan masih memesankan Cappucino untukku, Nay?"
"Kalau kamu masih ingat, aku adalah orang yang paling hafal apa yang orang lain sukai, meskipun orang itu baru pertama kali aku temui. Kita berbanding terbalik, aku yang ingin mengingat semuanya, dan kamu yang ingin melupakan semuanya."
10 November 2011
20110609
padahal bosan
Ada apa dengan malam ini Sayang?
Nada sambung berputar, mentok, kembali ke tombol redial, dan aku hanya ingin memanggilmu lewat gelombang canggih ini.
Ada apa dengan ponselmu Sayang?
Rasa rindu meraja, wajahmu di kepala, tentang sedetik yang lalu bersama senyum ini.
Ada apa dengan hatimu Sayang?
Sesaat aku menyerah, mengirim pengertian untuk bayang di bawah tangan.
Mungkin sudah tidur, atau sedang dengan tugas-tugasmu.
Sesaat aku tetap ingin mendengar suaramu, paling tidak berkata 'hallo aku sibuk.' Aku rela kembali mendengar nada putus-putus di telinga setelah itu.
Aku tidak bohong. Aku tidak sedang menghibur diri. Aku bersemangat untuk kembali menghubungimu.
Aku tau kamu tidak akan tega membiarkan malam ini dikhianati waktu perpisahan.
Kamu yang terbaik Sayang. Kamu tidak bisa meninggalkanku dengan dalih aku pantas dapatkan yang lebih baik.
Kamu tidak pernah menyakitiku Sayang. Jangan pernah kamu ucapkan maaf.
Kamu adalah satu-satunya yang ingin hatiku peluk Sayang, maka jangan pergi dariku.
Nada sambung berputar, mentok, kembali ke tombol redial, dan aku hanya ingin memanggilmu lewat gelombang canggih ini.
Ada apa dengan ponselmu Sayang?
Rasa rindu meraja, wajahmu di kepala, tentang sedetik yang lalu bersama senyum ini.
Ada apa dengan hatimu Sayang?
Sesaat aku menyerah, mengirim pengertian untuk bayang di bawah tangan.
Mungkin sudah tidur, atau sedang dengan tugas-tugasmu.
Sesaat aku tetap ingin mendengar suaramu, paling tidak berkata 'hallo aku sibuk.' Aku rela kembali mendengar nada putus-putus di telinga setelah itu.
Aku tidak bohong. Aku tidak sedang menghibur diri. Aku bersemangat untuk kembali menghubungimu.
Aku tau kamu tidak akan tega membiarkan malam ini dikhianati waktu perpisahan.
Kamu yang terbaik Sayang. Kamu tidak bisa meninggalkanku dengan dalih aku pantas dapatkan yang lebih baik.
Kamu tidak pernah menyakitiku Sayang. Jangan pernah kamu ucapkan maaf.
Kamu adalah satu-satunya yang ingin hatiku peluk Sayang, maka jangan pergi dariku.
20110519
ada apa Juliet?
Mengadulah pada botol racun yang kamu minum,
Juliet.
Yang mencumbu nafas terakhirmu dengan pasti-pasti ragu.
Dengan cinta tanpa emas mengikat.
Dengan cantiknya airmata kehilangan.
Tatap selamat tinggal pada darah yang tercipta, Juliet.
Pada titisan malaikat yang gemas menunggu penyerahan.
Yang mengantarkan janji bertemu di alam lain.
Yang tidak peduli harus kemana dulu.
Juliet,
Kamu bukan hanya buta, kamu juga bodoh.
Ada apa Juliet?
Juliet.
Yang mencumbu nafas terakhirmu dengan pasti-pasti ragu.
Dengan cinta tanpa emas mengikat.
Dengan cantiknya airmata kehilangan.
Tatap selamat tinggal pada darah yang tercipta, Juliet.
Pada titisan malaikat yang gemas menunggu penyerahan.
Yang mengantarkan janji bertemu di alam lain.
Yang tidak peduli harus kemana dulu.
Juliet,
Kamu bukan hanya buta, kamu juga bodoh.
Ada apa Juliet?
Subscribe to:
Posts (Atom)