Showing posts with label Gombalistik. Show all posts
Showing posts with label Gombalistik. Show all posts

20180101

2018


Sering kali dalam hidup gue, hal-hal yang tadinya hanya gue pikirin dan lupa gue bawa dalam doa, tau-tau kejadian. Yang hanya selewat-selewat pengen, cuma bikin gue mencibir karna gue anggep Tuhan ngga akan ngurusin mimpi-mimpi aneh, kaya mau nikah di bulan Desember atau mau nikah di Bali (dan pake adat Bali). Ternyata selama ini gue banyak sotoy. Karena Tuhan beneran selalu ada dimana-dimana, diem-diem mengerahkan semesta bergerak ke arah yang gue mau, bahkan terhadap pikiran-pikiran yang belum sempet dibahasakan.

Dan suatu hari, di sebuah turning point di 2013, gue ambil spidol dan nyoret semua resolusi yang udah gue bikin untuk beberapa tahun ke depan. Dalam keadaan hampa, frustasi dan agak nekat. Lalu gue mulai bikin resolusi baru di kertas lain. Meskipun kertas itu akhirnya ilang seiring gue pindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain, tapi entah kenapa gue masih inget apa yang gue tulis di kertas itu, malem itu, yang sempet bikin gue nangis karna gue beneran ngga tau apa yang gue tulis.. resolusi sampai tahun 2020, yang ternyata bikin gue terus gerak sampai sekarang.

Beberapa resolusi banyak yang ngga tepat waktu, tapi entah kenapa gue tetap tenang, mungkin sebenernya gue mengetahui semesta kadang kewalahan juga bergerak untuk nurutin apa yang gue mau. Seperti mempertemukan gue dengan seseorang yang berada paling jauh dari gue.... namun gue rasa dia yang paling deket sama keseluruhan gue.. Dalam hal ini, kurang kerja keras apa coba semesta?!

Berikut Resolusi yang sudah dikondisikan, haha

Di tahun 2014,

Gue udah harus masuk BIFA untuk sekolah Pilot.

2015,

Gue udah harus lulus dari BIFA.

2016,

Gue udah harus masuk Garuda.

2017,

Gue udah harus terbang dan qualified.

2018,
Gue mau punya keluarga baru, tapi, kalo gue ngga nemu orang yang tepat, gue akan tunda beberapa tahun lagi dan ngerasa ngga akan ada masalah. Ternyata 2018 memang waktu gue memulai keluarga baru dengan seseorang yang gue ngga percaya ada orang kaya dia hidup di dunia nyata, gue pikir cuma ada di novel-novel teenlit yang suka gue baca jaman SMP. 


Gue baru sadar resolusi itu doa.
Setelah selama ini gue anggep resolusi itu hanya tujuan kemana gue arahin roda kerja keras gue. Dengan beneran menikah di tahun ini, gue ngga bisa mengkategorikan resolusi sebagai sesuatu yang sesederhana itu lagi, resolusi jadi komunikasi gue dengan semesta lewat kepala. Resolusi jadi sesuatu yang magis dengan pasti-tidak pasti. Dan gue percaya akan terus seperti itu.




Jadi, apakah lo berani menulis yang lebih dari Resolusi?




20171016

Officially Mrs. Priambada 💍

Pernah ngga sih lo, punya seseorang yang secara ngga sadar lo simpan di tempat tersendiri dalam hati lo di tengah-tengah lo bolak-balik jatuh cinta dan patah hati?

Tiba-tiba senyum pas lagi nangis sesegukan di pojokan kamar karna tau seseorang ini tiba-tiba aja cuma like foto lo, atau komen di salah satu postingan lo.

Atau sebenernya secara sadar lo mengharapkan dia maju selangkah aja supaya lo tau lo ngga ada di tempat masing-masing untuk waktu yang ngga tau mau sampai kapan.

Ini orangnya :)



Suatu hari gue ngeliat cowo di facebook. Dia adik dari salah satu dosen yang gue idolakan saat itu. Dari liat profilenya aja gue udah tau kalau cowo ini tipe gue banget. Pinter dan hangat. Saat itu seperti remaja pada umumnya gue mau tau dia lebih lanjut, maka gue sering bukain facebook dia dan menelaah dia dari segala postingan dan apa yang diposting orang tentang dia. Semua hal membuat gue jadi sadar kalo gue naksir orang di facebook, yang bahkan mungkin orang ini aja ngga tau gue. Tapi emang cowo pinter itu selalu memenangkan perhatian gue.

Bagus Dhamantra, yang secara ngga sadar gue simpan di salah satu sudut hati gue dan gue biarkan dia di sana, selama bertahun-tahun.

Di Tahun 2014 kita dipertemukan di salah satu acara dimana gue harus kerja untuk Bagus. Rasanya jangan ditanya, gue berdandan lebih cantik dari biasanya dan grogi lebih dari biasanya. Saat itu gue tau Bagus punya pacar dan yang ada dipikiran gue hanya, betapa beruntung pacarnya punya laki-laki yang ganteng, sopan, humoris dan pintar. Lalu kita pun berjalan masing-masing setelah itu dengan status stranger yang udah berubah jadi temen. Bagus orang yang punya mimpi. Gue sedikit banyak juga termotivasi karna gue adalah lingkungannya, gue mau bikin Bagus juga sedikit ngerasa bangga punya temen kaya gue seperti gue yang selalu bangga punya temen kaya dia.

Lalu suatu hari setelah 3 tahun berlalu sebagai teman yang sesekali coal-coel di sosial media, Bagus menghubungi gue dengan niat yang gue bilang agak lebih dari biasanya.. Karena kepintarannya, dia bisa nyambung sama gue, bahkan lebih punya banyak pengetahuan seputar bidang yang lagi gue tekunin saat itu. Dan suatu hari pula gue membawanya ke dalam mimpi, dan memanggil namanya lewat Line setelah bangun. Tanpa ada tujuan dan sebab juga. Hanya mau memastikan dia di sana. Dan dia ternyata masih di sana.

Hari berlalu, begitupun juga komunikasi kita. Setelah gue beberapa kali merasa gagal menjaga hubungan dan memastikan diri gue kalo gue akan baik-baik aja sendirian jalanin hidup ini, Bagus ada di situ nawarin hal lucu yang selama ini gue ignore. Pernikahan.

Yang sebenernya, secara konsep, pernikahan adalah sesuatu yang kami ngga pernah peduli, di sisi lain gue cuma ngerasa gue bisa jalanin seumur hidup gue sama dia karna dia selalu berusaha berjalan ke arah yang lebih ideal dengan isi kepalanya yang selalu bikin gue nga-nga terkagum-kagum. Belum ada seorang pun sampai ke tahap itu selama hidup gue.

Hal mengejutkan lainnya adalah... akhirnya gue menyerah dengan tembok-tembok konsep anti-pernikahan, yang sempat kami diskusikan panjang-panjang, bahwa tujuan dari pernikahan kami hanya untuk menyelamatkan status anak di kemudian hari.. Maka gue bersedia menikahinya, menikahi hidupnya dan isi kepalanya. Dengan anggapan pernikahan bukanlah hal yang cukup untuk menaungi perasaan dan pikiran kami.


Di sebuah Kantor Catatan Sipil (haha) di Kissimme, Florida, gue dan Bagus mencatatkan pernikahan kami disertai commitment ceremonial. Bahwa secara administrasi pernikahan kami legal dan dilindungi hukum.



Setelah pulang ke Michigan, Bagus bikinin gue dinner reception untuk keluarga dan kerabat terdekat, kami merayakan pencapaian komitmen kami untuk berumah tangga setelah ini. Untuk menjadi dua orang yang rela berbagi nasib dan kesunyian masing-masing.

Gue ngerasa gue lagi dipermainkan Tuhan banget, sering kali gue memincingkan mata ke langit berharap Tuhan lagi ngeliatin gue ketawa-ketawa dan gue akan bales Tuhan dengan senyum sampai nangis, Terima Kasih ya Allah.. Karena udah baik banget. Ngga ngerti lagi, kenapa selalu baik :")

Untuk seumur hidup gue, gue hanya menginginkan konsep pernikahan seperti ini, gue lakukan secara sadar, mengikat komitmen dengan orang yang akan nemenin dan gue temenin seumur hidup atas dasar cinta, dan kasih sayang. Beruntung juga kami ada di keluarga yang selalu mendukung setiap keputusan yang kami buat, yang juga ngga lupa untuk ngingetin setiap prosesi yang harus tetap dijalanin bulan Desember nanti karna banyak telinga yang harus dipuaskan dengan konsep dan perayaan Pernikahan yang berjalan sesuai norma-norma yang ada, di sini :D

Status panggilan dari Pacar jadi Istri bikin gue awal-awal suka ngakak sendiri, apaan sih gue masih mau main barbie, Bagus!!! Kamu, masak sendiri, makan sendiri, tidur sendiri, dan mandi sendiri ya.













26 September 2017

20151227

My First Time Coffee

Kehilangan daya untuk menulis ternyata mengerikan,
Sama rasanya seperti terjebak di pasar malam dengan orang yang kurang mengerti cara bahagia.
Rasanya banyak alasan untuk sekedar buang muka kala toleransi nyaris putus dan ide untuk memulai tidak lagi ada.

Kehilangan cara untuk menjelaskan apa yang tidak ada di depan mata tetapi tersusun rapih di kepala.
Kehilangan murka,
Kehilangan kata.
Mengartikan rasa jatuh cinta yang tidak lagi bisa.

Yang ingin jemari ini tau,
Ada kafein yang berhasil menembus batas untuk selamat.
Untuk menghentikan degup jantung tak bertujuan.
Dan mengakhiri dialog minta tolong.

Pertama bertemu dengan orang yang sangat mengerti apa itu bahagia,
Dalam pengaruh kopi dan percakapan sederhana.


Mellisa, 28 Desember 2015

20150913

Umur ini.

Kontemplasi adalah sujud yang paling seksi.
Renungan dengan dorongan pikiran, penghapusan penyesalan dan meletakan sasaran baru untuk ditembaki habis-habisan.
Sudah di penghujung ini, mereka bertanya, maka kelak harus buat apa lagi?

Ribuan lembaran terlepas dari bukunya, dan tidak perlu lagi berlari mengumpulkan hanya agar tidak lupa.
Hati ini menyimpan banyak proses yang berjalan tanpa perlu dicatat. Hati ini sudah kaya dengan segala rupa dunia yang ada.
Kemarin, kemarin dan kemarin.

Jiwanya sempurna, mereka berkata.
Sudah habiskan umur untuk berbuat segala yang disuka.
Sudah habiskan umur untuk hampir koleksi dosa.
Sudah habiskan umur untuk membuang yang penting dan mati untuk disiksa.
Jiwanya sempurna? mereka bertanya.

Kelak saat sudah bisa mengikhlaskan apa yang pernah tidak bisa, maka pengampunan untuk tetap berguna tidak jadi sia-sia.
Meski kadang mau lupa, bahwa tidak semua manusia punya tujuan sama.
Beberapa hanya mau bahagia. Hanya tidak ingin sengsara.
Hanya tidak ingin terus mencinta. Hanya tidak mau menunggu.
Hanya tidak mau tau. Hanya ingin jadi satu.

Hanya di umur ini, kami bisa begitu.

20150131

Sabar

Kami selalu mengakhiri pembicaraan dengan dingin akhir-akhir ini,
Tidak sadar bahwa jarak semakin lama semakin berarti.
Atau kami hanya kalah melawan benci yang suka datang sembarangan dan pergi tanpa permisi.

Tapi saya tau,
Kalau itu bukan dia, maka saya tidak sesederhana itu mengulur waktu dan memintanya menunggu.
Saya pasti sudah jauh-jauh hari minta dia pergi.

Tapi ternyata dia yang kurang tau,
Bahwa disetiap keluhannya, saya pun mengeluhkan hal yang sama.
Disetiap sabarnya, saya juga ingin berontak untuk bertanya 'kenapa'.

Sabar,
Orang sabar akan selamanya diminta sabar.


20120318

Hanya Aku Pinjam Sebentar

Kamu bukan satu-satunya peluh yang pernah ku seka.
Kamu bukan satu-satunya debu yang pernah menggelapkan mata.
Kamu bukan satu-satunya nyawa yang sekarang sudah mati.
Dan kamu bukan satu-satunya hati yang pernah ku pinjam namun tak ku kembalikan lagi.

Banyak raungan datang karna luka.
Airmata turun yang tidak butuh hujan.
Janji mengucap dengan ingkar tidak setuju.
Rasa itu, kamu bilang, perih belum terlukiskan.

Atau aku hanya manusia pendamba damai.
Sebagaimana aku sudah hidup penuh dengan duri.
Bila kamu bukan satu bulan yang kutunggu.
Maka hatimu hanya aku pinjam sebentar tuk temani, sepi dari mimpi.
Yang sering kunikmati.
Tanpa pernah ia kutemui.

20110814

juara

Banyak judul yang sudah saya pindah Draft dari daftar ini.
Tersimpan utuh, mereka tersusun dalam etalase maya.
Tidak terkunci, selalu merayu minta terus dibuka.
Tapi karna saya juara, mereka tercecer pun saya kumpulkan tanpa tergoda.

Karna saya hanya mau memenangkan memori yang terkunci,
Yang ada di depanmu :)

20101215

the dynamite

Tagging untuk post ini 100 persen : Love.

Absurd. Itulah cinta di umur 18-20 gue.

Bisakah kalian ngebedain yang namanya cinta, sama rasa ingin memiliki, rasa sekedar kagum, rasa takut kehilangan, bahkan ngebedain cinta dengan rasa benci sekalipun?

Oke, dulu gue selalu bisa. Tapi tidak diumur ini.

Di umur 11 taun, gue cuma kenal cinta sama bokap nyokap. Dan rasa-rasa yang gue jabarin di atas, itu udah jadi satu paket sama yang namanya Cinta.

Tapi, beranjak remaja, gue mendefinisikan cinta lebih kepada rasa ingin memiliki. Ngga memiliki gue pasti patah hati. Kalau beruntung, gue akhirnya memiliki orang yang gue cintai, tapi puncaknya setelah memiliki, kemudian timbul rasa bosen, konflik, putus.

Menaiki satu tahap lagi, gue mulai susah membedakan cinta dengan rasa kagum. Pernah suatu hari ketika masih berseragam putih abu-abu, gue nerima ungkapan cinta dari seorang kakak kelas, yang sebenarnya ngga gitu gue kenal, tapi karna dia seseorang yang memiliki pengaruh besar di sekolah, maka gue terima dan kita akhirnya jadian. Gue menyadari gue memiliki alasan ketika ditanya kenapa menerima dia, karna dia seorang ketua MPK, lalu, seandainya dia bukan ketua MPK, apa gue tetap menerimanya? Dan, gimana setelah dia sudah tidak menjadi ketua MPK? Akhirnya, gue putuskan untuk mengakhiri, karna perasaan kagum, hanya sebatas kagum, tidak bisa berubah menjadi cinta.

Di tahap berikutnya, dari seorang sahabat yang kemudian menggoda jiwa. Tapi bisa kalian bayangkan metamorfosis dari sebuah hubungan sahabat harus berubah menjadi seorang kekasih. Buat gue terutama, adalah percintaan yang paling menakutkan. Bukan tidak percaya dengan kelanggengan tapi, setiap manusia harus mempersiapkan keadaan yang terburuk, dalam hal ini, perpisahan. Dan hubungan cinta, menurut gue bukan digabung dengan rasa takut kehilangan.

Tamparan tentang Cinta yang terakhir, yang paling abstrak. Hubungan yang terjalin, dari rasa benci, yang kemudian menjadi cinta. Atau rasa apalah, katakan itu. Hmmm.. Ketika bertemu dengan seseorang yang udah dicap playboy, maka yang akan keluar untuk pertama kali buat gue adalah rasa benci di posisi cewe. Namun setelah mengenal orang itu, meskipun dengan banyak cacian mereka beteriak 'jangan dekati lelaki hidung belang itu, berada di dekat lelaki itu seperti main api, bisa terbakar sendiri' tapi ngga bikin gue lantas nyerah buat tau lebih jauh, oke gue benci sama dia dan image nya, tapi gue tetep sama dia. Ada hal yang ngga bisa gue tolak buat ngga gue lewatin sama dia. Gue ngga pengen milikin dia, gue juga ngga punya rasa kagum buat dia, gue rela bahkan untuk kehilangan dia, dan rasa benci buat dia, udah 100 persen mengingat begitu banyak wanita yang jadi korban dia.

Mungkin gue dulu memandang cinta dari rasa enaknya aja. Dan bergidik ketika ngeliat pasangan yang jelas-jelas gue tau buruknya mereka. Tapi justru sekarang gue mulai merasakan menjadi mereka, bukan tidak ada pilihan lain, tapi mungkin dengan begini, definisi cinta menjadi murni cinta, tanpa disokong apapun, lepas dari habituasi sosial, dan keinginan kebanyakan orang. Urusan resiko, gue pikir, cinta yang kalian sebut dengan kemewahan, jaminan kesejahteraan (masa depan) juga punya resiko masing-masing.