Showing posts with label Dunia Lain. Show all posts
Showing posts with label Dunia Lain. Show all posts

20171016

Ini Penting.

Udah hampir setaun yang lalu gue janjiin mau bikin video tentang Fresh Graduate Pilot yang masih nganggur, mencantumkan data dan berita yang paling update. Rencananya sih tadi begitu, ternyata jalan bisa ngga semulus itu. Meskipun gue beruntung temen-temen gue yang pinter selalu bersedia bantu dan ada di kala gue harus mengalami hal-hal yang tidak gue inginkan.

Berat, iyalah pasti berat, namanya juga lagi perjuangin kepentingan orang banyak..

Sedikit cerita hal-hal yang gue lalui ini gue jalanin dan gue ikhlasin karna gue tau, tujuan gue bukan buat selamet, tapi nyelametin orang.. Jadi berbagai sindiran, diasingkan dan anceman gue anggep semuanya lepehan permen karet, gue cukup buat lewatin dan ngga nginjek biar gue terus bisa tetep jalan nyaman. Tapi namanya berjuang, ngga pernah ada yang segampang posting selfie di instagram pake seragam lengkap di cockpit dan dihiasi caption panjang-panjang jelasin hal-hal absurd kan? HAHA

Hal-hal yang bikin gue bersyukur sebenernya terjadi lebih sering daripada hal-hal bego begitu, karena sampai sejauh ini setiap gue terbang sama Kepten dan gue diskusi tentang Fresh Graduate Pilot yang nganggur, semuanya sepakat. Beberapa karna ada saudara bahkan anak yang juga lagi nganggur lama setelah keluar hampir 1M buat sekolah dan ambil rating, beberapa karna berpikir dengan logika dan akal sehat, juga beberapa ada yang justru ikut berperan aktif ikut perjuangin hal ini dan ngejelasin ke gue secara lebih rinci lagi dimana letak-letak permasalahannya.


Berkat beberapa sumber yang selalu mendukung gue untuk terus maju, gue menemukan video-video dan tulisan-tulisan yang mendukung statement gue agar gue ngga lagi dibilang HOAX, mematahkan mimpi masa depan generasi penerus bangsa, atau dibilang cari sensasi. Meskipun banyak juga yang berpikir gue seperti itu karna mereka ngga ngerti, latar belakang gue melakukan banyak himbauan semacam ini.

Gue lulus dari Flying School, Oktober 2015. Lalu ngajar simulator Cessna 172 di Simulator Center yang kebetulan berlokasi deket sama rumah gue, dari sana gue baru tau kalau ternyata profesi yang gue jalanin lancar-lancar aja ini ngga lancar buat sebagian besar yang udah lulus di sekitaran tahun itu. Gue lantas mengkhawatirkan temen satu batch gue yang juga belum dapet kontrak kerja di airlines. Lalu ada senior-senior gue. Junior-junior gue. Dan beberapa temen dari Flying School lain. Lalu sekarang adik sepupu gue.. Pikiran gue keganggu banget dan ngga tau mesti apa saat itu. Gue ngerasa keberuntungan gue yang udah di kontrak Garuda sebelum gue bahkan memulai fase Student Pilot License ngga artinya, kalau sekitar gue ternyata terpuruk seperti ini.






Video di atas gue bikin dengan sangat random, meski latar belakang gue sangat kuat. Menyinggung beberapa pihak, ya udah jelaslah. Kalo ngga ada pihak yang saya singgung namanya saya diam. Itu sih orang yang ngga berani terbang solo tapi jadi instruktur juga tau. (weheeeei imel tetep nyinyir!)

Terlepas dari beberapa Pilot yang jadi Selebgram dan sedikit punya kecenderungan Narcissistic Personality Disorder, gue mau kasih himbauan buat adik-adik atau teman-teman di luar dunia penerbangan bahwa pekerjaan Pilot ini pekerjaan yang penuh resiko namun bukan pekerjaan yang luar biasa, dan harus diagung-agungkan. Syarat jadi Pilot yang paling penting secara umum, cuma harus sehat aja kok. Meskipun mengalami banyak tambahan persyaratan, tapi serius deh, semua bisa jadi Pilot seperti semua orang bisa jadi manusia yang punya akal sehat. Cuma perkara mau atau engga.

Oia, berikut gue cantumkan beberapa sumber yang mendukung pernyataan gue dari rekan-rekan seperjuangan dan juga dari lembaga resmi seperti IPI (Ikatan Pilot Indonesia).



Tulisan oleh Mas Sathya Yupardi, BIFA Batch XXV


Tulisan dalam website IPI, mmmmm meskipun sebenernya gue agak geram sama statement pak Menteri, tapi yaudahlah sopo sing terbang sopo sing laserin hijau-hijau.


Sempet diajak gabung dalam pertemuan ini, oleh Capt Heri Martanto, tapi berhalangan karna harus trerbang :(

Dan yang terakhir yang paling lo wajib buka adalah blog di bawah ini :


Ditulis oleh Capt Heri Martanto.


Selamat menyusuri jejak-jejak kebenaran :)

20160517

Dilematis Flying School

Hal-hal yang mengganggu di kepala sering kali keucap dua-tiga kali dalam sehari. Jadi puluhan di tiap minggunya, yang dalam hitungan bulan, bisa jadi ledakan yang ngga terarah. Gue beruntung bisa menuangkan bebas di sini, supaya kamu bisa baca.

Mungkin kedengarannya seperti mematikan mimpi-mimpi yang terlihat dekat, tapi percayalah ini hanya fase menunda untuk pertimbangan jangka panjang. Karena apa yang ditawarkan kadang tidak seindah apa yang sedang terjadi di belakang, apa yang sedang menjadi masalah dan ditutupi sedemikian cantik.

Pahit.
Tapi ketahuilah dunia penerbangan tidak sedang bahagia, terutama bagi Pilot yang baru saja lulus dari Flying School. Sebagian besar harus menunggu sambil menjalani kesibukan yang tidak ada kaitannya dengan skill yang sudah dimiliki. Kalimat "Indonesia kekurangan Pilot", menjadi pemicu yang mengundang para pemimpi untuk buru-buru sekolah di Flying School. Sementara kenyataan tidak bersinggungan di lapangan, masih banyak Pilot dengan license CPL/IR (Comercial Pilot License/Instrument Rating) bahkan ME (Multi Engine) masih "diam" menunggu untuk bekerja? Apakah 'Indonesia kekurangan Pilot' hanya sebuah dongeng indah untuk mereka yang bermimpi?

Semula, muncul banyak praduga kalau lulusan Flying School memiliki "Airlines Minded", dengan arti, jadi Pilot itu harus Pilot yang bekerja untuk Airlines, meski kenyataannya tidak melulu. Pilot lulusan Flying School bisa menjadi Pilot pesawat charter, perintis, agrikultural, rescue/ambulance, rekreasi bahkan menjadi Flight Instructor untuk Flying School. Namun, apakah serta-merta variasi profesi Pilot tersebut tidak memiliki persyaratan? Kadang yang diajukan, Pilot harus memiliki jam terbang lebih dari 500 jam, disertakan pengalaman bekerja. Itu berarti, harus tambah biaya lagi, harus membayar training demi training lagi. Tidak jarang banyak yang akhirnya kembali "Airlines Minded" saat mengetahui persyaratan yang bahkan kadang agak mengada-ada, dan berakhir dalam fase menunggu.

Untuk beberapa pemimpi, mungkin tidak pernah terbesit akan sedemikian rumit untuk menerima realitas, bahwa hidup jadi Pilot bukan hanya untuk gaya, tapi bagaimana kita bisa menghasilkan. Maka, saat memutuskan untuk sekolah di Flying School harus lebih dahulu melakukan research, tidak hanya dari social media ke social media, iklan ke iklan, pertimbangan jangka panjang harus diutamakan mengingat biaya yang tidak murah dan kondisi yang sedang terjadi adalah, cycle dalam rekruitmen Pilot sedang berputar ke bawah, terutama di Indonesia.

Namun, tidak menutup kemungkinan cycle rekruitmen Pilot dapat kembali berputar ke atas. Dimana pada masa itu, sumber daya diharapkan dapat mengisi kebutuhan Pilot dalam rangka membangun bangsa, entah itu berkerja untuk Airlines maupun profesi Pilot lain. Yang pasti dalam tulisan ini, masa itu belum hadir sekarang.

Semoga hal-hal yang mengganggu di kepala tidak hanya sepintas tersampaikan.

20110728

befriended Ex

Hellowaaah :)

Kalo lagi iseng lo semua ngapain sih?

Main BB? Main judi?

Keisengan yang mau gue pamerin ini mungkin cukup normal di mata kalian yang kenal deket sama gue, tapi mungkin tetap akan mengundang komen, "Adoh Mel, lo ngapain lagi siiiih?"

Dipicu dari omongan seorang teman yang bilang kalo gue ini kaya ngga punya masa lalu, hidup gue enteng-enteng aja, tanpa beban. Bebas ketawa, bebas dari masalah, membuat gue me-rewind beberapa masa lalu yang kalo ditengok, masih bikin sedih. Ya, salah satunya tentang mantan.

Mungkin beberapa dari postingan di Blog ini menceritakan beberapa mantan gue dalam versi kesedihan, kesenangan, kemuakan berbeda. Dan salah satunya, yang akan gue kenalin di sini, adalah mantan yang kira-kira bareng sekitar 3 tahun yang lalu di bulan Juni.

Namanya Mbe, panggilannya Anu. Lengkapnya Anugrah Pradana.

Kenapa tiba-tiba dia? Karena keisengan gue kali ini nyerempet ke dia. Atas masukan room-mate dari Neraka, gue membuat ulasan cerita masa lalu gue sama lelaki ini, membuatnya unik, dan ngirim ceritanya ke sebuah majalah remaja yang cukup banyak dibaca orang-orang labil kaya gue.

Mbe ngga salah apa-apa. Ini murni keisengan gue. Iseng-iseng nambahin tugas kuliah Mbe yang segunung, iseng-iseng mau masuk majalah, iseng-iseng kecolongan curhat. So, cerita apa sih yang gue kirim? Bukan lagi makian penuh se-buku gambar, bukan lagi cerita menye-menye sinetron, tapi tentang Persahabatan kasat mata kita.

Yaaa, memang, Mbe cukup bajingan untuk jadi mantan gue. Mbe udah keterlaluan membuat urat sabar gue renggang-kendor selama masa pacaran. Pasca putus pun kita ngga jalan sebagai dua orang yang pernah saling sayang, kita sempet musuhan dan gue milih buat remove dia dari kehadiran nyata dan maya. Tapi, apa yang unik? Karna dari berantem-berantem itu, kita jadi tau, kalo kita ternyata cocoknya jadi temen dan justru lebih seru. Dan jarang-jarang ada hubungan mantanan yang tetep jaga komunikasi baik meskipun isinya cuma berantem.. (nah lo bingung kan?)

Dan cerita singkat yang kalo sekarang dibaca-baca lagi malah jadi basi ini diangkat jadi cerita bulanan majalah yang gue kirimin. Panik. Tentu. Gue menghubungi Mbe yang ngga tau apa-apa dari keisengan gue ini, dan... diluar dugaan, Mbe menyetujui pengadaan pemotretan buat artikel itu, tetap dengan nada sok jual mahal berharap pose nunggingnya nanti dibayar mahal.




Untuk cerita lengkapnya, bisa dibaca di Gogirl! edisi Juni 2011, BOTM :)

20110727

Film Indie(h)

Sebenernya dari TK gue udah banci tampil. Tiap perpisahan gue harus tampil. HARUS. Ngga peduli gigi lagi ompong atau rambut belum numbuh.

Naik ke SD , gue selalu milih ekstrakulikuler drama, dengan alasan ditiap akhir caturwulan, pasti ada pementasan yang bikin gue berkesempatan tampil. Selalu semangat kalo pelajaran Kesenian atau bahasa Indonesia yang ada drama-dramanya. Soal peran, apa aja gue jabanin. Dari yang cuma dapet peran selir Raja sampe akhirnya kepilih jadi pemeran utama di Pementasan Perpisahan Sekolah. Rasanya bahagia banget ngga sih udah nemuin passion dari kecil?

Masuk SMP, gue mulai nyoba nulis cerita buat Drama sekaligus nyutradarain sekaligus mainin peran untuk setiap pementasan Seni di Sekolah. Gue sok-sok profesional, di depan layar dan belakang layar, ngga terpaku sama tiap Perannya, gue juga suka ngatur musik-musik yang dipake, blocking dan lain-lainnya, gue makin ngerasa, dunia gue mungkin emang di seni peran. Dimana kesempatan tampil dan jadi pusat perhatian lebih besar dibanding harus nari poco-poco sama satu RT.

Sampai SMA, dunia Drama kanak-kanak akhirnya gue realisasikan dalam Theater. Membawa gue jadi Pemeran Utama di setiap skenario yang keluar untuk acara Sekolah maupun di luar Sekolah. Gue pun merambah sampai ke film indie sekolah. Tidak perlu nyogok sutradara atau pelatihnya, gue kalo udah nyaman sama sesuatu pasti ngga mungkin ngga kompetitif! Gue harus selalu jadi yang pertama. Ambisius. Pol-polan.

Jadi, Acting, pernah jadi sesuatu yang tanpa gue sadari memiliki ruang sendiri dalam tiap jeda waktu. Meskipun ngga gue seriusin sampai kemana-kemana, meskipun cuma maksimalin tiap peran yang gue dapet dan ngga berusaha nyari peran yang lebih bagus kemana-mana, tapi candu ber-acting itu yang bikin gue kaya lagi nyalurin bakat berkepribadian ganda gue. Dan itu, Seru abis.

Awalnya gue mungkin ngerasa, bakat acting itu lahir seiringnya gue grow up, sampai gue tau kalo Mama pun dulunya pemain Theater dan selalu dapet Peran Utama sampai pentas di sana-sini. Hubungan batin? (loh) Bakat turunan? Hmm. Gue ngga akan mau mengakui itu. Yang jelas gue lebih jago dari si Mama.

Tapi, sayangnya gue memilih untuk mencari kepuasan lain selain dari dunia Acting ketika menginjakan kaki di Universitas. Gue lupa kenapa, atau bosen, atau minder ngeliat begitu kerennya pementasan Theater yang gue tonton di kampus. Beralih dari sana, gue mulai mengasah kemampuan gue menari, main wayang, sampai ngelawak bikin group Srimulat. Ngga bisa dipungkiri kalo gue suka sedih ketika inget betapa gue mencintai dunia Acting dulu... Sampai akhirnya tawaran ber-acting kembali datang dari komunitas Theater di Kampus.

Sore itu panas banget, bikin lecek, lepek, bikin sendal Marie Claire jadi swalow. Pokonya bad day deh. Tiba-tiba datang seorang perempuan nyamperin ke tempat gue dipanggang di payung fakultas. Dia ngajak gue ngobrol, awalnya gue pikir ini NII, gue mau pasang muka ngga punya duit, pasang muka kuat iman, tapi semua percuma, karena dia nyamperin gue dengan tujuan ngajak gue main film Indie kampus bukan minta gue beli ticket to the moon. Oke.

Dengan proses gono-gini melebihi ribetnya pembagian harta warisan, akhirnya gue memulai proses syuting. Jujur, udah lama ngga berakting bikin gue grogi. Setiap latian nilai gue cuma 30-40-30 ngga pernah naik-naik. Pertemuan kembali dengan dunia acting bikin gue bernostalgia, gimana serunya jadi orang lain, dan inilah...




Laporan selesai, bu Ida, bu Ratna, pak Nadrial, bang Ronny Aladiba dan ka Awan.. :)

20110608

travel time #4

SIAPA KAMU?!


Saya Paus yang terbawa ombak ke daratan...


PERGI KALIAN!! ATAU SAYA KIBAS!!


Ngga mau ah, saya udah pewe.


YAUDAH DEH DEAL NYA LO KELUAR GUA KELUAR!

IYA DEH, LAGIAN KAMAR LU JUGA BAU.

Dan perjalanan pun di mulai...


Tak kenal maka tak sayang, gue kenalin dulu ya dari yang paling gembul nempel kaca di sebelah kanan lo, namanya Aldair Zerista. Nama siangnya Dair, nama malemnya Daira, seksi ya? Lanjut ke yang paling katro dengan pocket camera di belakang itu, namanya Andri Septian dengan panggilan gaul sebagai Tanyen. Sebelah Your Highness Tanyen, ada Alfira Astari dengan panggilan mesum, Pirahi. Dan terakhir, lelaki dengan wajah ngantuk tak bermasa depan, eh bukaaaaan! Dia bukan Briptu Norman! IH PARAH DIBILANGIN! BENERAN! Eh iya deng Briptu Norman, eh tapi bukan... EH MIRIP NYET! hahaha namanya Arga Tyas Asmoro. Udah jangan banyak tanya, nanti orangnya nangis.

Boleh di add FB mereka, mereka semua jomblo loh. Dipilih-dipilih. HAHA

Langsung ke perjalanan pertama, kita muterin Orchard Road sampe ke Somerset. Berbekal peta, kami semua bertekad menemukan sesuatu yang ngga bisa kita temukan di Indonesia. TARA! Gue kembali harus menemani mereka ke Rumah Kondom, padahal tempat itu ngga ada di peta! Jadi buat apa pegang Peta???


Kembali ke Peta...


FOKUS!


JANGAN TERGODA! GUE BILANG FOKUS!!

Oke, kembali ke jalan-jalan seputar Orchard. Untuk pertama kalinya, toko yang gue datengin adalah Forever21 di deket MRT Somerset. Gue membeli beberapa sunglasses dan tiara cantik. Dengan nyinyiran seorang Pirahi yang bilang gue terobsesi jadi Princess bikin gue makin ngga bisa nahan untuk memakai tiara itu di tempat!

(sebenernya tiara yang gue beli bukan ini, yang ini minjem doang biar gaul)

Setelah selesai belanja kebutuhan gaul, kita mutusin buat balik lagi ke Apartemen sekalian Check Out. Karna betis perlu diistirahatkan untuk perjalanan panjang lainnya, akhirnya, karna uang masih melimpah, kita semua balik ke Orchard dengan MRT. Padahal jaraknya ngga lebih jauh dari puteran Lippo!

(inilah wajah kemalasan dari Tanyen dan Pirahi)

Sampe Apartemen, kami langsung packing buat perjalanan selanjutnya. Tujuannya adalah Little India, yang sempet bikin stress karna letak hotel yang udah dibooking agak absurd, siapa dulu dong yang disuruh nelpon Hotelnya? GUA! Mana gua ngerti itu orang receptionist ngomong apa? Yang gue tau cuma Hello Good Morning Good For Owyeah.

Setelah melakukan perjalan kurang lebih sejam di bawah terik mentari Singapore yang ngga ada bedanya sama Depok, Ho(s)tel buat Backpackers itu ditemukan jua. Dengan tarif 20 SGD seorang untuk semalam, kami mengaku puas. Selain tempat tidur nyaman, dekorasi kamar lumayan menghibur rasa lelah (padahal engga juga) ditambah lagi free breakfast buat besok pagi! Ngga mau pulang deh ih rasanya.. umumu! *HOAK*

(dan inilah Arga dengan wajah gelap takut dikira Briptu Norman)

DAN HELLO LITTLE INDIA!!


Meskipun udah pernah ke sini, gue ngga pernah bisa menebak akan seperti apa tempat ini setiap harinya. Dan kalo boleh jujur, ini adalah daerah favorit gue di Singapore, karna di tempat ini, gue ngerasa ada di dua negara berbeda dalam satu waktu. Yak! Singapore dan... India. Baunya yang Khas, orang-orang berhidung mancung tidak santai dan semerawut tanpa aturan. Ah mau ke sini lagi deh pokoknya.



Setelah berjalan jauh menyusuri sepanjang arteri Little India, kami singgah di sebuah restoran India dengan pelayan gagah. Meski awalnya sempet bingung mau pesen apa, tapi pada akhirnya kami mantap dengan pesanan masing-masing. Gue memesan Cheese Nan dan Saus kambingnya bersama Pirahi. Tanyen milih aman, dia mesen french fries. Dan Arga yang merasa tertantang dengan isi menu, menggunakan kesotoyannya untuk memesan Green Salad. Nah yak!

(green salad pesenan Arga berupa potongan bawang merah bangkok, tomat, lobak, wortel mentah, timun bangkok, cabe rawit dan jeruk nipis)

Dengan miris kami menyaksikan Arga dengan pesanannya, 21 ribu melayang sudah, dibanding dengan harga segitu, di kantin sastra kami tercinta, bisa nraktir rokok buat seangkatan. Akhirnya dengan memanjatkan puja-puji syukur atas Tuhannya, Arga meninggalkan makanan laknat itu di atas meja ketika kami pulang. Meninggalkan pelayan-pelayan India itu terkekeh..

"Mere-mere dia ngga makanhe, makanyahe lu olanghe punya duithe, beli sari sajahe buat mamak luhe.." dengan logat ke-cina-cina-an dikit.

Dengan perut kenyang-kenyang maksa, akhirnya kami memutuskan kembali ke Ho(s)tel untuk menjemput Dair yang lagi-lagi terdampar ke daratan karena kelelahan. Dan berikut foto-foto di perjalanan pulang menuju Ho(s)tel.

(Plang ini ditemukan oleh Pirahi)

(saya bergaya bersama Briptu Norman, ah beruntungnya..)

(Briptu sebelum menyanyikan Chaya-Chaya)

(korban Briptu Norman)

Cerita Night Life-nya, kami awali dengan mengecek keadaan Bugis Street, Tanyen mengumumkan sudah jadwalnya untuk beli oleh-oleh. Dengan setelan dari pagi, akhirnya kami berangkat dgn MRT yang murah meriah untuk sampai ke Bugis Street. Setelah puas berbelanja ditemani Korean sebagai theme song, Tanyen sebagai penjadwal langsung menggiring kami menuju pusat permakanan di Clarke Quay, dimana tempat tersebut menawarkan kemaksiatan tingkat tinggi dengan menjual makanan yang tidak terjangkau dompet. Setelan gembel, mengakibatkan kami merendah diri di antara angsa-angsa bergaun dan berjas. Tidak menyurutkan api semangat, kami memutuskan untuk menyiksa dompet dengan ikut makan di sana. Ngga apa-apa. Sesekali makan Bakso 70 rebo!! (minta maaf sama keluarga besar)

Perjalanan selanjutnya....
Tunggu di postingan selanjutnya.
Cium hangat dari Daira :)

20110313

travel time #3


Hallo Udara :)
Gue menyapa langit dan laut yang terbentang tertangkap mata. Mencoba menghibur diri gue pun bertanya-tanya sama objek yang gue foto, Pulau-pulau apakah ini? Pulau Seribu??

(yang bisa jawab gue kasih goceng)

Kalo bener, itu pulau seribu, nantikan gue mengelilingi pulau-pulau itu dengan ceria tak lama lagi. Pulau-pulau di gambar sangat menggoda untuk dijilat. Sesaat gue melupakan kesendirian gue di pesawat ini, tanpa teman, tanpa keluarga, dan tanpa manusia-manusia luar angkasa. Sendirian-Ke-Singapore-Untuk-Semalam.

Gue sangat mengharapkan standing applause yang meriah, mengalahkan riuh-rusuh konser WALI.

Oke, cukup, kalian sangat berlebihan menyanjung keberanian saya datang ke negri orang tanpa teman dan tujuan. Satu hal, jangan bilang orang tua saya. Saya peringatkan dengan muka seram, jangan bilang orang tua saya. Oh iya, dan jangan pula bilang ke adik bungsu saya yang sangat pengaduan.

(ini makanan yang menjadi satu-satunya benda menghangatkan kegetiran gue menuju negara orang.)

Sekian jam mengudara, akhirnya gue mendarat juga. Ditemani seorang komisaris Pelayaran yang duduk di sebelah gue di pesawat tadi, gue keluar dari Terminal 1 Changi dan langsung disambut oleh sebuah limousine hitam elegan! GOD! Kalo gue beneran orang batak, gue pasti merayakannya dengan nari tor-tor.

Rasanya pengen sms Nyokap biar dia ngiri akut. Haha. Naik Limousine memang tiada duanya, alhamdulillah gue orang hina begini, dikasih kesempatan sama Allah buat nyicip. Sayangnya gue ngga foto-foto di dalem Limousinenya. AH GENGSI NYET!! PADAHAL BISA DIKIRA HOAX KALO NO PICT!!

Ehm.

Dan, Limousine itu dengan baiknya mengantar saya sampai ke depan apartemen di atas Lucky Plaza, Orchard Road. Hmm, nikmatnyo. Berasa tamu-tamu penting darimana gitu kan ya, turun dari Limousine, ya Allah makasih banget ya Allah!!! Saya tobat ya Allah!!

Dengan atmosfir Limousine yang masih kental gue menyapa seorang satpam di depan gerbang, orang Malaysia cing, mau gua ludahin. Haha.. Sampai di dalam Kamar, gue langsung heboh mau tau pemandangan di luar jendela. Sampai mba Cantik asli Menado yang jagain Apartemen di lantai itu gemes pengen dorong gue dari lantai 14. Ngga percuma dijutekin si Mba, gue dapet pemandangan seru, perumahan di Spore! wiw.


lihat ini!

(gue ngetemin rumah yang ini cing! lucu abis! apalagi kalo pacaran sama tetangga sebelah yang rumahnya kembaran begini kikikikik)

Balik ke kasus gue pergi sendiri. Gue ngerasa hampa untuk sesaat, sampai akhirnya gue memutuskan untuk pergi sendirian menyusuri Lucky Plaza yang bisa dibilang, uhm, ITC BSD, versi luar negri.

Satu kenikmatan, ketika berada di keramaian itu, ngga sengaja gue ngelewatin satu rombongan abege-abege labil lagi sibuk ngobrolin tujuan jalan-jalan selanjutnya menggunakan BAHASA INDONESIA. Rasanya gue mau nepuk bahu mereka, dan bilang,
"Hai saudara setanah air, hati-hati sama orang Malaysia yang nawarin ganja ya."

AAAAAAAARGH. Gue seneng banget ketemu orang Indonesia di Negri orang. Berasa sepupu sendiri Nyet! Ea. Seneng gue liat muka-muka melayu. Tapi awas, hati-hati, jangan asal nyapa orang yang mukanya melayu. Seperti yang gue lakukan saat 'berkunjung' ke Rumah Kondom, karna geli ngeliat barang-barang di sana, gue ngga mau cekikikan sendiri, alhasil gue ngajakin dua cewek di sebelah gue buat ikutan geli-gelian, mukanya sih Melayu, tapi begitu gue sok akrab..
"Anjir males juga beli beginian, hahaha"

Dia jawab,
"ผู้หญิงเลวเฮ้คุณบ้า,, กลับออกคุณดอกทอง!"

EH? weh weh. Santai weh.

Setelah bosen jalan-jalan ngga karuan, gue mulai laper. Dengan gegabah gue nyari foodcourt ngga jauh-jauh dari situ. Menghindari makanan mengandung Babi, gue nyari makanan yang jelas. Ada counter Nasi Padang. Yang jual ibu-ibu pake Kerudung. Dengan sok asik gue mesen pake bahasa Indonesia, eh dia ngomong pake logat melayu, mana jutek banget lagi. ASU. Orang Malaysia ternyata. Selain mencuri budaya, mereka juga mencuri Nasi-nasian dari Sumatra, alamak, kukutuk kau Ibu bau santan jadi Babi, biar dipanggang kau di counter sebelah.

Akhirnya hal yang paling gue takutkan harus gue lewati, yaitu melewati malam seorang diri. Dibekali sebuah coklat putih Dream dari TujuhSebelas yang bikin gue wet dream, gue pun menghibur diri dengan photo session. Pemandangan dari jendela pun oke banget, banyak lampu, jalanan ngga berisik, ah pokoknya mah, bikin pengen Bungee Jumping lah.


(Andai gue perokok, pasti malam ini terasa lengkap. Angin malam, lampu di balik jendela.)

Menunggu kedatangan teman-teman gue keesokan harinya?
Tunggu postingan selanjutnya.

20110125

wayang kulit, di dadaku!

Kalo ada pertanyaan,

Sebutin satu hal yang paling lo suka dari Indonesia?


Kira-kira lo bakal jawab apa?

Dari pencarian gue sampe ujung dunia, jawaban rata-rata yang didapet adalah MAKANANNYA.

"Lo taulah makanan Endonesa, gileee.. *krauk-krauk* Mau gue tinggal di New York, berlian, mobil, apartemen mewah di tangan gue, *krauk-krauk* gue bisa gila kalo sehari aja ngga makan masakan Padang.. *krauk-krauk* gue nih ya, walaupun di kehidupan kedua nanti dilahirin di Dubai sekalipun, masakan Padang yang pasti gue car.. ADUH SET******N LIDAH GUE KEGIGIT!!"
(efek dari ngobrol sambil makan)

Kalo pertanyaan itu ditujukan ke gue, (atau lebih tepatnya bertanya pada diri sendiri)

dengan mengebu debu bintang bakal gue jawab,

WAYANG!!


(ekspresi berlebih)

Sebenernya gue ngga punya pengalaman berarti dengan kebudayaan asli Indonesia yang satu ini. Berawal dari ngga sengaja ditendang ke kelas Wayang dimana mahasiswi baru diwajibkan untuk mengambil Mata Kuliah Seni, gue jadi suka bengong sendiri nontonin Wayang-Wayang ngga berdosa itu diputer-puter Dalang sampe kadang suka kejedot batang pisang di bawah kelir, atau layar dimana Wayang dipertunjukan.

Setelah kelas itu selesai, yang dimana Ujian Terakhirnya adalah mempertugaskan gue sebagai Sinden dalam pertunjukannya bersama Tennie Marlim (maaf klo banyak mention dia di blog gue, request soalnya) berkaitan dengan Wayang, gue dihadapkan pada pilihan dimana gue harus menjadi Dalang dalam Unjuk Bakat Kang Nong yang laporannya udah gue post beberapa bulan lalu.

Kemesraan gue dengan si Wayang semakin terjalin Indah.

Gue jadi ngumpulin apa aja yang bentuknya Wayang, salah satunya Wayang yang tercipta dari tangan seorang seniman asal Jogjakarta yang gue temui di pinggir jalan BSD, dan dia mempertemukanku dengan Arjuna-ku, Wiracarita Mahabharata :


(maaf ya foto sendiri, liat tuh tangannya keliatan yg megang kamera, haha)

Sejauh ini, si Arjuna adalah koleksi paling mahal, mengingat dompet Mahasiswi gue yang pas-pasan. Tapi buat dia gue rela deh tabungan surut. Lalu-lalu, koleksi Wayang nomer dua mahalnya setelah si Arjuna adalah si Kelir, beserta Wayang-Wayang mini yang cuma kurang blencongnya, hehe..


(gue bingung ini ceritanya Mahabrata atau Semarsemorodewo?)

Daaaan, Wayang dalam bentuk lain yang ngga kalah berharga adalah kaos dari seorang sahabat bernama Tennie Marlim (kan, gue mention lagi) sebagai hadiah ulang tahun gue dengan tulisan Wayang Kulit. Yang terpenting adalah Kaos ini Made in Indonesia. Ini adalah kaos ter-cool yang gue punya sekarang, mengalahkan dress Mamamia.


(sori kalo ada yang salah sama posenya, salahin si Dalang Master, Ki Manteb Sudharsono)

Pernak-pernak kecil lainnya tentang Wayang satu persatu gue kumpulin. Kaya Wayang-wayang kulit mini, yang gue beli di Malioboro.. (oh, itu surga Wayang Jawa banget!) lalu ada juga pembatas buku dengan motif Wayang, pin Wayang sampe pulpen Wayang yang kalo dijual di Bandara harganya bisa berkali-kali dosa.

Oh iya, satu cerita saat gue menghadiahkan Wayang Mini untuk seorang EF Teacher, ketika menerimanya, muka dia seneng banget, dan bilang terima kasih dengan aksen bulenya yang cupu berkali-kali, sampai satu pertanyaan keluar dari bibirnya?

"Bukankah Wayang berasal dari Malaysia?" (in english)


WAH!! Emang hebat banget si Malaysia dalam hal mengklaim budaya Indonesia. Satu kelas langsung teriak secara tidak beraturan ngata-ngatain Malaysia, khususnya dalam bahasa Indonesia yang paling kasar, secara si Bule ngga akan tau artinya. Tapi kemudian, gue sadar juga akan satu hal.. Ya, pantaslah Malaysia menyebarluaskan ke mancanegara kalo Wayang itu Budaya mereka, gue yang orang Indonesia aja baru sekarang-sekarang ini tergila-gila sama Wayang. Dan kalau pun gue ngga kuliah di Fakultas Ilmu Budaya, gue mungkin tau wayang sebatas media pendongeng.

Satu hal menghasilkan satu pelajaran, kenali Kebudayaan di Negara kalian sendiri dulu baru boleh suka sama Justin Bieber. #eh?

AKHIRNYAAAA, kembali gue bertanya,

Apa yang lo suka dari Indonesia?

Uhm, tolong jangan jawab Makanannya lagi, jangan juga Timnasnya, atau Irfan Bachdimnya!!

Baiklah, lebih spesifik,

Kebudayaan asli Indonesia apa yang paling lo suka? :)



my Ipad says love Wayang too!



20100912

travel time ♥



Sekitar pertengah Mei lalu, gue dipertemukan lewat Jejaring Sosial oleh seorang gadis lucu dan sehat dari Kubah Mas. Dalam Direct Message kami berdua ngobrol ngalor ngidul ngebahas Negara Tetangga yang lagi bersitegang sama Negara kita karna saat itu gue pengen ke sana buat ngekorin si Abah. Tapi nasib kebentur sial, gara-gara ada UAS Logika, gue ngga jadi berangkat ke sana. Dan akhirnya justru bikin kita ngerencanain liburan bareng sebagai balas dendam!
Wooho. Kalo jodoh emang ngga kemana.

Oke, sebentar gue luruskan dulu. Gadis yang bernama Kanova Desti Kanova ini adalah temen SDnya Rivan. Jadi gue bukan anak labil yang kenalan dari FB, ngobrol intim sementara belum kenal sama orangnya, Hahaha.. Beberapa kali dia selalu tertangkap mata lagi lompat-lompat dari satu tempat ke tempat lainnya sama gue, membuat dirinya begitu eksis dan menggemaskan!

Ngga lama setelah kita melukis mimpi di FB, kita pun sepakat buat ngobrolin liburan bareng ini di dunia nyata (baca: ketemuan).


Jadilah Kanova yang akrab di sapa Nobeng ini mengajak Partner in Crime-nya, bernama Ghea Pandeirot yang nantinya dalam perjalanan, dia adalah orang yang paling direpotkan untuk mengisi semua urusan booking memakai namanya yang panjang, Gheantisa Parahita Pandeirot. Hahaha..

Singkat cerita tentang Ghea, dia adalah cewe yang gila traveling. Kalo udah nyenggol tentang negara Turistik, siap-siap bengong merhatiin dia cerita gimana bagusnya negara itu, walaupun dia belum pernah ke sana, karna kerjaan hari-harinya diprediksi cuma buat nonton Travel & Time di Indovision.



Tadinya rute liburan kita adalah begini:

SINGAPORE

-




Tapi setelah hampir dua bulan kami diskusi, nyari info tiket, dan keadaan di tempat tujuan segala macem, tiba-tiba mendekati hari keberangkatan yang di prediksi akan jatuh pada akhir July ada berita kalo Hongkong lagi banyak Badai. Wah Weh Woh.


Kita ngga mau ngga liburan. Terpaksa banting stir jadi ke :

SINGAPORE

-



Dimana kami bertekad. Kami akan menjadi Suitcase-r yang hidup ala Backpacker. (nyeeeeh)

Perjalanan akhirnya kami mulai dari CGK menuju SG di pagi yang cerah tapi ngga cerah buat perut gue yang mendadak sakit banget begitu pesawat take off. Gue ngga bisa jelasin sakit apa ini perut. Maag? Ngga, gue ngga punya Maag. Perut gue udah keisi meskipun tadi sempet minum Orange Water yang akhirnya disita petugas Airport. Melilitnya perut gue terjadi sepanjang perjalanan. Kata Ghea, "NERVOUS KALI MELL!"

Tadinya gue ngga percaya. Ah masa iya nervous, kampung banget gue kaya baru pertama kali naek pesawat. Gue pun ngga ngerasa grogi sama sekali sama perjalanan ini, santai-santai aja. Tapi, setelah landing di Changi, menyeret koper keluar pesawat, JENG JENG! Perut gue berenti melilit. Itu masih tanda tanya besar loh sampe sekarang?!

SINGAPORE ♥


Paman Gober bawa tongkat. Berangkat!!
*norak abis*

hotel tempat kita nginep 'View'nya Singapore abis.
dari ketinggian yang bikin kaki gue lemes dan banjir lampu.
tapi tapi, Mahal.. *emoticon nangis*



Gue emang seharusnya ngga teledor sampe lupa bawa charger Kamera dan ngga bisa moto-moto semua tempat-tempat disana, karna sesungguhnya gue selalu lupa hotel di tempat kami nginep, daerahnya aja lupa coba!

*posting ini belum selesai. ternyata sebagian besar daerah tempat makan, belanja sampe rekreasinya gue lupakan begitu aja. gue butuh nanya-nanya dulu ya sama Ghea Nobeng! HAHAHAHA*

-dok. Hamsyeera Kanova Destika-















20100706

Balada Duta Pariwisata

Kenyataan bahwa sebenarnya gue adalah banci tampil emang udah keliatan dari dulu. Tapi banyak yang belum mengakui bahwa gue bukan hanya banci tampil, tapi juga bakat tampil. HAHAHA..

Setelah sekian lama ngga nunjukin muka di atas panggung, kemaren tepatnya pertengahan Juni, gue lolos audisi Kang Nong Kota Tangerang, setelah sebelumnya gagal di Audisi AbNon JakSel. Apa gerangan tiba-tiba gue ikut-ikut ajang pemilihan Duta Pariwisata begini?!

Kalo di depan Juri, gue bakal jawab..

"Saya ingin lebih mendedikasikan diri saya untuk kota ini. Menjadi Duta pariwisata yang tidak hanya memperkenalkan Kebudayaan dan pariwisata Kota Tangerang, tetapi juga belajar bagaimana menjadi salah satu media perantara yang siap menampung gagasan dari masyarakat yang kemudian akan saya sampaikan kepada Walikota untuk direalisasikan. Terima Kasih."

Kalo di depan temen-temen sejiwa seraga sebokek selapar bersama-sama, gue bakal jawab..

"PENASARAN GUE TAHUN 2008 NGGA LOLOS AUDISI!! Sekalian ngisi liburan. Biar dapet makan. Pake kebaya. Belajar elegan. Bisa jalan-jalan. Semua gue lakukan untuk kepentingan diri gue sendiri! HUAHAHA.."

(egoisnya keluar)

Hari pertama audisi. Gue mengucap syukur.. Sungguh Tuhan memberikan keajaibannya hari ini, gue ngecek jam tangan dengan wajah terharu, gue datang sangat ontime!! Bahkan kecepetan, dimana tempat audisinya masih sangat sepi. Sumpah, gue ngerasa seakan-akan di jidat gue tertempel spanduk gede bertuliskan, "WOI GUE NIAT BANGET!!"

Hari kedua Audisi Semifinal. Gue pun mengucap syukur kembali. Gue masih diberi ijin oleh Orang tua Terkasih untuk membawa mobil, padahal tempat Audisinya ngga ada satu kilo dari rumah (kalo jalan kaki pun ngga akan keringetan sama sekali). Sampai akhirnya, Bokap pun memergoki gue berkeliaran di perumahan dengan mobil, dan curiga.

Bokap : Loh kok di sini? Emang audisi dimana kamu, Mba?
Gue : Di..... sebelah kolam renang telaga situ, Pah.

Bokap pun sakit hati.

Dan mengakibatkan kejadian sial menimpa gue. Pertanyaan mematikan keluar juga akhirnya dari Juri.

"Sebutkan 13 kecamatan di Kota Tangerang."


Yang bukan anak KangNong. Yang ngaku anak gaul Tangerang, siapa yang bisa jawab mendadak pertanyaan ini, gue kasih tepuk tangan seharian!!

Bahkan pas ditanya begitu, gue ngga tau selama ini gue tinggal di kecamatan apaaa! Gue jawab Kecamatan Cikokol, gue ulang, KECAMATAN CIKOKOL dong! HELLO. Kecamatan baru tuh? diresmiin kapan tuh?! Mungkin para juri udah mau nyiram gue pake minyak tanah sambil teriak bar-bar..

BAKAR ORANG INI BAKAR!! MERUSAK NAMA BAIK KOTA TANGERANG!!

Okey gue ngaku! (dengan gaya kaya abis dilabrak)
Gue emang ngga perhatian sama status kenegaraan gue. Gue slametan begitu dapet KTP. Gue sujud syukur begitu dapet SIM A. Dan setelah itu gue bodo amat. Iya gue ngaku. Gue emang bego soal beginian. Mana bisa jadi Nong Tangerang, jangankan Nong, dipanggil Neng aja mungkin gue ngga pantes!!
(berlebihan)

Tapi dengan kepercayaan tingkat tinggi. Gue memasrahkan semua kepada Tuhan yang Maha Esa. Biarlah Tuhan yang menilai kepantasan gue berada dipanggung Grand Final nanti.

Komen pacar gue begitu gue laporan kalo gue ngga tau 13 Kecamatan adalah :

"Lo pulang aja mendingan, Yang."

Bahkan orang yang selama ini mempercayakan segala sesuatu sama gue berubah menjadi sangat pesimis. Tapi setelah itu, tanpa banyak bertanya lagi, Gue jadi salah satu Finalis. Luar Biasa sudah mau kiamat dunia ini.

Menjadi Finalis ada enaknya, ada engganya. Buat orang males kaya gue, mungkin yang paling berasa ya ngga enaknya. Kaya misalnya, gue selalu jadi orang yang paling gede ngeluh ketika jadwal karantina dimulai subuh-subuh, tepatnya jam 8 atau jam 9. Dan untuk ukuran orang pelit macem gue, buat ongkos pergi, keluar duit sepuluh ribu aja rasanya udah mau nangis semaleman. Ditambah lagi karantina yang super ketat dan melelahkan, melatih gue nyengir seindah-indahnya dengan pose Nong yang membuat kaki hampir patah-patah, trus latihan koreo dengan 20 orang yang suka bikin gue pengen pura-pura pingsan saking ribetnya. Belum lagi pulang karantina udah malem, dengan tugas ini-itu, makanan dirumah udah pada abis. Saking capenya gue pernah sampe nangis di depan meja makan meraung-raung kelaparan dan ngga ada yang peduli. Kasian, bener-bener kasian.

Masalah dukungan sebenernya gue dapet dukungan penuh dari Orang tua Tercinta, walaupun sebenarnya mereka lah yang menaburi penderitaan gue dengan garam. Mereka lah yang semangat menyeret gue masuk kamar mandi ketika subuh menjelang, bahkan mentari pun masih malu-malu. Mereka lah yang menari poco-poco untuk mengusik tidur gue. Dan mereka lah yang bekerja siang malam untuk membiayai hidup gue.. (jadi ngaco)

Oke, serius. Kembali ke curhat.

Jadi, sekitar 2 hari sebelum akhirnya Grand Final. Ada penilaian yang namanya Unjuk Bakat. Pertama kali denger tentang Bakat. Ngga terbesit apa-apa dibenak gue. Gue hanya sibuk meyakinkan. Ini Mimpi. Ini Mimpi. Bangun Imel. Bangun!

Tapi pada kenyataannya gue tetep harus melewati ini semua, sampai gue sempet putus asa memilih antara menyanyi atau menari atau menangis? Tiba-tiba aja, temen-temen gue sejurusan lagi sibuk ngurusin acara Wayang di Fakultas. AHA! Kenapa ngga gue salurkan aja pengetahuan yang gue dapet di semester satu tentang Wayang! Percuma aja gue selalu nyimak pas Matkul itu, dan percuma juga gue menderita satu kelas sama Tennie sama Adam! (lagi-lagi mengkambing hitamkan orang)

Setelah bekerja memperbaharui layar Wayang yang sudah usang bersama Bokap, membuat wayang-wayang baru yang lucu, menyiapkan lighting, membuat skenario mendadak, dan membuahkan hasil seperti ini..




Dengan wayang-wayang pertumbalan ini, akhirnya gue dinobatkan menjadi Nong Berbakat.
Ask me why?
Gue pasti jawab dengan hafalan gue tentang 13 kecamatan dan alasan, itulah gunanya anda menjadi mahasiswi Fakultas Ilmu Budaya B)

20100602

Fee Love Sophia ♥

Tanggal, 31 Mei kemaren, angkatan gue kembali berangkat ke Bogor untuk menyelesaikan misi yang sempet ketunda 2 hari dari hari seharusnya..

Untuk sekedar penambahan informasi, gue kuliah di Jurusan Filsafat, di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia, dan sepanjang bulan Mei kemaren, tiap weekend, angkatan gue di Filsafat ngadain Bakti Sosial ke Sekolah Luar Biasa di Bogor.

Dan tanggal 31 Mei kemaren adalah penutupan kita buat ngadain Baksos itu kesana.

Berangkat pagi-pagi jam 7 ngumpul di Stasiun UI jelas hanya wacana. Hahaha.. Percaya ngga percaya kita baru menginjakan kaki di Kereta Ekonomi tujuan Bogor sekitar jam 9 kurang, sampai Bogor sekitar jam stgh 10 dan sampai di Sekolah Luar Biasa tertuju udah jam 11. What the ngaret.



Ternyata kedatangan kita benar-benar disambut sama mereka, anak-anak Luar Biasa. Pas ngelewatin gerbang masuk, tiba-tiba Tennie, sang ketua Baksos langsung dipanggil-panggil dan tangannya digandeng-gandeng buat masuk. Ternyata lagi ada acara nari-nari gitu di dalem. Pas masuk sih gue planga-plongo aja nontonin bocah-bocah lincah itu menari-nari Cinta Laura yang lebih mirip tarian persembahan buat pembakaran mayat, ehehe.. tapi beneran loh, bukannya mau ngeledek ya, ini serius, gue ketawa disana karena ya emang kocak. Gue nganggep mereka emang beneran lagi ngelucu makanya wajar-wajar aja kalo gue ketawain. Lagian temen-temen gue semuanya juga ketawa kok, dan ngga ada yang gue pikir ngeluarin ketawa ngeledek.


Selesai mereka menari-nari, tanpa diminta mereka langsung menghampiri kita. Langsung gandengan, langsung rangkul-rangkulan. Gue juga agak bingung sebenernya apa tujuan kita hari itu, sampai Lulu, salah satu temen gue yang tercamen, yang bakalan bikin lo milih lebih baik ninggalin dia daripada temenan sama dia (ahahaha engga Lu, becanda Imeeel!) menjelaskan kalo kita di sini sampe ajal menjemput. Oh iya iya, untung gue tau dia camen jadi gue tanya yang lebih waras dikit, dan ternyata kita stay disini nungguin rombongan yang bawa peralatan Musik untuk disumbangin buat sekolah ini.


Jadilah sepanjang menunggu itu, kita semua melakukan hal-hal absurd.

Masing-masing dengan dunia masing-masing.

Seperti ketika kita lagi mau foto-foto, tiba-tiba ada satu anak yang nangis karna tempat bekelnya ilang. Kasian banget deh, sampe akhirnya kita bantuin cariin ke kelasnya dan ketemu gurunya di kelas itu. Gurunya malah marahin si anak yang lagi terfokus dengan satu hal, menemukan tempat bekelnya.

Guru : ih kamu mah ngerepotin kakak-kakaknya. iya nanti dicariin, kamu lagian naro dimana sih. ih.
Respon guru itu bikin gue mikir, apa menjadi Guru anak-anak Luar Biasa ini butuh kesabaran yang Luar Biasa? Apa ini yang selalu terjadi setiap hari, menghadapi anak-anak dengan kemauan besar yang kadang bikin keteteran?


Ada lagi cerita tentang murid bernama Denis.
Menurut guru-guru yang biasa menangani dia, Denis ini termasuk anak yang membahayakan. Karna beberapa kali dia tidak segan-segan menyerang teman-temannya, sampai teman-temannya luka-luka.

Waktu gue dateng kesana untuk pertama kalinya, Denis memang terlihat sedang diawasi oleh satu guru muda yang sedang magang di sana. Denis dengan asiknya menendang-nendang bola, terlihat sama dengan anak lainnya.

Minggu selanjutnya, kebetulan gue ngga ikut, gue denger cerita kalo Denis sempet ngamuk dan kaki temen gue, si Rahmen, dipeluk sama dia sambil teriak-teriak.

Kemaren untungnya dia cuma sekedar stress karna banyak orang, belum sempet ngamuk, karna keburu dijemput, padahal banyak cewe-cewe yang udah ngumpet2 takut diserang Denis lagi.





Sebagai anak yang (alhamdulillah) terlahir normal, ngerasa miris banget ngeliat hal-hal yang kaya gitu, apalagi gue baru kali itu masuk ke dunia yang Luar Biasa. Tapi untung gue tipe orang Sanguin yang ngga langsung nangis kejer, ngga kaya Lulu, dia mah apa juga nangis.. (ahahaha becanda Lu, Imel becanda!)






Di sebelah ini foto Nunu lagi nyium kakak Adul, lucu banget ya? Kocak banget sebenernya kejadian sebelum ini, jadi anak-anak Luar Biasa di sana, hasrat biologisnya tetep normal. Jadi mungkin si Nunu ini lagi puber-pubernya dan kebetulan lagi naksir sama kakak Adul, hehehe..

Nunu tiba-tiba nyamperin Adul, trus nunjuk-nunjuk belakang Adul kaya ngeliat sesuatu. Pas Adul nengok, eits! Kena deh tuh pipinya sama Nunu. Adegan kiss begini sempet diminta temen-temen gue yang iseng buat diulang. Dan jepret! Asyiiik!



Di sebelah gue ini namanya Siska, dia anak yang paling komunikatif dalam menyampaikan rasa sayangnya buat orang di sekitar dia. Dia sering banget bilang sama gue, sama Tennie dan beberapa kakak-kakak lainnya,

Siska sayang banget sama kakak.. sama temen-temen semuanya



dan mau ngga mau kita terharu sama ucapan-ucapan dia yang begitu polos.


Sepintas beberapa anak di sini terlihat seperti anak-anak normal lainnya. Hanya saja jika kita lebih mendekati mereka, barulah terlihat, anak-anak ini berbeda, anak-anak Luar Biasa.. (T_T)



Bener-bener ngga berasa kalo acara Baksos Filsafat kita udah selesai. Perasaan baru kemaren datengin Ruang Kepseknya buat ijin liat-liat, keliling-keliling, ketemu sama anak-anak lucu yang beda-beda karakter. Sekarang udah harus balik dan tiap weekend ngerem di urusan masing-masing. Tapi, seneng ngga seneng, gue harus jujur kalo gue sebenernya lebih bangga ngeliat temen-temen gue, yang ternyata begitu peduli sama anak-anak Ajaib pemberian Tuhan yang ada di sana, biarpun kelakuan temen-temen gue kadang-kadang diluar nalar dan barbar kaya binatang. Ternyata mereka masih punya kepedulian tingkat tinggi. Bisa mengontrol kapan ngehedon, kapan ngehiden. (lah apa sih?)

Yah, udah weekend ngga ke Bogor lagi, tiap hari juga ngga sama mereka lagi :(

Udah liburan panjang sampe bego nih kampus gueee!

Ooooh, i'll miss you all very fuckin much!




ps. philosophia - feelovesophia.