20090812

Novel di sebuah Word '93

Berawal dari hobi yang 'rajin' (dan agak ngga penting) mendokumentasikan kehidupan cinta gue dalam berbagai bentuk, seperti foto-foto, curhatan di diary, catetan semua sms2, kliping sampe dengan 'rajin' (dan sekali lagi agak kurang penting) gue bikin cerita.

Bukan kali ini aja gue melakukan hal yang buang-buang waktu kayak gitu. Sebelumnya udah banyak dan endingnya... gue jijik sama apa yang udah gue tulis dan gue rekam. Kesannya norak! Hahahaha..

Ngga jarang juga orang-orang malah suka sama cerita tentang percintaan gue. Mereka tertarik sama setiap adegan yang gue lakuin sama cowo gue. Ketika baru jatuh cinta, kemudian menyatakan, berkomitmen, berantem, romantis-romantisan, ketemu pengganggu sampe ketika gue di selingkuhin sama temen gue sendiri. Malah sampe ada yang nangis segala pas baca, sambil bilang..

'Mel.. lo terlalu ngurangin cerita pas adegan ini. Kenyataannya lebih parah. Kenyataannya pasti lebih sakit..'

Ngedengernya gue cuma nahan senyum dan tiba-tiba aja mata gue udah mau basah. Ngga. Gue ngerasa ngga perlu ikut nangis. Biarlah, itu udah berlalu dan untuk menceritakannya aja gue udah bisa ngerasa lega kok..

Setelah itu. Gue ngerasa menemukan lagi pengalaman cinta yang bisa gue jadiin cerita. Gue menjadi pelaku, saksi dan seksi dokumentasi. Gue nulis paragraf pertama cerita ini dengan status masih menjadi wanitanya si pemeran cowo utama di cerita ini, dan paragraf kedua gue lanjutkan ketika udah putus. Hahaha..

Dari situlah gue ngerasa ada gunanya juga gue mendokumentasikan kisah cinta gue dalam berbagai bentuk. Karena ketika butuh referensi menjadikan ini novel Based On True Story, gue ngga usah cape-cape lagi nelpon-nelponin orang-orang yang gue ceritakan di sini.

Gue cukup membawa barang bukti sebuah Diary hitam yang selalu setia menjadi saksi, Foto-foto, sebuah surat dari pihak ketiga, sampai ke tiket-tiket semuanya, dan yang paling penting saat itu adalah bukti SMS-SMS si pemeran cowo utama dari awal PDKT, JADIAN, sampe ke tahap-tahap udah mulai NGGA BERES. Gue pun menunjukan sebab-sebab mengapa si pemeran cowo utama berubah. Gue sampe harus mem-print komen-komen foto di Facebook dan Buletin di Friendster, sekali lagi, itu semua dengan mudahnya gue kumpulkan karna gue suka mendokumentasikan hal-hal kecil selama jadian.

Berikut sinopsis di Folder 'My Words'

Buat Mbe



Reiya

Aku jatuh cinta dengan Dean pada pandangan pertama, aku merasakan ombak pasang surut seperti sudah ada yang mengatur. Aku percaya cinta ini bukan karena kebetulan. Aku dan Dean memang di takdirkan bersama. Kamu bertemu dari suara, bertemu sesama mata dan tidak bisa menghindar ketika hati telah memilih.

Aku yakin Dean mencintaiku juga. Ini cinta yang sempurna. Kendati begitu, akhirnya Tuhan memisahkan cinta kami dengan jarak. Tidak seberapa untuk Dean tapi berarti untukku.
Sesaat ketika Dean balik badan menjauh. Aku merasakan, suatu saat ia akan benar-benar membuatku merasa sendiri. Membuatku menangis lebih keras dari ini, dan meninggalkanku tanpa kata-kata 'akan kembali' seperti yang ia bisikan tadi padaku.

Di saat kami sudah merasa hati sudah menemukan pelengkap. Tiba-tiba Jiamta datang ke dalam hidupku.

Aku tidak ingin egois dan menjadi setan. Menuduh kedatangannyalah yang sudah membuat Dean akhirnya berubah. Dean menjadi seseorang yang tidak bisa ku pegang dengan kehangatannya lagi. Dean menjadi seseorang yang tidak bisa ku pandang dengan tatapan teduhnya lagi. Dean menjadi seseorang yang berbeda. Bukan Dean yang menyuruhku tetap menjadi aku, aku yang pernah membuatnya jatuh cinta berkali-kali setiap harinya.


Pengaruh hadirnya Jiamta makin kuat. Awalnya aku tidak pernah berani menangis dan memeluknya, kini aku tidak tahan untuk tidak di peluk. Aku sudah menjadikan diriku salah. Maka sudahlah, jangan terlalu bertahan ada di posisi benar.

Aku yang mencintai Dean, Dean yang tidak lagi mencintaiku dan Jiamta yang selalu berada di belakangku, berusaha menculik hatiku untuk bersamanya, bukan bersama Dean. Aku merasa penyangga di antara kami tidak saling menguatkan.

Sekali lagi aku merasa pertemuanku dan Dean bukan karena kebetulan. Aku dan dirinya di persatukan karena takdir yang menginginkan. Tapi pertemuanku dengan Jiamta terlalu kebetulan. Aku bertemu dengannya setelah bersama Dean. Kami di takdirkan hanya menjadi teman, biarpun sering kali aku merasa terlalu ingin memilikinya.


Andai aku bisa melihat masa depan. Aku akan memutuskan untuk bersama siapa. Bersama Dean yang tidak juga melepasku atau dengan Jiamta yang terus menyatakan dan tetap membahagiakan.


Jiamta

Aku bukan orang yang mudah jatuh cinta. Dengan orang asing aku selalu terlihat dingin, tapi tidak dengan dua orang ini, Reiya dan Fessi, yang baru ku temui di kelas tadi. Mengetahui mereka bersahabat dekat, membuatku selalu ingin tahu apa yang membuat mereka sering kali bertengkar di depanku.

Reiya yang memiliki kekasih, ketus, menyimpan berbagai lipatan risau dan suka menangis diam-diam.

Fessi yang juga memiliki kekasih juga, cerewet, tidak pernah terlihat risau, terlihat seperti jera menjalani hubungan serius.

Kami melewati hari-hari di kampus sebagai tiga orang sahabat. Dan aku jatuh cinta pada Reiya, sementara Fessi jatuh cinta padaku. Membuat kami seperti berputar-putar dengan masalah yang itu-itu saja sebelum salah satu dari kami menghilang dan selesai. Aku belum ingin menyerah. Aku mencintai Reiya, Fessi dan Reiya yang harus menyerah.

Kini, semakin hari aku merasa harus semakin melindungi Reiya, dengan wajahnya yang selalu pura-pura ceria, ia sebenarnya rapuh. Tidak ada penopang, tidak punya semangat pasti, meskipun setiap saat ia memandangi foto Dean dengan bibir komat-kamit menyatakan rindu. Dean tidak bisa dengar, aku bilang. Menurutku Dean juga tidak membalas bisikannya, aku pikir.

Aku harus cepat berada di sampingnya sebelum Reiya mati karena cintanya sendiri.

Ia memelukku. Menangis di pelukanku. Bukan untuk menjawab semua pengutaraan cintaku tapi untuk mengeluh hatinya yang semakin hancur dengan masih bersama Dean. Berulang kali di sakiti dan ia enggan pergi. Aku sakit. Merasakan benci dan cinta dalam satu masa. Cepat jawab pengutaraan cintaku. Waktuku sudah sempit, tapi aku akan tetap memilih Reiya.


Dean

Kalau Reiya tanya apa aku pernah mencintainya. Aku akan jawab dengan pasti, aku pernah mencintainya dengan setulus hatiku. Ia juga pernah membuatku jatuh bangun dalam terjun deras perasaan ini. Dan kalau Reiya menuduhku pembohong besar, aku akan mengelak dengan tegas. Reiya memang pernah menjadi salah satu semangatku. Reiya juga pernah menjadi rinduku dan membuatku gila dengan hanya memikirkannya.

Meskipun aku merasa hidupku bukan hanya untuk bersamanya. Aku sudah menemukan Reiya dan ingin menjalani hari-hari dengannya, tapi kadang tiba-tiba tidak ingin lagi.


Aku merasa hidupku akan sempurna tanpa dirinya. Reiya yang terlalu bergantung denganku, terlalu sulit berubah menjadi apa yang ku mau dan hanya berusaha di batas kemampuannya, padahal aku selalu mengharap lebih.

Aku tahu ini semua akan berakhir tapi tidak tahu kapan. Aku ingin Reiya menjadi hebat dulu baru aku bisa melepasnya. Aku harus terus ada di sampingnya sampai ia mengenali dirinya sendiri. menjadi lebih baik dengan usahanya sendiri.

Menyusun motivasi tanpa ada namaku. Aku tidak ingin perpisahan kami nantinya justru dapat merusak hidupnya. Aku ingin ia mencari jalannya sendiri, tanpa aku, secepatnya. Kami di takdirkan bersatu, karena aku seperti di tunjuk untuk merubah arah hidupnya.

Aku berharap, beberapa tahun lagi setelah kami pisah nanti, Reiya yang sudah menjadi wanita dewasa, stabil dan matang datang menemuiku, tersenyum padaku, meskipun aku tidak akan memintanya kembali denganku..




Hmm.. segini aja sinopsisnya. Biar tetep penasaran.. Hahahaha
keep writing, mell. ♥

No comments: