Sri dan pacarnya memasuki bulan ke 11. Belum juga kupu-kupu itu penuhi rongga perut yang terasa sudah banyak bunga. Tidak pernah ada perasaan menggelitik itu sampai ke puncak. Namun Sri masih menunggu, mau menunggu, masih mau menunggu.
"Ini cuma cara kita aja yang beda. Kamu begitu caranya cinta sama saya, saya begini caranya cinta sama kamu.", terang bang Teuku sambil menyetir mobil ke arah rumah Sri. Sri selalu lupa menanyakan lebih lanjut dari begitu dan begini versi pacarnya itu, karna sebenarnya hal itu yang Sri keluhkan setiap ia merasa mengalir di arus yang tidak ia inginkan.
"Aku udah ngejalanin sama banyak mantanku. Di bulan-bulan kaya kita sekarang, itu romansanya selalu indah, Bang. Dunia milik berdua, dibungkus wallpaper cinta. Kita, ngelewatin masa-masa kasmaran aja engga, dingin.", Sri bicara sambil memandangi bang Teuku seksama.
"Kamu yang terlalu banyak nonton drama..... Drama korea."
"Atau kamu yang ngga secinta itu?"
Bang Teuku melirik. Ia menarik tangan Sri pelan agar kepala Sri mendekat ke bahunya. Ia cium kening Sri hangat. "Maksudnya ngga pernah kasmaran tuh kaya gimana sih Mba? Kamu maunya kaya gini setiap hari?"
Sri mengangguk.
"Ya udah, saya usahain."
Sri lagi-lagi lupa, janji bang Teuku belum pernah ada yang sempat ia tepati. Terlebih untuk hubungan yang sedang mereka jalani.
Sri tidak pernah benar-benar merasa didatangi kupu-kupu di perutnya, entah mungkin mati atau enggan. Bunga-bunga di dalam perutnya pun ia tanami sendiri, ia siram sendiri. Kadang merasa butuh bantuan untuk mengundang kupu-kupu datang, tapi kepada siapa. Yang ia punya sekarang, seperti tidak mau tau kupu-kupu seperti apa ditunggu Sri.
20160331
Tulisan di Kepala #1
Sri menyenderkan kepalanya ke pagar rumah sambil memainkan ponselnya. 5 menit yang lalu, sang suami, bang Teuku menelpon minta disambut di depan pagar. Setelah berganti pakaian dari daster menjadi pakaian sabrina dengan bahu terbuka, ia berlari riang keluar rumah, mengintip dari balik pagar dan suasana subuh itu masih sepi, para tetangga belum ada yang memulai aktivitas rumahnya masing-masing.
Di jam ini, beberapa kali Sri ingat menyambut bang Teuku pulang dengan tampilan cantik rambut tergerai dan baju sedikit seksi mengingat suaminya mudah tergoda olehnya. Ia mengecek wajahnya yang baru bangun namun meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia sudah cukup cantik untuk keluar rumah.
Terdengar suara mesin mobil mendekat, belum sampai di depan rumah, Sri sudah membuka pagar mempersilahkan suaminya memarkirkan mobilnya ke dalam garasi. Terlihat samar-samar wajah bang Teuku sumringah dan seperti teriak-teriak riang di dalam mobil melihat istrinya, begitupun Sri melompat-lompat kecil tidak sabar menyuruh suaminya turun dari mobil. Sudah 5 hari tidak bertemu membuat mereka seperti dua anak kecil bertemu permen dan coklat kesukaannya.
"Assalamualaikum.."
Sri mencium tangan suaminya, dan suaminya mengecup keningnya.
"Walaikumsalam...."
Sri bangun dari mimpinya.
"Kita sudah pertimbangkan resikonya sejak awal, Bang. Sejak kamu bilang, kamu sudah memasuki usia menikah. Saat itu kita dalam keadaan sadar, benar-benar sadar. Profesi dan prioritas, kita mau bilang apa sekarang karna semua sudah pernah kita sepakati.", Sri mengambil nafas. "Kamu seperti cuma mau bilang, kalau kita salah jalan..."
"Saya... hanya tidak secinta itu."
Airmata yang ia tahan selama sekian tahun, akhirnya tumpah juga. Tanpa isakan, Sri hanya terlalu siap untuk menghadapi kata-kata itu. Ia pun menandatangani gugatan cerai suaminya.
Di jam ini, beberapa kali Sri ingat menyambut bang Teuku pulang dengan tampilan cantik rambut tergerai dan baju sedikit seksi mengingat suaminya mudah tergoda olehnya. Ia mengecek wajahnya yang baru bangun namun meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia sudah cukup cantik untuk keluar rumah.
Terdengar suara mesin mobil mendekat, belum sampai di depan rumah, Sri sudah membuka pagar mempersilahkan suaminya memarkirkan mobilnya ke dalam garasi. Terlihat samar-samar wajah bang Teuku sumringah dan seperti teriak-teriak riang di dalam mobil melihat istrinya, begitupun Sri melompat-lompat kecil tidak sabar menyuruh suaminya turun dari mobil. Sudah 5 hari tidak bertemu membuat mereka seperti dua anak kecil bertemu permen dan coklat kesukaannya.
"Assalamualaikum.."
Sri mencium tangan suaminya, dan suaminya mengecup keningnya.
"Walaikumsalam...."
Sri bangun dari mimpinya.
"Kita sudah pertimbangkan resikonya sejak awal, Bang. Sejak kamu bilang, kamu sudah memasuki usia menikah. Saat itu kita dalam keadaan sadar, benar-benar sadar. Profesi dan prioritas, kita mau bilang apa sekarang karna semua sudah pernah kita sepakati.", Sri mengambil nafas. "Kamu seperti cuma mau bilang, kalau kita salah jalan..."
"Saya... hanya tidak secinta itu."
Airmata yang ia tahan selama sekian tahun, akhirnya tumpah juga. Tanpa isakan, Sri hanya terlalu siap untuk menghadapi kata-kata itu. Ia pun menandatangani gugatan cerai suaminya.
20151227
My First Time Coffee
Kehilangan daya untuk menulis ternyata mengerikan,
Sama rasanya seperti terjebak di pasar malam dengan orang yang kurang mengerti cara bahagia.
Rasanya banyak alasan untuk sekedar buang muka kala toleransi nyaris putus dan ide untuk memulai tidak lagi ada.
Kehilangan cara untuk menjelaskan apa yang tidak ada di depan mata tetapi tersusun rapih di kepala.
Kehilangan murka,
Kehilangan kata.
Mengartikan rasa jatuh cinta yang tidak lagi bisa.
Yang ingin jemari ini tau,
Ada kafein yang berhasil menembus batas untuk selamat.
Untuk menghentikan degup jantung tak bertujuan.
Dan mengakhiri dialog minta tolong.
Pertama bertemu dengan orang yang sangat mengerti apa itu bahagia,
Dalam pengaruh kopi dan percakapan sederhana.
Mellisa, 28 Desember 2015
Sama rasanya seperti terjebak di pasar malam dengan orang yang kurang mengerti cara bahagia.
Rasanya banyak alasan untuk sekedar buang muka kala toleransi nyaris putus dan ide untuk memulai tidak lagi ada.
Kehilangan cara untuk menjelaskan apa yang tidak ada di depan mata tetapi tersusun rapih di kepala.
Kehilangan murka,
Kehilangan kata.
Mengartikan rasa jatuh cinta yang tidak lagi bisa.
Yang ingin jemari ini tau,
Ada kafein yang berhasil menembus batas untuk selamat.
Untuk menghentikan degup jantung tak bertujuan.
Dan mengakhiri dialog minta tolong.
Pertama bertemu dengan orang yang sangat mengerti apa itu bahagia,
Dalam pengaruh kopi dan percakapan sederhana.
Mellisa, 28 Desember 2015
20150913
Umur ini.
Kontemplasi adalah sujud yang paling seksi.
Renungan dengan dorongan pikiran, penghapusan penyesalan dan meletakan sasaran baru untuk ditembaki habis-habisan.
Sudah di penghujung ini, mereka bertanya, maka kelak harus buat apa lagi?
Ribuan lembaran terlepas dari bukunya, dan tidak perlu lagi berlari mengumpulkan hanya agar tidak lupa.
Hati ini menyimpan banyak proses yang berjalan tanpa perlu dicatat. Hati ini sudah kaya dengan segala rupa dunia yang ada.
Kemarin, kemarin dan kemarin.
Jiwanya sempurna, mereka berkata.
Sudah habiskan umur untuk berbuat segala yang disuka.
Sudah habiskan umur untuk hampir koleksi dosa.
Sudah habiskan umur untuk membuang yang penting dan mati untuk disiksa.
Jiwanya sempurna? mereka bertanya.
Kelak saat sudah bisa mengikhlaskan apa yang pernah tidak bisa, maka pengampunan untuk tetap berguna tidak jadi sia-sia.
Meski kadang mau lupa, bahwa tidak semua manusia punya tujuan sama.
Beberapa hanya mau bahagia. Hanya tidak ingin sengsara.
Hanya tidak ingin terus mencinta. Hanya tidak mau menunggu.
Hanya tidak mau tau. Hanya ingin jadi satu.
Hanya di umur ini, kami bisa begitu.
20150318
Marah
Jangan ajak saya berenang di parit yang sempit dan kotor saat seharusnya saya bisa renangi samudra dengan warna tosca dan bau surga. Dengan absurditas minimal dan cerita-cerita yang masuk akal. Jangan ajak saya bergurau tentang hidup saat seharusnya saya bergurau tentang semesta dan bulan. Yang tidak mungkin bisa saya atur keindahan dan terang cahayanya. Ajak saya bicara tentang sesuatu yang liar dan ada di luar nalar. Saya suka melompati garis yang dibuat untuk mengatur dan membatasi senang. Saya suka kamu tanpa pakaian.
Karna pakaian itu tidak cocok kamu kenakan di pantai dengan lima matahari.
Pakaian itu tidak bicara banyak tapi terdengar paling merdu saat benar-benar diam. Pakaian yang kamu kenakan usang dan pernah aku buang.
Apa yang melekat membuat kamu tidak seseksi saat kamu telanjang.
Jangan marah.
Saya tidak sedang menggoda. Hanya menawarkan logika yang ada.
Subscribe to:
Posts (Atom)