20150318

Marah

Jangan ajak saya berenang di parit yang sempit dan kotor saat seharusnya saya bisa renangi samudra dengan warna tosca dan bau surga. Dengan absurditas minimal dan cerita-cerita yang masuk akal. Jangan ajak saya bergurau tentang hidup saat seharusnya saya bergurau tentang semesta dan bulan. Yang tidak mungkin bisa saya atur keindahan dan terang cahayanya. Ajak saya bicara tentang sesuatu yang liar dan ada di luar nalar. Saya suka melompati garis yang dibuat untuk mengatur dan membatasi senang. Saya suka kamu tanpa pakaian.

Karna pakaian itu tidak cocok kamu kenakan di pantai dengan lima matahari.
Pakaian itu tidak bicara banyak tapi terdengar paling merdu saat benar-benar diam. Pakaian yang kamu kenakan usang dan pernah aku buang.

Apa yang melekat membuat kamu tidak seseksi saat kamu telanjang.

Jangan marah.

Saya tidak sedang menggoda. Hanya menawarkan logika yang ada.

20150131

Negasi Baru

Banting stir. Maneuver.
Itu yang beberapa bulan terakhir ini gue lakukan.

Sekolah pilot.
Mendadak berenti jadi mahasiswi Filsafat karna semuanya udah lebih absurd.
Mendadak gila. Karna teori yang selama ini gue pikir cuma teori, beneran gue temuin di kehidupan nyata.
Ternyata ada kehidupan yang lebih bodoh dari yang pernah gue bayangkan. Kehidupan yang harus gue mulai semua dari awal.

Karna gue menghirup udara yang sama dengan mereka tiap hari, gue nyoba buat ngerti kenapa. Gue nyoba buat mencari tau apa yang ada di baliknya. Gue nyoba mengartikan beberapa kepercayaan yang kalo dicerna makin bikin sakit jiwa.

Mau marah percuma, karna yang diperluin sedikit strategi bawah tanah dengan ancang-ancang super pelan dan nyoba jadi bego beneran. Tekad gue cuma satu, balikin akal sehat di sekolah yang jadi impian banyak orang. Dengan teriakan super ganggu "Jaga nama baik, woy. Ngga ada yang tau di dalem ada begini-beginian." memacu gue buat balikin nama sekolah sejajar dengan tujuan awal. Buang-buangin topeng sok pinter buat nutupin kebodohan yang beranak pinak di sini. Ngusir tradisi usang bawaan negeri orang, yang dilabelin jadi tradisi Indonesia. Padahal Indonesia ngga pernah jajah negara orang, apalagi negaranya sendiri.

Beruntung ada banyak kepala sepakat. Beruntung keluarga bentukan beneran jadi keluarga sepenanggungan. Beruntung bibit-bibit pinter itu ngga mati setelah disiram sama banyak kebaikan meskipun angin di luar segitu kencengnya bikin mual.

Ada banyak keberuntungan muncul saat berhasil menegasikan yang negatif. Dan kesesatan muncul saat menghasilkan afirmasi yang negatif. Pilih mana?

Semoga raungan pikiran ini dicerna baik.

Sabar

Kami selalu mengakhiri pembicaraan dengan dingin akhir-akhir ini,
Tidak sadar bahwa jarak semakin lama semakin berarti.
Atau kami hanya kalah melawan benci yang suka datang sembarangan dan pergi tanpa permisi.

Tapi saya tau,
Kalau itu bukan dia, maka saya tidak sesederhana itu mengulur waktu dan memintanya menunggu.
Saya pasti sudah jauh-jauh hari minta dia pergi.

Tapi ternyata dia yang kurang tau,
Bahwa disetiap keluhannya, saya pun mengeluhkan hal yang sama.
Disetiap sabarnya, saya juga ingin berontak untuk bertanya 'kenapa'.

Sabar,
Orang sabar akan selamanya diminta sabar.


20131229

Teman Tapi Menyesal

Kegiatan menyetir kembali ke rumah selalu jadi yang favorit. Karna kepala gue bakalan penuh dengan kegiatan yang baru aja gue selesaikan atau sedang mengatur kegiatan selanjutnya buat hari besok. Pernah suatu hari gue berkhayal sambil nyetir pulang. Gue lagi ada di talkshow dan gue diajukan beberapa pertanyaan standar namun sentimental, seperti... Pengalaman buruk, hal yang paling gue sesali, jika terlahir kembali ingin jadi siapa atau ingin memperbaiki apa...

Semula gue pikir gue akan jadi orang yang paling cuek dengan jawab, "tidak ada gunanya menyesal, saya hanya ingin jadi diri saya sendiri dan tidak memperbaiki apa-apa, karena semua sudah terjadi..", tapi...... Kemudian jawaban itu langsung mengingatkan gue pada banyak hal yang seharusnya tidak gue lalui, atau bahkan, membuat gue seharusnya tidak begini. Seperti, kehilangan banyak sahabat di masa-masa gue masih sangat menyayangi mereka.

Gue pernah kuliah di Binus, hanya setahun, tapi ikatan emosional yang udah kebentuk kaya bertaun-taun. Gue ngaku gue alay banget waktu itu dan gue serta-merta menyalahkam sahabat-sahabat gue di sana, tapi pertemanan kami pertemanan terbaik di usia itu. Kami melewati hari-hari dengan sukacita bergembira, lari ke sana-kemari tanpa beban, bisa sangat mendengarkan dan jauh dari sirik-sirikan, bahkan bisa mengharamkan ghibah apabila terhadap orang yang menurut kami tidak pantas dizalimi. Pertemanan kami cukup etis dan romantis.

Tapi mungkin di sini, letak penyesalan gue yang paling dalam. Sering setelah itu gue memikirkan kenapa gue memutuskan untuk pindah, sementara gue menyayangi mereka tanpa tapi. Mereka blangsak, mereka pembuat onar, mereka liar, mereka klepto, mereka lesbi dan mereka sayang gue. Kata penyesalan selalu membawa gue ke sini, saat gue memilih untuk mempercayai seorang laki-laki dibanding temen-temen gue. Bukan salah siapa-siapa, semua salah gue. Gue terlalu egois, terlalu naif, temen gue jadi korban dan persahabatan itu ngga bisa difreeze.

Persahabatan itu berjalanan seiring dengan waktu dan melewati masa-masa senang-sulit bersama-sama. Saat gue pergi, keadaan sedang sulit, dan ngga ada yang bisa nyelametin selain kenangan semasa itu. Gue menciptakan kesalahan terbesar untuk sahabat terbaik gue semasa SMA dan tahun pertama di binus, saat itu gue egois dengan mengumpulkan kesalahannya juga. Kami bertengkar, saling mengumbar kesalahan, saling menjauhi dan mengakhiri. Gue ngga sadar, saat gue kehilangan dia, gue juga kehilangan sahabat-sahabat terbaik gue di binus.

Selama 4 tahun gue mencoba untuk melupakan semua yang membentuk gue di satu tahun terbaik dalam hidup. Mencoba melupakan apa yang menjadi kebiasaan, apa yang menarik kenangan untuk kembali, apa yang ada di hari-hari tapi tidak di hati. Gue kosong, seperti patah hati. Dan andai, ada pertanyaan apa yang terburuk dan disesali dalam hidup namun bisa membantu gue untuk memperbaiki, gue cuma mau bilang dan minta, antarkan gue ke 6 tahun yang lalu, dan gue akan mempersiapkan diri jadi sahabat terbaik untuk mereka.


Mellisa, 29 Desember 2013.

20131217

Mau Setaunan

Yak!

Selamat datang hei para manusia tersesat di blog yang mau setaunan gitu deh ditinggal sama nyang punye. Kalo blog ini cewe udah berabe banget ditinggal setaunan bisa tiba-tiba depresi trus muncul di acara YKS jadi penonton yang jogetnya sambil merem. Kalo blog ini cowo udah ngga peduli sampe harus bongkar kuburan buat terbang pake kain kafan.

Oke, selamat menikmati lagi kehidupan absurd anda masing-masing. Doain saya jadi artis, supaya ngga sia-sia anda semua buka blog saya lagi.

Assalamua'alaikum ya ta'arufianian. Wkwk byebye!