Kami selalu mengakhiri pembicaraan dengan dingin akhir-akhir ini,
Tidak sadar bahwa jarak semakin lama semakin berarti.
Atau kami hanya kalah melawan benci yang suka datang sembarangan dan pergi tanpa permisi.
Tapi saya tau,
Kalau itu bukan dia, maka saya tidak sesederhana itu mengulur waktu dan memintanya menunggu.
Saya pasti sudah jauh-jauh hari minta dia pergi.
Tapi ternyata dia yang kurang tau,
Bahwa disetiap keluhannya, saya pun mengeluhkan hal yang sama.
Disetiap sabarnya, saya juga ingin berontak untuk bertanya 'kenapa'.
Sabar,
Orang sabar akan selamanya diminta sabar.
20150131
20131229
Teman Tapi Menyesal
Kegiatan menyetir kembali ke rumah selalu jadi yang favorit. Karna kepala gue bakalan penuh dengan kegiatan yang baru aja gue selesaikan atau sedang mengatur kegiatan selanjutnya buat hari besok. Pernah suatu hari gue berkhayal sambil nyetir pulang. Gue lagi ada di talkshow dan gue diajukan beberapa pertanyaan standar namun sentimental, seperti... Pengalaman buruk, hal yang paling gue sesali, jika terlahir kembali ingin jadi siapa atau ingin memperbaiki apa...
Semula gue pikir gue akan jadi orang yang paling cuek dengan jawab, "tidak ada gunanya menyesal, saya hanya ingin jadi diri saya sendiri dan tidak memperbaiki apa-apa, karena semua sudah terjadi..", tapi...... Kemudian jawaban itu langsung mengingatkan gue pada banyak hal yang seharusnya tidak gue lalui, atau bahkan, membuat gue seharusnya tidak begini. Seperti, kehilangan banyak sahabat di masa-masa gue masih sangat menyayangi mereka.
Gue pernah kuliah di Binus, hanya setahun, tapi ikatan emosional yang udah kebentuk kaya bertaun-taun. Gue ngaku gue alay banget waktu itu dan gue serta-merta menyalahkam sahabat-sahabat gue di sana, tapi pertemanan kami pertemanan terbaik di usia itu. Kami melewati hari-hari dengan sukacita bergembira, lari ke sana-kemari tanpa beban, bisa sangat mendengarkan dan jauh dari sirik-sirikan, bahkan bisa mengharamkan ghibah apabila terhadap orang yang menurut kami tidak pantas dizalimi. Pertemanan kami cukup etis dan romantis.
Tapi mungkin di sini, letak penyesalan gue yang paling dalam. Sering setelah itu gue memikirkan kenapa gue memutuskan untuk pindah, sementara gue menyayangi mereka tanpa tapi. Mereka blangsak, mereka pembuat onar, mereka liar, mereka klepto, mereka lesbi dan mereka sayang gue. Kata penyesalan selalu membawa gue ke sini, saat gue memilih untuk mempercayai seorang laki-laki dibanding temen-temen gue. Bukan salah siapa-siapa, semua salah gue. Gue terlalu egois, terlalu naif, temen gue jadi korban dan persahabatan itu ngga bisa difreeze.
Persahabatan itu berjalanan seiring dengan waktu dan melewati masa-masa senang-sulit bersama-sama. Saat gue pergi, keadaan sedang sulit, dan ngga ada yang bisa nyelametin selain kenangan semasa itu. Gue menciptakan kesalahan terbesar untuk sahabat terbaik gue semasa SMA dan tahun pertama di binus, saat itu gue egois dengan mengumpulkan kesalahannya juga. Kami bertengkar, saling mengumbar kesalahan, saling menjauhi dan mengakhiri. Gue ngga sadar, saat gue kehilangan dia, gue juga kehilangan sahabat-sahabat terbaik gue di binus.
Selama 4 tahun gue mencoba untuk melupakan semua yang membentuk gue di satu tahun terbaik dalam hidup. Mencoba melupakan apa yang menjadi kebiasaan, apa yang menarik kenangan untuk kembali, apa yang ada di hari-hari tapi tidak di hati. Gue kosong, seperti patah hati. Dan andai, ada pertanyaan apa yang terburuk dan disesali dalam hidup namun bisa membantu gue untuk memperbaiki, gue cuma mau bilang dan minta, antarkan gue ke 6 tahun yang lalu, dan gue akan mempersiapkan diri jadi sahabat terbaik untuk mereka.
Mellisa, 29 Desember 2013.
Gue pernah kuliah di Binus, hanya setahun, tapi ikatan emosional yang udah kebentuk kaya bertaun-taun. Gue ngaku gue alay banget waktu itu dan gue serta-merta menyalahkam sahabat-sahabat gue di sana, tapi pertemanan kami pertemanan terbaik di usia itu. Kami melewati hari-hari dengan sukacita bergembira, lari ke sana-kemari tanpa beban, bisa sangat mendengarkan dan jauh dari sirik-sirikan, bahkan bisa mengharamkan ghibah apabila terhadap orang yang menurut kami tidak pantas dizalimi. Pertemanan kami cukup etis dan romantis.
Tapi mungkin di sini, letak penyesalan gue yang paling dalam. Sering setelah itu gue memikirkan kenapa gue memutuskan untuk pindah, sementara gue menyayangi mereka tanpa tapi. Mereka blangsak, mereka pembuat onar, mereka liar, mereka klepto, mereka lesbi dan mereka sayang gue. Kata penyesalan selalu membawa gue ke sini, saat gue memilih untuk mempercayai seorang laki-laki dibanding temen-temen gue. Bukan salah siapa-siapa, semua salah gue. Gue terlalu egois, terlalu naif, temen gue jadi korban dan persahabatan itu ngga bisa difreeze.
Persahabatan itu berjalanan seiring dengan waktu dan melewati masa-masa senang-sulit bersama-sama. Saat gue pergi, keadaan sedang sulit, dan ngga ada yang bisa nyelametin selain kenangan semasa itu. Gue menciptakan kesalahan terbesar untuk sahabat terbaik gue semasa SMA dan tahun pertama di binus, saat itu gue egois dengan mengumpulkan kesalahannya juga. Kami bertengkar, saling mengumbar kesalahan, saling menjauhi dan mengakhiri. Gue ngga sadar, saat gue kehilangan dia, gue juga kehilangan sahabat-sahabat terbaik gue di binus.
Selama 4 tahun gue mencoba untuk melupakan semua yang membentuk gue di satu tahun terbaik dalam hidup. Mencoba melupakan apa yang menjadi kebiasaan, apa yang menarik kenangan untuk kembali, apa yang ada di hari-hari tapi tidak di hati. Gue kosong, seperti patah hati. Dan andai, ada pertanyaan apa yang terburuk dan disesali dalam hidup namun bisa membantu gue untuk memperbaiki, gue cuma mau bilang dan minta, antarkan gue ke 6 tahun yang lalu, dan gue akan mempersiapkan diri jadi sahabat terbaik untuk mereka.
Mellisa, 29 Desember 2013.
20131217
Mau Setaunan
Yak!
Selamat datang hei para manusia tersesat di blog yang mau setaunan gitu deh ditinggal sama nyang punye. Kalo blog ini cewe udah berabe banget ditinggal setaunan bisa tiba-tiba depresi trus muncul di acara YKS jadi penonton yang jogetnya sambil merem. Kalo blog ini cowo udah ngga peduli sampe harus bongkar kuburan buat terbang pake kain kafan.
Oke, selamat menikmati lagi kehidupan absurd anda masing-masing. Doain saya jadi artis, supaya ngga sia-sia anda semua buka blog saya lagi.
Assalamua'alaikum ya ta'arufianian. Wkwk byebye!
Selamat datang hei para manusia tersesat di blog yang mau setaunan gitu deh ditinggal sama nyang punye. Kalo blog ini cewe udah berabe banget ditinggal setaunan bisa tiba-tiba depresi trus muncul di acara YKS jadi penonton yang jogetnya sambil merem. Kalo blog ini cowo udah ngga peduli sampe harus bongkar kuburan buat terbang pake kain kafan.
Oke, selamat menikmati lagi kehidupan absurd anda masing-masing. Doain saya jadi artis, supaya ngga sia-sia anda semua buka blog saya lagi.
Assalamua'alaikum ya ta'arufianian. Wkwk byebye!
20121103
Rahadyan Herbisworo
"Non. udah tau siapa saya?", ini kata-kata pertama yang diucapin sama orang di depan gue. Gue yang sempet ngintip sedikit mengangguk dengan mata tertutup, tangan gue menggenggam tangan dia, meraba kekasaran telapaknya, lelaki ini sepertinya pekerja keras. Mungkin supir kereta antar negara.
Dan berhubung kami seusia, kata-kata "saya" dia ganti jadi "gua", lelaki ini adalah Abang Dyan, pasangan gue selama karantina di Jakarta Barat. Dari awal masuk sampai udah malam final, hubungan gue dan Dyan diwarnai percanggungan dari diem-dieman, ngomongin orang, menyimpulkan banyak hal, sampai berantem-berantem kecil dimana setiap hari mood kita berdua ngga ada yang bisa nebak. Apakah kelinci ataukah gorila.
Taurus yang satu ini emang jelas ngga pernah click sama gue. Saat kami berdua dipasangkan, saat itu juga kami saling berusaha mendekatkan. Abang Dyan berusaha melayani gue selayaknya seorang Abang ke Nonenya. Menanyakan keberadaan gue setiap pagi, membawakan box make-up dan perintilan None saat gue datang, memperhatikan penampilan gue, ambilin makan-minum tiap jam istirahat, nganterin gue sampe mobil dan say "bye bye, jangan kenapa-kenapa di jalan." (karna gue yg bakal repot tanggung jawab men!) sesederhana itu chemistry kita buat jadi pasangan dengan nomer 19-20.
Sampai suatu hari, kami berdua dihadapkan dengan keheningan dalam ruangan. Gue ngegebuk dia pake selop untuk mencairkan suasana *None barbar*. Menanyakan perihal pasangan masing-masing, Dyan cerita, pacarnya yang sekarang adalah pacar pertamanya. Cantik, yang jelas dia seneng banget karna pacarnya pengertian udah mau percaya saat dia harus di karantina. Gue yang ngedengerin ikut seneng, berhubung gue pun memiliki pacar yang juga pengertian dan mendukung gue untuk ikut karantina ini, maka kita mulai membangun komitmen bahwa harus menjaga perasaan pasangan masing-masing selama karantina ini. Dyan mulai mengawasi gerak-gerik gue dan selalu iseng buat ngomong, "Non, punya pacar Non." kalo muka gue udah terperangah sama kegantengan Abang-Abang senior yang dateng selama karantina. Begitupun gue, yang suka nakut-nakutin dia kalo dia mulai komen "Nonenya cantik." dengan kata-kata, "Bang lu mau lu diputusin cewe lu.". Dyan langsung geleng-geleng keras, "Gue di sini homo, Non. Ngga doyan None."
Meskipun Dyan adalah teman gossip yang baik dan pengkomen yang sinis, Dyan tidak serta-merta menceritakan semuanya sebelum gue yang nanya. Sampai ketika dia harus ngajuin ijin untuk tidak ikut karantina besok, menurut alasan yang diajukan ke senior, dia harus ngerjain proyek di kampusnya. Saat nganterin gue ke mobil, gue sempet nanya alasan dia sebenernya kenapa ambil ijin.
"Gue mau jalan Non sama cewe gue. Kangen."
Rasanya terharu banget, gue langsung menepuk pundaknya. "Tenang Bang, besok gue yang ambil alih semuanya di karantina!" jelas gue bahagia dengan cara komunikasi kita, ngga perlu akrab tapi tau satu sama lain, gue ngerasa Dyan tepat memposisikan diri sebagai pasangan gue selama karantina.
Saat foto angkatan Jakarta Barat 2012 kemaren, gue langsung memeluk Dyan kangen begitu dia memanggil nama gue. Rasanya rindu juga sama masa-masa karantina bareng dia yang boring karna emang ngga bisa balik lagi dan chemistry kita yang masih sebatas itu-itu aja. Dyan masih sama cewenya, sementara gue udah ngga sama siapa-siapa. Dyan menepuk bahu gue menguatkan, seperti berkata, suatu hari akan ada cowo yang benar-benar buat gue sekalipun ia harus sibuk dengan tugasnya, dan rela ngaku homo untuk sekedar jaga kesetiaannya.
20120318
Hanya Aku Pinjam Sebentar
Kamu bukan satu-satunya peluh yang pernah ku seka.
Kamu bukan satu-satunya debu yang pernah menggelapkan mata.
Kamu bukan satu-satunya nyawa yang sekarang sudah mati.
Dan kamu bukan satu-satunya hati yang pernah ku pinjam namun tak ku kembalikan lagi.
Banyak raungan datang karna luka.
Airmata turun yang tidak butuh hujan.
Janji mengucap dengan ingkar tidak setuju.
Rasa itu, kamu bilang, perih belum terlukiskan.
Atau aku hanya manusia pendamba damai.
Sebagaimana aku sudah hidup penuh dengan duri.
Bila kamu bukan satu bulan yang kutunggu.
Maka hatimu hanya aku pinjam sebentar tuk temani, sepi dari mimpi.
Yang sering kunikmati.
Tanpa pernah ia kutemui.
Kamu bukan satu-satunya debu yang pernah menggelapkan mata.
Kamu bukan satu-satunya nyawa yang sekarang sudah mati.
Dan kamu bukan satu-satunya hati yang pernah ku pinjam namun tak ku kembalikan lagi.
Banyak raungan datang karna luka.
Airmata turun yang tidak butuh hujan.
Janji mengucap dengan ingkar tidak setuju.
Rasa itu, kamu bilang, perih belum terlukiskan.
Atau aku hanya manusia pendamba damai.
Sebagaimana aku sudah hidup penuh dengan duri.
Bila kamu bukan satu bulan yang kutunggu.
Maka hatimu hanya aku pinjam sebentar tuk temani, sepi dari mimpi.
Yang sering kunikmati.
Tanpa pernah ia kutemui.
Subscribe to:
Posts (Atom)
