Yak!
Selamat datang hei para manusia tersesat di blog yang mau setaunan gitu deh ditinggal sama nyang punye. Kalo blog ini cewe udah berabe banget ditinggal setaunan bisa tiba-tiba depresi trus muncul di acara YKS jadi penonton yang jogetnya sambil merem. Kalo blog ini cowo udah ngga peduli sampe harus bongkar kuburan buat terbang pake kain kafan.
Oke, selamat menikmati lagi kehidupan absurd anda masing-masing. Doain saya jadi artis, supaya ngga sia-sia anda semua buka blog saya lagi.
Assalamua'alaikum ya ta'arufianian. Wkwk byebye!
20131217
20121103
Rahadyan Herbisworo
"Non. udah tau siapa saya?", ini kata-kata pertama yang diucapin sama orang di depan gue. Gue yang sempet ngintip sedikit mengangguk dengan mata tertutup, tangan gue menggenggam tangan dia, meraba kekasaran telapaknya, lelaki ini sepertinya pekerja keras. Mungkin supir kereta antar negara.
Dan berhubung kami seusia, kata-kata "saya" dia ganti jadi "gua", lelaki ini adalah Abang Dyan, pasangan gue selama karantina di Jakarta Barat. Dari awal masuk sampai udah malam final, hubungan gue dan Dyan diwarnai percanggungan dari diem-dieman, ngomongin orang, menyimpulkan banyak hal, sampai berantem-berantem kecil dimana setiap hari mood kita berdua ngga ada yang bisa nebak. Apakah kelinci ataukah gorila.
Taurus yang satu ini emang jelas ngga pernah click sama gue. Saat kami berdua dipasangkan, saat itu juga kami saling berusaha mendekatkan. Abang Dyan berusaha melayani gue selayaknya seorang Abang ke Nonenya. Menanyakan keberadaan gue setiap pagi, membawakan box make-up dan perintilan None saat gue datang, memperhatikan penampilan gue, ambilin makan-minum tiap jam istirahat, nganterin gue sampe mobil dan say "bye bye, jangan kenapa-kenapa di jalan." (karna gue yg bakal repot tanggung jawab men!) sesederhana itu chemistry kita buat jadi pasangan dengan nomer 19-20.
Sampai suatu hari, kami berdua dihadapkan dengan keheningan dalam ruangan. Gue ngegebuk dia pake selop untuk mencairkan suasana *None barbar*. Menanyakan perihal pasangan masing-masing, Dyan cerita, pacarnya yang sekarang adalah pacar pertamanya. Cantik, yang jelas dia seneng banget karna pacarnya pengertian udah mau percaya saat dia harus di karantina. Gue yang ngedengerin ikut seneng, berhubung gue pun memiliki pacar yang juga pengertian dan mendukung gue untuk ikut karantina ini, maka kita mulai membangun komitmen bahwa harus menjaga perasaan pasangan masing-masing selama karantina ini. Dyan mulai mengawasi gerak-gerik gue dan selalu iseng buat ngomong, "Non, punya pacar Non." kalo muka gue udah terperangah sama kegantengan Abang-Abang senior yang dateng selama karantina. Begitupun gue, yang suka nakut-nakutin dia kalo dia mulai komen "Nonenya cantik." dengan kata-kata, "Bang lu mau lu diputusin cewe lu.". Dyan langsung geleng-geleng keras, "Gue di sini homo, Non. Ngga doyan None."
Meskipun Dyan adalah teman gossip yang baik dan pengkomen yang sinis, Dyan tidak serta-merta menceritakan semuanya sebelum gue yang nanya. Sampai ketika dia harus ngajuin ijin untuk tidak ikut karantina besok, menurut alasan yang diajukan ke senior, dia harus ngerjain proyek di kampusnya. Saat nganterin gue ke mobil, gue sempet nanya alasan dia sebenernya kenapa ambil ijin.
"Gue mau jalan Non sama cewe gue. Kangen."
Rasanya terharu banget, gue langsung menepuk pundaknya. "Tenang Bang, besok gue yang ambil alih semuanya di karantina!" jelas gue bahagia dengan cara komunikasi kita, ngga perlu akrab tapi tau satu sama lain, gue ngerasa Dyan tepat memposisikan diri sebagai pasangan gue selama karantina.
Saat foto angkatan Jakarta Barat 2012 kemaren, gue langsung memeluk Dyan kangen begitu dia memanggil nama gue. Rasanya rindu juga sama masa-masa karantina bareng dia yang boring karna emang ngga bisa balik lagi dan chemistry kita yang masih sebatas itu-itu aja. Dyan masih sama cewenya, sementara gue udah ngga sama siapa-siapa. Dyan menepuk bahu gue menguatkan, seperti berkata, suatu hari akan ada cowo yang benar-benar buat gue sekalipun ia harus sibuk dengan tugasnya, dan rela ngaku homo untuk sekedar jaga kesetiaannya.
20120318
Hanya Aku Pinjam Sebentar
Kamu bukan satu-satunya peluh yang pernah ku seka.
Kamu bukan satu-satunya debu yang pernah menggelapkan mata.
Kamu bukan satu-satunya nyawa yang sekarang sudah mati.
Dan kamu bukan satu-satunya hati yang pernah ku pinjam namun tak ku kembalikan lagi.
Banyak raungan datang karna luka.
Airmata turun yang tidak butuh hujan.
Janji mengucap dengan ingkar tidak setuju.
Rasa itu, kamu bilang, perih belum terlukiskan.
Atau aku hanya manusia pendamba damai.
Sebagaimana aku sudah hidup penuh dengan duri.
Bila kamu bukan satu bulan yang kutunggu.
Maka hatimu hanya aku pinjam sebentar tuk temani, sepi dari mimpi.
Yang sering kunikmati.
Tanpa pernah ia kutemui.
Kamu bukan satu-satunya debu yang pernah menggelapkan mata.
Kamu bukan satu-satunya nyawa yang sekarang sudah mati.
Dan kamu bukan satu-satunya hati yang pernah ku pinjam namun tak ku kembalikan lagi.
Banyak raungan datang karna luka.
Airmata turun yang tidak butuh hujan.
Janji mengucap dengan ingkar tidak setuju.
Rasa itu, kamu bilang, perih belum terlukiskan.
Atau aku hanya manusia pendamba damai.
Sebagaimana aku sudah hidup penuh dengan duri.
Bila kamu bukan satu bulan yang kutunggu.
Maka hatimu hanya aku pinjam sebentar tuk temani, sepi dari mimpi.
Yang sering kunikmati.
Tanpa pernah ia kutemui.
20120219
Gerbong Khusus Wanita
Menunggu di balik garis putih antrian paling ujung dari stasiun adalah hal yang dilakukan perempuan-perempuan penunggu gerbong khusus wanita.
Mereka yang mencari keamanan dari makhluk mengancam bernama laki-laki yang menjamur di gerbong lain. Mereka yang mengalami pengalaman tidak ingin diingat karna makhluk tidak berhati bernama laki-laki. Mereka yang tidak nyaman bersentuhan dengan makhluk yang tidak punya moral bernama laki-laki. Mereka yang terusik menjadi tontonan oleh makhluk hidung belang bernama laki-laki. Mereka yang hanya punya airmata saat makhluk bernama laki-laki melakukan apa yang mereka khawatirkan.
Mungkin ada makhluk pengancam, tidak berhati, tidak bermoral, berhidung belang bernama laki-laki yang bertugas melindungi. Ia barangkali menunggu di rumah. Bukan di kereta ini.
Menunggu di balik garis putih antrian suka-suka dari stasiun adalah hal yang dilakukan para lelaki yang menguasai satu kereta kecuali gerbong khusus wanita.
Tahukah mereka, makhluk indah bernama perempuan, bahwa mereka sangat menarik untuk didekati. Tidakkah mereka ingin pindah ke Gerbong kami? Tahukah mereka, makhluk berhati bernama perempuan, bahwa menyenangkan untuk membuat mereka tertawa dan menyedihkan ketika melihat mereka menangis? Tahukah mereka, mahkluk penuh moral bernama perempuan, bahwa mereka sangat anggun saat mereka menyapa bocah-bocah kecil yang mereka temui di gerbong dengan senyum keibuan? Tahukah mereka, makhluk santun bernama perempuan, bahwa mereka begitu cantik, begitu menyita perhatian, tahukah bahwa pandangan kagum ini tidak bisa hilang meskipun kaca tebal memisahkan gerbong ini dengan gerbong milik mereka? Tahukah mereka, kami bersedih harus terus disebut mengancam.
Mungkin ada makhluk indah, menarik, berhati lembut, yang santun, dan cantik bernama perempuan yang tidak merasa terancam. Ia barangkali menunggu di rumah, bukan di gerbong sebelah.
Mereka yang mencari keamanan dari makhluk mengancam bernama laki-laki yang menjamur di gerbong lain. Mereka yang mengalami pengalaman tidak ingin diingat karna makhluk tidak berhati bernama laki-laki. Mereka yang tidak nyaman bersentuhan dengan makhluk yang tidak punya moral bernama laki-laki. Mereka yang terusik menjadi tontonan oleh makhluk hidung belang bernama laki-laki. Mereka yang hanya punya airmata saat makhluk bernama laki-laki melakukan apa yang mereka khawatirkan.
Mungkin ada makhluk pengancam, tidak berhati, tidak bermoral, berhidung belang bernama laki-laki yang bertugas melindungi. Ia barangkali menunggu di rumah. Bukan di kereta ini.
* * *
Menunggu di balik garis putih antrian suka-suka dari stasiun adalah hal yang dilakukan para lelaki yang menguasai satu kereta kecuali gerbong khusus wanita.
Tahukah mereka, makhluk indah bernama perempuan, bahwa mereka sangat menarik untuk didekati. Tidakkah mereka ingin pindah ke Gerbong kami? Tahukah mereka, makhluk berhati bernama perempuan, bahwa menyenangkan untuk membuat mereka tertawa dan menyedihkan ketika melihat mereka menangis? Tahukah mereka, mahkluk penuh moral bernama perempuan, bahwa mereka sangat anggun saat mereka menyapa bocah-bocah kecil yang mereka temui di gerbong dengan senyum keibuan? Tahukah mereka, makhluk santun bernama perempuan, bahwa mereka begitu cantik, begitu menyita perhatian, tahukah bahwa pandangan kagum ini tidak bisa hilang meskipun kaca tebal memisahkan gerbong ini dengan gerbong milik mereka? Tahukah mereka, kami bersedih harus terus disebut mengancam.
Mungkin ada makhluk indah, menarik, berhati lembut, yang santun, dan cantik bernama perempuan yang tidak merasa terancam. Ia barangkali menunggu di rumah, bukan di gerbong sebelah.
Mellisa Anggiarti, 19 Februari 2012
20120121
SHS
Suatu hari di sebuah sore yang mendung.
Di depan komputer milik salah satu teman terbaik semasa SMA, gue nangis tanpa suara. Jari gue berontak di atas keyboard dengan tidak manusiawi. Seperti memaksa airmata keluar, tapi tidak juga keluar.
Pemilik komputer duduk di samping gue dengan tatapan khawatir. Beberapa menit kemudian, setelah tulisan makian selesai. Gue baru nangis meraung-raung. Pemilik komputer membaca tulisan gue.. Mengerti akan kekecewaan yang menghancurkan masa-masa indah selama tiga tahun sebelumnya. Mengerti bagaimana rasanya diasingkan demi sebuah rahasia yang disimpan sahabat-sahabatnya sendiri. Yang tidak perlu disebut siapa namanya.
Hancur.
Dengan seragam abu-abu penuh peluh dan isakan. Seorang Eddy tepat berada di sana sebagai sahabat dan tempat sampah airmata dari seseorang yang kemudian membenci masa-masa SMAnya untuk seumur hidup.
Setelah itu dia selalu jadi orang yang selalu maksa gue buat ikut ngumpul, selalu nuntun gue buat bersikap biasa aja, tetep ceria, ngga boleh nangis lagi, sampai terakhir gue punya masalah sama salah satu sahabat SMA gue, dia yang pertama kali gue kirimin sms, bahwa kenangan SMA gue benar-benar berakhir di hari itu. Dia ngga bales. Keesokan harinya, dia ngabarin kalo dia ada di depan rumah gue, gue cuma bisa ngintip dari jendela, ngebiarin dia nungguin dan ngira gue ngga ada di rumah. Dia pun pergi dengan kekesalan. Gue berpikir, ketika kenangan SMA gue berakhir, kita pun ngga bisa sahabatan lagi kaya dulu, Dy.
Lo mau buktiin kalo gue salah, Dy.
Ngga ada yang bisa berubah dari seorang sahabat. Sampe kita mati.
Maafin gue.
Di depan komputer milik salah satu teman terbaik semasa SMA, gue nangis tanpa suara. Jari gue berontak di atas keyboard dengan tidak manusiawi. Seperti memaksa airmata keluar, tapi tidak juga keluar.
Pemilik komputer duduk di samping gue dengan tatapan khawatir. Beberapa menit kemudian, setelah tulisan makian selesai. Gue baru nangis meraung-raung. Pemilik komputer membaca tulisan gue.. Mengerti akan kekecewaan yang menghancurkan masa-masa indah selama tiga tahun sebelumnya. Mengerti bagaimana rasanya diasingkan demi sebuah rahasia yang disimpan sahabat-sahabatnya sendiri. Yang tidak perlu disebut siapa namanya.
Hancur.
Dengan seragam abu-abu penuh peluh dan isakan. Seorang Eddy tepat berada di sana sebagai sahabat dan tempat sampah airmata dari seseorang yang kemudian membenci masa-masa SMAnya untuk seumur hidup.
Setelah itu dia selalu jadi orang yang selalu maksa gue buat ikut ngumpul, selalu nuntun gue buat bersikap biasa aja, tetep ceria, ngga boleh nangis lagi, sampai terakhir gue punya masalah sama salah satu sahabat SMA gue, dia yang pertama kali gue kirimin sms, bahwa kenangan SMA gue benar-benar berakhir di hari itu. Dia ngga bales. Keesokan harinya, dia ngabarin kalo dia ada di depan rumah gue, gue cuma bisa ngintip dari jendela, ngebiarin dia nungguin dan ngira gue ngga ada di rumah. Dia pun pergi dengan kekesalan. Gue berpikir, ketika kenangan SMA gue berakhir, kita pun ngga bisa sahabatan lagi kaya dulu, Dy.
Lo mau buktiin kalo gue salah, Dy.
Ngga ada yang bisa berubah dari seorang sahabat. Sampe kita mati.
Maafin gue.
Mengenang Arief Eddy Budi Arandiko,
Sahabat yang meninggal di perjalanan pulang setelah bersuka cita di puncak Semeru.
1 Januari 2012.
Subscribe to:
Posts (Atom)
