20120121

i called it, goodbye.

Aku jatuh cinta pada pandangan pertama,
kedua,
tiga tahun belakangan sampai aku benar-benar tidak ingin lagi.

Aku patah hati pada pandangan ketiga,
keempat,
sampai tiga tahun terakhir kami.

Hari ini anniversary kami yang ke 6. Tidak ada alasan untuk tidak merayakan di restoran tempat pertama kali kami berkencan. Raga memakai jasnya, ia tampak berubah dari 6 tahun yang lalu saat ia masih mengenakan kaos berkerah dan rambut gondrongnya yang kini ia potong habis. Ia sudah 28 tahun sekarang, bukan lagi laki-laki kuliahan yang hilang tujuan.

   "Aku tidak menyangka tempat ini masih tidak berubah dari terakhir kita ke sini tahun kemarin.", Raga nampak berbisik di depanku. "Bahkan dari 6 tahun yang lalu. Yang punya tempat ini konservatif."
   "Bukan konservatif, mungkin yang punya terlalu cinta, sampai dia tidak mau ada yang berubah sama sekali dari tempat ini, seperti pertama kali dia jatuh cinta.", aku menjawab sambil membuka-buka pilihan menu.
   Raga memajukan kepalanya sedikit ke arahku. "Seperti cintamu padaku kan?"
   Aku meliriknya sedikit. Tidak kujawab, sampai akhirnya ku turunkan menu di atas meja dan menatapnya lekat, untuk memastikan bahwa ia masih menunggu jawabanku. "Andai tidak ada perubahan itu, Raga. Mungkin arus itu masih terasa sama, bahkan seperti saat pertama kali aku melihatmu di kampus."
   "Maksudmu?"
   "Karna semua sudah berubah, Raga."
   "Maksudmu?", tanya Raga lagi dan lagi. Ia memundurkan kepalanya, tapi tatapannya ku rasa semakin mendekat. Aku tahu ini waktunya. Saat aku pikir aku sudah siap untuk benar-benar berpisah dengannya. Setelah hampir tiga tahun ku pelajari hilangnya rasa ini.
   Aku memanggil salah satu pelayan untuk mencatat pesanan kami. Tidak bisa berlama-lama duduk tanpa memesan apa-apa. Raga tetap diam, ia menanti jawabanku. Akhirnya aku pesankan salah satu favoritnya, untuk sekedar berada di sampingnya, syukur-syukur ia minum nanti. Satu cup hangat Cappucino dan cup hangat Green Tea latte untukku.
   "Nay, maksud kamu?", ia mencoba mengembalikan pertanyaannya, tak sabar.
   "Aku melewati 3 tahun dengan mencintai kamu, dan 3 tahun untuk benar-benar melupakanmu.", mulaiku. Aku bahkan membiarkan bibir ini mengeluarkan apa saja yang ingin ku keluarkan. Tidak peduli Raga akan sakit, atau tidak.
   "Melupakan apa? Kita sama-sama, Nay?"
   "Ingat terakhir kali aku menangis?"
   Raga mengerutkan keningnya. "Untuk apa aku harus mengingat hal yang sudah lama--
   "Itu yang merubah kita, Raga.", potongku. "Tiga tahun pertama, aku yang sering menangisimu. Kamu yang berubah jadi tidak ingin ingat apa-apa. Kita tidak pernah bisa membicarakan hal-hal di belakang, karna kamu selalu bilang sudah lupa. Saat pertama kali kamu menghancurkan dongengku, ingat?"
   "Nay, kamu mau kita bertengkar di sini?"
   "Tidak. Kita bisa membicarakan ini baik-baik."
   "Kamu tau kan aku....", Raga tampak frustasi. Ia menghela nafas. "Oke. Saat itu kamu bilang aku selingkuh, hanya karna aku menanyakan kabar mantanku, lalu, maumu sekarang adalah?"
   "Aku tidak bisa bersamamu lagi, Raga."
   "Kamu mau kita putus? Lagi?"
   "Kamu ingat terakhir kali aku begini?"
   "Kanaya, stop!!", Raga meninggikan suaranya. "Kamu bener-bener bikin aku gila. Bisa kamu berhenti mengucapkan kata-kata 'kamu ingat?' 'kamu ingat?' aku ngga inget apa-apa, Nay!"
   Aku menegakan sandaranku. Raga masih mencak-mencak di depanku.
   "Sebelum ini kita baik-baik aja, itu yang aku ingat.", lanjutnya.
   "Ya. Semua baik-baik aja. Kamu dengan hidupmu dan aku dengan hidupku. Yang menyatukan kita hanya, kata-kata 'i love you' yang aku sendiri tidak mengerti apa aku masih merasakan hal itu sama kamu, atau itu jadi kebiasaan kita yang tidak bisa hilang. Raga, mungkin menurutmu ini aneh. Tapi rasa ingin berpisah sudah aku rasakan bertahun-tahun kemarin. Tapi aku menyadari, aku tidak bisa melewati perpisahan yang aku sendiri tidak siap. Maka aku benar-benar menyiapkan diri, untuk hari ini."
   Raga masih diam. Menyimakku.
   "Kamu pernah dengar, dalam sebuah pernikahan butuh setidaknya 10 tahun untuk benar-benar menyelesaikan suatu perceraian. Pasangan yang bijak, adalah pasangan tetap bersama dalam 10 tahun tersebut sampai benar-benar selesai, dan kembali ke hidup masing-masing. Dengan bersamamu 3 tahun kemarin, aku merasa benar-benar siap untuk menyelesaikan ini semua."
   "Dengar. Satu hal, Kanaya. Pasangan cerai tersebut dalam kesepakatan selama 10 tahun untuk membenahi sampai akhirnya berpisah. Tapi kamu, kamu tidak dalam kesepakatan bersamaku. Untuk berpisah. Ini dua hal yang...", Raga memutar matanya.
   "Apa kamu pernah mendengarku untuk membuat kesepakatan?"
   Raga diam, ia berpikir. Terlalu lama menunggu jawabannya, aku menghela nafas.
   "Yang akan kamu ucapkan setelah mendengarku hanya, 'aku baru menemukan pemikiran ini, sungguh aneh' apa kamu pikir aku salah bila akhirnya aku memutuskan untuk menyepakatinya dengan diriku sendiri? Kita bukan pasangan bijak. Tapi aku ingin bijak atas diriku sendiri. Aku patah hati, Raga. Aku kecewa kamu berubah dari sejak 3 tahun kita pacaran, tapi aku mencintaimu. Bila aku meninggalkanmu saat itu, aku bisa bayangkan aku adalah gadis terpatah hati yang tidak mau makan, minum, susah tidur dan terus memikirkanmu. Maka aku bertahan. Aku mempersiapkan diri untuk benar-benar bisa denganmu atau tanpamu. Dan itu lebih membantu. Aku bahkan siap untuk hari ini dan ke depannya."
   "Kamu egois."
   "Ya, aku akui aku egois. Menyelamatkan hatiku sendiri bukan? Tapi siapa yang akan menyelamatkannya bila bukan aku sendiri, Raga?"
   Raga diam. Bertepatan dengan itu pesanan kami datang.
   "Kamu bahkan masih memesankan Cappucino untukku, Nay?"
   "Kalau kamu masih ingat, aku adalah orang yang paling hafal apa yang orang lain sukai, meskipun orang itu baru pertama kali aku temui. Kita berbanding terbalik, aku yang ingin mengingat semuanya, dan kamu yang ingin melupakan semuanya."



10 November 2011

20110814

juara

Banyak judul yang sudah saya pindah Draft dari daftar ini.
Tersimpan utuh, mereka tersusun dalam etalase maya.
Tidak terkunci, selalu merayu minta terus dibuka.
Tapi karna saya juara, mereka tercecer pun saya kumpulkan tanpa tergoda.

Karna saya hanya mau memenangkan memori yang terkunci,
Yang ada di depanmu :)

20110731

Puas(a)

Hey happy fasting! Have a complete pahala without hole-hole on the wall ya! Ahaha

Ramadhan harus bikin semangat. Harus tambah rajin ibadah, itu utama. Gaya hidup harus lebih sehat. Makan bergizi, cukup tidur, berkecukupan (hah?). Harus tambah cantik buat yang perempuan, yang lelaki ngga boleh ikut-ikutan pake pashmina. Ramadhan dateng, semua harus baru, termasuk pacar, hehe..

Sumpah.

*ngebaca ulang tulisan di atas*

Ngga penting abis.

20110728

befriended Ex

Hellowaaah :)

Kalo lagi iseng lo semua ngapain sih?

Main BB? Main judi?

Keisengan yang mau gue pamerin ini mungkin cukup normal di mata kalian yang kenal deket sama gue, tapi mungkin tetap akan mengundang komen, "Adoh Mel, lo ngapain lagi siiiih?"

Dipicu dari omongan seorang teman yang bilang kalo gue ini kaya ngga punya masa lalu, hidup gue enteng-enteng aja, tanpa beban. Bebas ketawa, bebas dari masalah, membuat gue me-rewind beberapa masa lalu yang kalo ditengok, masih bikin sedih. Ya, salah satunya tentang mantan.

Mungkin beberapa dari postingan di Blog ini menceritakan beberapa mantan gue dalam versi kesedihan, kesenangan, kemuakan berbeda. Dan salah satunya, yang akan gue kenalin di sini, adalah mantan yang kira-kira bareng sekitar 3 tahun yang lalu di bulan Juni.

Namanya Mbe, panggilannya Anu. Lengkapnya Anugrah Pradana.

Kenapa tiba-tiba dia? Karena keisengan gue kali ini nyerempet ke dia. Atas masukan room-mate dari Neraka, gue membuat ulasan cerita masa lalu gue sama lelaki ini, membuatnya unik, dan ngirim ceritanya ke sebuah majalah remaja yang cukup banyak dibaca orang-orang labil kaya gue.

Mbe ngga salah apa-apa. Ini murni keisengan gue. Iseng-iseng nambahin tugas kuliah Mbe yang segunung, iseng-iseng mau masuk majalah, iseng-iseng kecolongan curhat. So, cerita apa sih yang gue kirim? Bukan lagi makian penuh se-buku gambar, bukan lagi cerita menye-menye sinetron, tapi tentang Persahabatan kasat mata kita.

Yaaa, memang, Mbe cukup bajingan untuk jadi mantan gue. Mbe udah keterlaluan membuat urat sabar gue renggang-kendor selama masa pacaran. Pasca putus pun kita ngga jalan sebagai dua orang yang pernah saling sayang, kita sempet musuhan dan gue milih buat remove dia dari kehadiran nyata dan maya. Tapi, apa yang unik? Karna dari berantem-berantem itu, kita jadi tau, kalo kita ternyata cocoknya jadi temen dan justru lebih seru. Dan jarang-jarang ada hubungan mantanan yang tetep jaga komunikasi baik meskipun isinya cuma berantem.. (nah lo bingung kan?)

Dan cerita singkat yang kalo sekarang dibaca-baca lagi malah jadi basi ini diangkat jadi cerita bulanan majalah yang gue kirimin. Panik. Tentu. Gue menghubungi Mbe yang ngga tau apa-apa dari keisengan gue ini, dan... diluar dugaan, Mbe menyetujui pengadaan pemotretan buat artikel itu, tetap dengan nada sok jual mahal berharap pose nunggingnya nanti dibayar mahal.




Untuk cerita lengkapnya, bisa dibaca di Gogirl! edisi Juni 2011, BOTM :)

20110727

Film Indie(h)

Sebenernya dari TK gue udah banci tampil. Tiap perpisahan gue harus tampil. HARUS. Ngga peduli gigi lagi ompong atau rambut belum numbuh.

Naik ke SD , gue selalu milih ekstrakulikuler drama, dengan alasan ditiap akhir caturwulan, pasti ada pementasan yang bikin gue berkesempatan tampil. Selalu semangat kalo pelajaran Kesenian atau bahasa Indonesia yang ada drama-dramanya. Soal peran, apa aja gue jabanin. Dari yang cuma dapet peran selir Raja sampe akhirnya kepilih jadi pemeran utama di Pementasan Perpisahan Sekolah. Rasanya bahagia banget ngga sih udah nemuin passion dari kecil?

Masuk SMP, gue mulai nyoba nulis cerita buat Drama sekaligus nyutradarain sekaligus mainin peran untuk setiap pementasan Seni di Sekolah. Gue sok-sok profesional, di depan layar dan belakang layar, ngga terpaku sama tiap Perannya, gue juga suka ngatur musik-musik yang dipake, blocking dan lain-lainnya, gue makin ngerasa, dunia gue mungkin emang di seni peran. Dimana kesempatan tampil dan jadi pusat perhatian lebih besar dibanding harus nari poco-poco sama satu RT.

Sampai SMA, dunia Drama kanak-kanak akhirnya gue realisasikan dalam Theater. Membawa gue jadi Pemeran Utama di setiap skenario yang keluar untuk acara Sekolah maupun di luar Sekolah. Gue pun merambah sampai ke film indie sekolah. Tidak perlu nyogok sutradara atau pelatihnya, gue kalo udah nyaman sama sesuatu pasti ngga mungkin ngga kompetitif! Gue harus selalu jadi yang pertama. Ambisius. Pol-polan.

Jadi, Acting, pernah jadi sesuatu yang tanpa gue sadari memiliki ruang sendiri dalam tiap jeda waktu. Meskipun ngga gue seriusin sampai kemana-kemana, meskipun cuma maksimalin tiap peran yang gue dapet dan ngga berusaha nyari peran yang lebih bagus kemana-mana, tapi candu ber-acting itu yang bikin gue kaya lagi nyalurin bakat berkepribadian ganda gue. Dan itu, Seru abis.

Awalnya gue mungkin ngerasa, bakat acting itu lahir seiringnya gue grow up, sampai gue tau kalo Mama pun dulunya pemain Theater dan selalu dapet Peran Utama sampai pentas di sana-sini. Hubungan batin? (loh) Bakat turunan? Hmm. Gue ngga akan mau mengakui itu. Yang jelas gue lebih jago dari si Mama.

Tapi, sayangnya gue memilih untuk mencari kepuasan lain selain dari dunia Acting ketika menginjakan kaki di Universitas. Gue lupa kenapa, atau bosen, atau minder ngeliat begitu kerennya pementasan Theater yang gue tonton di kampus. Beralih dari sana, gue mulai mengasah kemampuan gue menari, main wayang, sampai ngelawak bikin group Srimulat. Ngga bisa dipungkiri kalo gue suka sedih ketika inget betapa gue mencintai dunia Acting dulu... Sampai akhirnya tawaran ber-acting kembali datang dari komunitas Theater di Kampus.

Sore itu panas banget, bikin lecek, lepek, bikin sendal Marie Claire jadi swalow. Pokonya bad day deh. Tiba-tiba datang seorang perempuan nyamperin ke tempat gue dipanggang di payung fakultas. Dia ngajak gue ngobrol, awalnya gue pikir ini NII, gue mau pasang muka ngga punya duit, pasang muka kuat iman, tapi semua percuma, karena dia nyamperin gue dengan tujuan ngajak gue main film Indie kampus bukan minta gue beli ticket to the moon. Oke.

Dengan proses gono-gini melebihi ribetnya pembagian harta warisan, akhirnya gue memulai proses syuting. Jujur, udah lama ngga berakting bikin gue grogi. Setiap latian nilai gue cuma 30-40-30 ngga pernah naik-naik. Pertemuan kembali dengan dunia acting bikin gue bernostalgia, gimana serunya jadi orang lain, dan inilah...




Laporan selesai, bu Ida, bu Ratna, pak Nadrial, bang Ronny Aladiba dan ka Awan.. :)