20110608

travel time #4

SIAPA KAMU?!


Saya Paus yang terbawa ombak ke daratan...


PERGI KALIAN!! ATAU SAYA KIBAS!!


Ngga mau ah, saya udah pewe.


YAUDAH DEH DEAL NYA LO KELUAR GUA KELUAR!

IYA DEH, LAGIAN KAMAR LU JUGA BAU.

Dan perjalanan pun di mulai...


Tak kenal maka tak sayang, gue kenalin dulu ya dari yang paling gembul nempel kaca di sebelah kanan lo, namanya Aldair Zerista. Nama siangnya Dair, nama malemnya Daira, seksi ya? Lanjut ke yang paling katro dengan pocket camera di belakang itu, namanya Andri Septian dengan panggilan gaul sebagai Tanyen. Sebelah Your Highness Tanyen, ada Alfira Astari dengan panggilan mesum, Pirahi. Dan terakhir, lelaki dengan wajah ngantuk tak bermasa depan, eh bukaaaaan! Dia bukan Briptu Norman! IH PARAH DIBILANGIN! BENERAN! Eh iya deng Briptu Norman, eh tapi bukan... EH MIRIP NYET! hahaha namanya Arga Tyas Asmoro. Udah jangan banyak tanya, nanti orangnya nangis.

Boleh di add FB mereka, mereka semua jomblo loh. Dipilih-dipilih. HAHA

Langsung ke perjalanan pertama, kita muterin Orchard Road sampe ke Somerset. Berbekal peta, kami semua bertekad menemukan sesuatu yang ngga bisa kita temukan di Indonesia. TARA! Gue kembali harus menemani mereka ke Rumah Kondom, padahal tempat itu ngga ada di peta! Jadi buat apa pegang Peta???


Kembali ke Peta...


FOKUS!


JANGAN TERGODA! GUE BILANG FOKUS!!

Oke, kembali ke jalan-jalan seputar Orchard. Untuk pertama kalinya, toko yang gue datengin adalah Forever21 di deket MRT Somerset. Gue membeli beberapa sunglasses dan tiara cantik. Dengan nyinyiran seorang Pirahi yang bilang gue terobsesi jadi Princess bikin gue makin ngga bisa nahan untuk memakai tiara itu di tempat!

(sebenernya tiara yang gue beli bukan ini, yang ini minjem doang biar gaul)

Setelah selesai belanja kebutuhan gaul, kita mutusin buat balik lagi ke Apartemen sekalian Check Out. Karna betis perlu diistirahatkan untuk perjalanan panjang lainnya, akhirnya, karna uang masih melimpah, kita semua balik ke Orchard dengan MRT. Padahal jaraknya ngga lebih jauh dari puteran Lippo!

(inilah wajah kemalasan dari Tanyen dan Pirahi)

Sampe Apartemen, kami langsung packing buat perjalanan selanjutnya. Tujuannya adalah Little India, yang sempet bikin stress karna letak hotel yang udah dibooking agak absurd, siapa dulu dong yang disuruh nelpon Hotelnya? GUA! Mana gua ngerti itu orang receptionist ngomong apa? Yang gue tau cuma Hello Good Morning Good For Owyeah.

Setelah melakukan perjalan kurang lebih sejam di bawah terik mentari Singapore yang ngga ada bedanya sama Depok, Ho(s)tel buat Backpackers itu ditemukan jua. Dengan tarif 20 SGD seorang untuk semalam, kami mengaku puas. Selain tempat tidur nyaman, dekorasi kamar lumayan menghibur rasa lelah (padahal engga juga) ditambah lagi free breakfast buat besok pagi! Ngga mau pulang deh ih rasanya.. umumu! *HOAK*

(dan inilah Arga dengan wajah gelap takut dikira Briptu Norman)

DAN HELLO LITTLE INDIA!!


Meskipun udah pernah ke sini, gue ngga pernah bisa menebak akan seperti apa tempat ini setiap harinya. Dan kalo boleh jujur, ini adalah daerah favorit gue di Singapore, karna di tempat ini, gue ngerasa ada di dua negara berbeda dalam satu waktu. Yak! Singapore dan... India. Baunya yang Khas, orang-orang berhidung mancung tidak santai dan semerawut tanpa aturan. Ah mau ke sini lagi deh pokoknya.



Setelah berjalan jauh menyusuri sepanjang arteri Little India, kami singgah di sebuah restoran India dengan pelayan gagah. Meski awalnya sempet bingung mau pesen apa, tapi pada akhirnya kami mantap dengan pesanan masing-masing. Gue memesan Cheese Nan dan Saus kambingnya bersama Pirahi. Tanyen milih aman, dia mesen french fries. Dan Arga yang merasa tertantang dengan isi menu, menggunakan kesotoyannya untuk memesan Green Salad. Nah yak!

(green salad pesenan Arga berupa potongan bawang merah bangkok, tomat, lobak, wortel mentah, timun bangkok, cabe rawit dan jeruk nipis)

Dengan miris kami menyaksikan Arga dengan pesanannya, 21 ribu melayang sudah, dibanding dengan harga segitu, di kantin sastra kami tercinta, bisa nraktir rokok buat seangkatan. Akhirnya dengan memanjatkan puja-puji syukur atas Tuhannya, Arga meninggalkan makanan laknat itu di atas meja ketika kami pulang. Meninggalkan pelayan-pelayan India itu terkekeh..

"Mere-mere dia ngga makanhe, makanyahe lu olanghe punya duithe, beli sari sajahe buat mamak luhe.." dengan logat ke-cina-cina-an dikit.

Dengan perut kenyang-kenyang maksa, akhirnya kami memutuskan kembali ke Ho(s)tel untuk menjemput Dair yang lagi-lagi terdampar ke daratan karena kelelahan. Dan berikut foto-foto di perjalanan pulang menuju Ho(s)tel.

(Plang ini ditemukan oleh Pirahi)

(saya bergaya bersama Briptu Norman, ah beruntungnya..)

(Briptu sebelum menyanyikan Chaya-Chaya)

(korban Briptu Norman)

Cerita Night Life-nya, kami awali dengan mengecek keadaan Bugis Street, Tanyen mengumumkan sudah jadwalnya untuk beli oleh-oleh. Dengan setelan dari pagi, akhirnya kami berangkat dgn MRT yang murah meriah untuk sampai ke Bugis Street. Setelah puas berbelanja ditemani Korean sebagai theme song, Tanyen sebagai penjadwal langsung menggiring kami menuju pusat permakanan di Clarke Quay, dimana tempat tersebut menawarkan kemaksiatan tingkat tinggi dengan menjual makanan yang tidak terjangkau dompet. Setelan gembel, mengakibatkan kami merendah diri di antara angsa-angsa bergaun dan berjas. Tidak menyurutkan api semangat, kami memutuskan untuk menyiksa dompet dengan ikut makan di sana. Ngga apa-apa. Sesekali makan Bakso 70 rebo!! (minta maaf sama keluarga besar)

Perjalanan selanjutnya....
Tunggu di postingan selanjutnya.
Cium hangat dari Daira :)

20110519

ada apa Juliet?

Mengadulah pada botol racun yang kamu minum,
Juliet.
Yang mencumbu nafas terakhirmu dengan pasti-pasti ragu.
Dengan cinta tanpa emas mengikat.
Dengan cantiknya airmata kehilangan.

Tatap selamat tinggal pada darah yang tercipta, Juliet.
Pada titisan malaikat yang gemas menunggu penyerahan.
Yang mengantarkan janji bertemu di alam lain.
Yang tidak peduli harus kemana dulu.

Juliet,
Kamu bukan hanya buta, kamu juga bodoh.
Ada apa Juliet?

20110313

travel time #3


Hallo Udara :)
Gue menyapa langit dan laut yang terbentang tertangkap mata. Mencoba menghibur diri gue pun bertanya-tanya sama objek yang gue foto, Pulau-pulau apakah ini? Pulau Seribu??

(yang bisa jawab gue kasih goceng)

Kalo bener, itu pulau seribu, nantikan gue mengelilingi pulau-pulau itu dengan ceria tak lama lagi. Pulau-pulau di gambar sangat menggoda untuk dijilat. Sesaat gue melupakan kesendirian gue di pesawat ini, tanpa teman, tanpa keluarga, dan tanpa manusia-manusia luar angkasa. Sendirian-Ke-Singapore-Untuk-Semalam.

Gue sangat mengharapkan standing applause yang meriah, mengalahkan riuh-rusuh konser WALI.

Oke, cukup, kalian sangat berlebihan menyanjung keberanian saya datang ke negri orang tanpa teman dan tujuan. Satu hal, jangan bilang orang tua saya. Saya peringatkan dengan muka seram, jangan bilang orang tua saya. Oh iya, dan jangan pula bilang ke adik bungsu saya yang sangat pengaduan.

(ini makanan yang menjadi satu-satunya benda menghangatkan kegetiran gue menuju negara orang.)

Sekian jam mengudara, akhirnya gue mendarat juga. Ditemani seorang komisaris Pelayaran yang duduk di sebelah gue di pesawat tadi, gue keluar dari Terminal 1 Changi dan langsung disambut oleh sebuah limousine hitam elegan! GOD! Kalo gue beneran orang batak, gue pasti merayakannya dengan nari tor-tor.

Rasanya pengen sms Nyokap biar dia ngiri akut. Haha. Naik Limousine memang tiada duanya, alhamdulillah gue orang hina begini, dikasih kesempatan sama Allah buat nyicip. Sayangnya gue ngga foto-foto di dalem Limousinenya. AH GENGSI NYET!! PADAHAL BISA DIKIRA HOAX KALO NO PICT!!

Ehm.

Dan, Limousine itu dengan baiknya mengantar saya sampai ke depan apartemen di atas Lucky Plaza, Orchard Road. Hmm, nikmatnyo. Berasa tamu-tamu penting darimana gitu kan ya, turun dari Limousine, ya Allah makasih banget ya Allah!!! Saya tobat ya Allah!!

Dengan atmosfir Limousine yang masih kental gue menyapa seorang satpam di depan gerbang, orang Malaysia cing, mau gua ludahin. Haha.. Sampai di dalam Kamar, gue langsung heboh mau tau pemandangan di luar jendela. Sampai mba Cantik asli Menado yang jagain Apartemen di lantai itu gemes pengen dorong gue dari lantai 14. Ngga percuma dijutekin si Mba, gue dapet pemandangan seru, perumahan di Spore! wiw.


lihat ini!

(gue ngetemin rumah yang ini cing! lucu abis! apalagi kalo pacaran sama tetangga sebelah yang rumahnya kembaran begini kikikikik)

Balik ke kasus gue pergi sendiri. Gue ngerasa hampa untuk sesaat, sampai akhirnya gue memutuskan untuk pergi sendirian menyusuri Lucky Plaza yang bisa dibilang, uhm, ITC BSD, versi luar negri.

Satu kenikmatan, ketika berada di keramaian itu, ngga sengaja gue ngelewatin satu rombongan abege-abege labil lagi sibuk ngobrolin tujuan jalan-jalan selanjutnya menggunakan BAHASA INDONESIA. Rasanya gue mau nepuk bahu mereka, dan bilang,
"Hai saudara setanah air, hati-hati sama orang Malaysia yang nawarin ganja ya."

AAAAAAAARGH. Gue seneng banget ketemu orang Indonesia di Negri orang. Berasa sepupu sendiri Nyet! Ea. Seneng gue liat muka-muka melayu. Tapi awas, hati-hati, jangan asal nyapa orang yang mukanya melayu. Seperti yang gue lakukan saat 'berkunjung' ke Rumah Kondom, karna geli ngeliat barang-barang di sana, gue ngga mau cekikikan sendiri, alhasil gue ngajakin dua cewek di sebelah gue buat ikutan geli-gelian, mukanya sih Melayu, tapi begitu gue sok akrab..
"Anjir males juga beli beginian, hahaha"

Dia jawab,
"ผู้หญิงเลวเฮ้คุณบ้า,, กลับออกคุณดอกทอง!"

EH? weh weh. Santai weh.

Setelah bosen jalan-jalan ngga karuan, gue mulai laper. Dengan gegabah gue nyari foodcourt ngga jauh-jauh dari situ. Menghindari makanan mengandung Babi, gue nyari makanan yang jelas. Ada counter Nasi Padang. Yang jual ibu-ibu pake Kerudung. Dengan sok asik gue mesen pake bahasa Indonesia, eh dia ngomong pake logat melayu, mana jutek banget lagi. ASU. Orang Malaysia ternyata. Selain mencuri budaya, mereka juga mencuri Nasi-nasian dari Sumatra, alamak, kukutuk kau Ibu bau santan jadi Babi, biar dipanggang kau di counter sebelah.

Akhirnya hal yang paling gue takutkan harus gue lewati, yaitu melewati malam seorang diri. Dibekali sebuah coklat putih Dream dari TujuhSebelas yang bikin gue wet dream, gue pun menghibur diri dengan photo session. Pemandangan dari jendela pun oke banget, banyak lampu, jalanan ngga berisik, ah pokoknya mah, bikin pengen Bungee Jumping lah.


(Andai gue perokok, pasti malam ini terasa lengkap. Angin malam, lampu di balik jendela.)

Menunggu kedatangan teman-teman gue keesokan harinya?
Tunggu postingan selanjutnya.

20110125

wayang kulit, di dadaku!

Kalo ada pertanyaan,

Sebutin satu hal yang paling lo suka dari Indonesia?


Kira-kira lo bakal jawab apa?

Dari pencarian gue sampe ujung dunia, jawaban rata-rata yang didapet adalah MAKANANNYA.

"Lo taulah makanan Endonesa, gileee.. *krauk-krauk* Mau gue tinggal di New York, berlian, mobil, apartemen mewah di tangan gue, *krauk-krauk* gue bisa gila kalo sehari aja ngga makan masakan Padang.. *krauk-krauk* gue nih ya, walaupun di kehidupan kedua nanti dilahirin di Dubai sekalipun, masakan Padang yang pasti gue car.. ADUH SET******N LIDAH GUE KEGIGIT!!"
(efek dari ngobrol sambil makan)

Kalo pertanyaan itu ditujukan ke gue, (atau lebih tepatnya bertanya pada diri sendiri)

dengan mengebu debu bintang bakal gue jawab,

WAYANG!!


(ekspresi berlebih)

Sebenernya gue ngga punya pengalaman berarti dengan kebudayaan asli Indonesia yang satu ini. Berawal dari ngga sengaja ditendang ke kelas Wayang dimana mahasiswi baru diwajibkan untuk mengambil Mata Kuliah Seni, gue jadi suka bengong sendiri nontonin Wayang-Wayang ngga berdosa itu diputer-puter Dalang sampe kadang suka kejedot batang pisang di bawah kelir, atau layar dimana Wayang dipertunjukan.

Setelah kelas itu selesai, yang dimana Ujian Terakhirnya adalah mempertugaskan gue sebagai Sinden dalam pertunjukannya bersama Tennie Marlim (maaf klo banyak mention dia di blog gue, request soalnya) berkaitan dengan Wayang, gue dihadapkan pada pilihan dimana gue harus menjadi Dalang dalam Unjuk Bakat Kang Nong yang laporannya udah gue post beberapa bulan lalu.

Kemesraan gue dengan si Wayang semakin terjalin Indah.

Gue jadi ngumpulin apa aja yang bentuknya Wayang, salah satunya Wayang yang tercipta dari tangan seorang seniman asal Jogjakarta yang gue temui di pinggir jalan BSD, dan dia mempertemukanku dengan Arjuna-ku, Wiracarita Mahabharata :


(maaf ya foto sendiri, liat tuh tangannya keliatan yg megang kamera, haha)

Sejauh ini, si Arjuna adalah koleksi paling mahal, mengingat dompet Mahasiswi gue yang pas-pasan. Tapi buat dia gue rela deh tabungan surut. Lalu-lalu, koleksi Wayang nomer dua mahalnya setelah si Arjuna adalah si Kelir, beserta Wayang-Wayang mini yang cuma kurang blencongnya, hehe..


(gue bingung ini ceritanya Mahabrata atau Semarsemorodewo?)

Daaaan, Wayang dalam bentuk lain yang ngga kalah berharga adalah kaos dari seorang sahabat bernama Tennie Marlim (kan, gue mention lagi) sebagai hadiah ulang tahun gue dengan tulisan Wayang Kulit. Yang terpenting adalah Kaos ini Made in Indonesia. Ini adalah kaos ter-cool yang gue punya sekarang, mengalahkan dress Mamamia.


(sori kalo ada yang salah sama posenya, salahin si Dalang Master, Ki Manteb Sudharsono)

Pernak-pernak kecil lainnya tentang Wayang satu persatu gue kumpulin. Kaya Wayang-wayang kulit mini, yang gue beli di Malioboro.. (oh, itu surga Wayang Jawa banget!) lalu ada juga pembatas buku dengan motif Wayang, pin Wayang sampe pulpen Wayang yang kalo dijual di Bandara harganya bisa berkali-kali dosa.

Oh iya, satu cerita saat gue menghadiahkan Wayang Mini untuk seorang EF Teacher, ketika menerimanya, muka dia seneng banget, dan bilang terima kasih dengan aksen bulenya yang cupu berkali-kali, sampai satu pertanyaan keluar dari bibirnya?

"Bukankah Wayang berasal dari Malaysia?" (in english)


WAH!! Emang hebat banget si Malaysia dalam hal mengklaim budaya Indonesia. Satu kelas langsung teriak secara tidak beraturan ngata-ngatain Malaysia, khususnya dalam bahasa Indonesia yang paling kasar, secara si Bule ngga akan tau artinya. Tapi kemudian, gue sadar juga akan satu hal.. Ya, pantaslah Malaysia menyebarluaskan ke mancanegara kalo Wayang itu Budaya mereka, gue yang orang Indonesia aja baru sekarang-sekarang ini tergila-gila sama Wayang. Dan kalau pun gue ngga kuliah di Fakultas Ilmu Budaya, gue mungkin tau wayang sebatas media pendongeng.

Satu hal menghasilkan satu pelajaran, kenali Kebudayaan di Negara kalian sendiri dulu baru boleh suka sama Justin Bieber. #eh?

AKHIRNYAAAA, kembali gue bertanya,

Apa yang lo suka dari Indonesia?

Uhm, tolong jangan jawab Makanannya lagi, jangan juga Timnasnya, atau Irfan Bachdimnya!!

Baiklah, lebih spesifik,

Kebudayaan asli Indonesia apa yang paling lo suka? :)



my Ipad says love Wayang too!



20110118

Hi, Januarain?

Akhir-akhir ini, gue ngerasa makin aneh. Makin ngga Imel. (meski bikin bergidik, tapi ini serius)

Mungkin karna umur 20 ini bener-bener ngebebanin gue. Di rumah, dikit-dikit 20. Di kampus, dituding tua dengan 20 ini. Di jalanan sepi, tiba-tiba 20 (yang ini jangan digubris).

Misalnya aja, gue yang biasanya bersemangat sama perayaan ini itu tiba-tiba mengalami pemadaman, kaya ulang tahun temen atau bahkan ulang tahun gue sendiri yang lewat gitu aja kaya kentut, Natal yang udah ngga mimpiin main salju lagi, Tahun Baru yang boro-boro main keluar, geser gorden buat ngeliat kembang api aja malesnya sekerbau-kerbau.

Dibuktikan dalam perayaan selanjutnya, yang ada di bulan januari ini adalah, genapnya masa jomblo seorang mantan. Satu tahun yang lalu, di atas asap dupa, gue berjanji, kalo tahun depan ketemu tanggal ini dan dia masih single, gue naik level jadi bakar aromatheraphy. Tapi ngga terlaksana, ya itu mungkin, karna gue kehilangan keImelan gue.

Sekarang gue jadi sering ngomong, 'Ya udahlah ya..' Kalimat yang kelas-jelas paling gue sebel sepanjang masa sebelum umur gue 20 tahun.

Gue jadi tambah sensitif tapi ora urus, kaya kalo abis baca timeline di twitter terus kesinggung tapi abis itu selaw. Terus, sekarang gue juga jadi ratu gombal, semua gue senyumin, semua gue manis-manisin. Gue jadi ngerasa ngga ada adrenalin, gue rindu masa-masa labil nan galau.

Gue jadi ngerasa tenang, semua gue tontonin ngalir gitu aja, padahal gue butuh konflik.

Kadang gue suka mancing sama orang yang suka bikin gue emosi, kaya misalnya mantan yang kerjaannya marah-marah kalo lagi nyetir, biasanya gue udah teriak-teriak uwo uwo minta dia berenti ngomel, dan biasanya dia akan melalukan sesuatu yang lebih ngeselin, nah kemaren gue cuma diem sepanjang jalan, ngebiarin dia ngata-ngatain semua orang yang dia liat.

Siapa yang kenal dengan sosok ini?