20110125

wayang kulit, di dadaku!

Kalo ada pertanyaan,

Sebutin satu hal yang paling lo suka dari Indonesia?


Kira-kira lo bakal jawab apa?

Dari pencarian gue sampe ujung dunia, jawaban rata-rata yang didapet adalah MAKANANNYA.

"Lo taulah makanan Endonesa, gileee.. *krauk-krauk* Mau gue tinggal di New York, berlian, mobil, apartemen mewah di tangan gue, *krauk-krauk* gue bisa gila kalo sehari aja ngga makan masakan Padang.. *krauk-krauk* gue nih ya, walaupun di kehidupan kedua nanti dilahirin di Dubai sekalipun, masakan Padang yang pasti gue car.. ADUH SET******N LIDAH GUE KEGIGIT!!"
(efek dari ngobrol sambil makan)

Kalo pertanyaan itu ditujukan ke gue, (atau lebih tepatnya bertanya pada diri sendiri)

dengan mengebu debu bintang bakal gue jawab,

WAYANG!!


(ekspresi berlebih)

Sebenernya gue ngga punya pengalaman berarti dengan kebudayaan asli Indonesia yang satu ini. Berawal dari ngga sengaja ditendang ke kelas Wayang dimana mahasiswi baru diwajibkan untuk mengambil Mata Kuliah Seni, gue jadi suka bengong sendiri nontonin Wayang-Wayang ngga berdosa itu diputer-puter Dalang sampe kadang suka kejedot batang pisang di bawah kelir, atau layar dimana Wayang dipertunjukan.

Setelah kelas itu selesai, yang dimana Ujian Terakhirnya adalah mempertugaskan gue sebagai Sinden dalam pertunjukannya bersama Tennie Marlim (maaf klo banyak mention dia di blog gue, request soalnya) berkaitan dengan Wayang, gue dihadapkan pada pilihan dimana gue harus menjadi Dalang dalam Unjuk Bakat Kang Nong yang laporannya udah gue post beberapa bulan lalu.

Kemesraan gue dengan si Wayang semakin terjalin Indah.

Gue jadi ngumpulin apa aja yang bentuknya Wayang, salah satunya Wayang yang tercipta dari tangan seorang seniman asal Jogjakarta yang gue temui di pinggir jalan BSD, dan dia mempertemukanku dengan Arjuna-ku, Wiracarita Mahabharata :


(maaf ya foto sendiri, liat tuh tangannya keliatan yg megang kamera, haha)

Sejauh ini, si Arjuna adalah koleksi paling mahal, mengingat dompet Mahasiswi gue yang pas-pasan. Tapi buat dia gue rela deh tabungan surut. Lalu-lalu, koleksi Wayang nomer dua mahalnya setelah si Arjuna adalah si Kelir, beserta Wayang-Wayang mini yang cuma kurang blencongnya, hehe..


(gue bingung ini ceritanya Mahabrata atau Semarsemorodewo?)

Daaaan, Wayang dalam bentuk lain yang ngga kalah berharga adalah kaos dari seorang sahabat bernama Tennie Marlim (kan, gue mention lagi) sebagai hadiah ulang tahun gue dengan tulisan Wayang Kulit. Yang terpenting adalah Kaos ini Made in Indonesia. Ini adalah kaos ter-cool yang gue punya sekarang, mengalahkan dress Mamamia.


(sori kalo ada yang salah sama posenya, salahin si Dalang Master, Ki Manteb Sudharsono)

Pernak-pernak kecil lainnya tentang Wayang satu persatu gue kumpulin. Kaya Wayang-wayang kulit mini, yang gue beli di Malioboro.. (oh, itu surga Wayang Jawa banget!) lalu ada juga pembatas buku dengan motif Wayang, pin Wayang sampe pulpen Wayang yang kalo dijual di Bandara harganya bisa berkali-kali dosa.

Oh iya, satu cerita saat gue menghadiahkan Wayang Mini untuk seorang EF Teacher, ketika menerimanya, muka dia seneng banget, dan bilang terima kasih dengan aksen bulenya yang cupu berkali-kali, sampai satu pertanyaan keluar dari bibirnya?

"Bukankah Wayang berasal dari Malaysia?" (in english)


WAH!! Emang hebat banget si Malaysia dalam hal mengklaim budaya Indonesia. Satu kelas langsung teriak secara tidak beraturan ngata-ngatain Malaysia, khususnya dalam bahasa Indonesia yang paling kasar, secara si Bule ngga akan tau artinya. Tapi kemudian, gue sadar juga akan satu hal.. Ya, pantaslah Malaysia menyebarluaskan ke mancanegara kalo Wayang itu Budaya mereka, gue yang orang Indonesia aja baru sekarang-sekarang ini tergila-gila sama Wayang. Dan kalau pun gue ngga kuliah di Fakultas Ilmu Budaya, gue mungkin tau wayang sebatas media pendongeng.

Satu hal menghasilkan satu pelajaran, kenali Kebudayaan di Negara kalian sendiri dulu baru boleh suka sama Justin Bieber. #eh?

AKHIRNYAAAA, kembali gue bertanya,

Apa yang lo suka dari Indonesia?

Uhm, tolong jangan jawab Makanannya lagi, jangan juga Timnasnya, atau Irfan Bachdimnya!!

Baiklah, lebih spesifik,

Kebudayaan asli Indonesia apa yang paling lo suka? :)



my Ipad says love Wayang too!



20110118

Hi, Januarain?

Akhir-akhir ini, gue ngerasa makin aneh. Makin ngga Imel. (meski bikin bergidik, tapi ini serius)

Mungkin karna umur 20 ini bener-bener ngebebanin gue. Di rumah, dikit-dikit 20. Di kampus, dituding tua dengan 20 ini. Di jalanan sepi, tiba-tiba 20 (yang ini jangan digubris).

Misalnya aja, gue yang biasanya bersemangat sama perayaan ini itu tiba-tiba mengalami pemadaman, kaya ulang tahun temen atau bahkan ulang tahun gue sendiri yang lewat gitu aja kaya kentut, Natal yang udah ngga mimpiin main salju lagi, Tahun Baru yang boro-boro main keluar, geser gorden buat ngeliat kembang api aja malesnya sekerbau-kerbau.

Dibuktikan dalam perayaan selanjutnya, yang ada di bulan januari ini adalah, genapnya masa jomblo seorang mantan. Satu tahun yang lalu, di atas asap dupa, gue berjanji, kalo tahun depan ketemu tanggal ini dan dia masih single, gue naik level jadi bakar aromatheraphy. Tapi ngga terlaksana, ya itu mungkin, karna gue kehilangan keImelan gue.

Sekarang gue jadi sering ngomong, 'Ya udahlah ya..' Kalimat yang kelas-jelas paling gue sebel sepanjang masa sebelum umur gue 20 tahun.

Gue jadi tambah sensitif tapi ora urus, kaya kalo abis baca timeline di twitter terus kesinggung tapi abis itu selaw. Terus, sekarang gue juga jadi ratu gombal, semua gue senyumin, semua gue manis-manisin. Gue jadi ngerasa ngga ada adrenalin, gue rindu masa-masa labil nan galau.

Gue jadi ngerasa tenang, semua gue tontonin ngalir gitu aja, padahal gue butuh konflik.

Kadang gue suka mancing sama orang yang suka bikin gue emosi, kaya misalnya mantan yang kerjaannya marah-marah kalo lagi nyetir, biasanya gue udah teriak-teriak uwo uwo minta dia berenti ngomel, dan biasanya dia akan melalukan sesuatu yang lebih ngeselin, nah kemaren gue cuma diem sepanjang jalan, ngebiarin dia ngata-ngatain semua orang yang dia liat.

Siapa yang kenal dengan sosok ini?

20101215

the dynamite

Tagging untuk post ini 100 persen : Love.

Absurd. Itulah cinta di umur 18-20 gue.

Bisakah kalian ngebedain yang namanya cinta, sama rasa ingin memiliki, rasa sekedar kagum, rasa takut kehilangan, bahkan ngebedain cinta dengan rasa benci sekalipun?

Oke, dulu gue selalu bisa. Tapi tidak diumur ini.

Di umur 11 taun, gue cuma kenal cinta sama bokap nyokap. Dan rasa-rasa yang gue jabarin di atas, itu udah jadi satu paket sama yang namanya Cinta.

Tapi, beranjak remaja, gue mendefinisikan cinta lebih kepada rasa ingin memiliki. Ngga memiliki gue pasti patah hati. Kalau beruntung, gue akhirnya memiliki orang yang gue cintai, tapi puncaknya setelah memiliki, kemudian timbul rasa bosen, konflik, putus.

Menaiki satu tahap lagi, gue mulai susah membedakan cinta dengan rasa kagum. Pernah suatu hari ketika masih berseragam putih abu-abu, gue nerima ungkapan cinta dari seorang kakak kelas, yang sebenarnya ngga gitu gue kenal, tapi karna dia seseorang yang memiliki pengaruh besar di sekolah, maka gue terima dan kita akhirnya jadian. Gue menyadari gue memiliki alasan ketika ditanya kenapa menerima dia, karna dia seorang ketua MPK, lalu, seandainya dia bukan ketua MPK, apa gue tetap menerimanya? Dan, gimana setelah dia sudah tidak menjadi ketua MPK? Akhirnya, gue putuskan untuk mengakhiri, karna perasaan kagum, hanya sebatas kagum, tidak bisa berubah menjadi cinta.

Di tahap berikutnya, dari seorang sahabat yang kemudian menggoda jiwa. Tapi bisa kalian bayangkan metamorfosis dari sebuah hubungan sahabat harus berubah menjadi seorang kekasih. Buat gue terutama, adalah percintaan yang paling menakutkan. Bukan tidak percaya dengan kelanggengan tapi, setiap manusia harus mempersiapkan keadaan yang terburuk, dalam hal ini, perpisahan. Dan hubungan cinta, menurut gue bukan digabung dengan rasa takut kehilangan.

Tamparan tentang Cinta yang terakhir, yang paling abstrak. Hubungan yang terjalin, dari rasa benci, yang kemudian menjadi cinta. Atau rasa apalah, katakan itu. Hmmm.. Ketika bertemu dengan seseorang yang udah dicap playboy, maka yang akan keluar untuk pertama kali buat gue adalah rasa benci di posisi cewe. Namun setelah mengenal orang itu, meskipun dengan banyak cacian mereka beteriak 'jangan dekati lelaki hidung belang itu, berada di dekat lelaki itu seperti main api, bisa terbakar sendiri' tapi ngga bikin gue lantas nyerah buat tau lebih jauh, oke gue benci sama dia dan image nya, tapi gue tetep sama dia. Ada hal yang ngga bisa gue tolak buat ngga gue lewatin sama dia. Gue ngga pengen milikin dia, gue juga ngga punya rasa kagum buat dia, gue rela bahkan untuk kehilangan dia, dan rasa benci buat dia, udah 100 persen mengingat begitu banyak wanita yang jadi korban dia.

Mungkin gue dulu memandang cinta dari rasa enaknya aja. Dan bergidik ketika ngeliat pasangan yang jelas-jelas gue tau buruknya mereka. Tapi justru sekarang gue mulai merasakan menjadi mereka, bukan tidak ada pilihan lain, tapi mungkin dengan begini, definisi cinta menjadi murni cinta, tanpa disokong apapun, lepas dari habituasi sosial, dan keinginan kebanyakan orang. Urusan resiko, gue pikir, cinta yang kalian sebut dengan kemewahan, jaminan kesejahteraan (masa depan) juga punya resiko masing-masing.




20101112

saat cinta (terlanjur) mati

aku menulis ini ditemani berisiknya hujan, tengah malam, dengan mata setengah protes namun mengalah demi lengkingan spasi yang sudah terlalu lama ditekan.

berjarak.

siapa saja bahkan sudah tahu apa yang disampaikan kedua penglihatan ini.

yang dulu berbinar terang, meski tidak berpupil biru.

yang menggambarkan, betapa bahagia peta hidup yang dilemparkan Tuhan, untukku, untuknya. tanpa perlu cerita tanpa perlu mencatat.

yang sekarang justru lebih memilih menunduk, memejam, tidak ingin melihat dengan jelas bagaimana akhirnya dari apa yang harus berakhir, dengan dingin, tidak butuh alasan kenapa, muak karena siapa dan perpisahan apa?

statis, sudah mati, mengering, tidak lagi deras, tidak lagi memiliki tekanan untuk merasa senang.

aku yang kemarin, mungkin lebih mengetahui, tapi, aku yang sekarang, hanya terlanjur membenci hujan yang turun malam ini.

menangis tanpa alasan dan ingatan.

20100912

travel time ♥



Sekitar pertengah Mei lalu, gue dipertemukan lewat Jejaring Sosial oleh seorang gadis lucu dan sehat dari Kubah Mas. Dalam Direct Message kami berdua ngobrol ngalor ngidul ngebahas Negara Tetangga yang lagi bersitegang sama Negara kita karna saat itu gue pengen ke sana buat ngekorin si Abah. Tapi nasib kebentur sial, gara-gara ada UAS Logika, gue ngga jadi berangkat ke sana. Dan akhirnya justru bikin kita ngerencanain liburan bareng sebagai balas dendam!
Wooho. Kalo jodoh emang ngga kemana.

Oke, sebentar gue luruskan dulu. Gadis yang bernama Kanova Desti Kanova ini adalah temen SDnya Rivan. Jadi gue bukan anak labil yang kenalan dari FB, ngobrol intim sementara belum kenal sama orangnya, Hahaha.. Beberapa kali dia selalu tertangkap mata lagi lompat-lompat dari satu tempat ke tempat lainnya sama gue, membuat dirinya begitu eksis dan menggemaskan!

Ngga lama setelah kita melukis mimpi di FB, kita pun sepakat buat ngobrolin liburan bareng ini di dunia nyata (baca: ketemuan).


Jadilah Kanova yang akrab di sapa Nobeng ini mengajak Partner in Crime-nya, bernama Ghea Pandeirot yang nantinya dalam perjalanan, dia adalah orang yang paling direpotkan untuk mengisi semua urusan booking memakai namanya yang panjang, Gheantisa Parahita Pandeirot. Hahaha..

Singkat cerita tentang Ghea, dia adalah cewe yang gila traveling. Kalo udah nyenggol tentang negara Turistik, siap-siap bengong merhatiin dia cerita gimana bagusnya negara itu, walaupun dia belum pernah ke sana, karna kerjaan hari-harinya diprediksi cuma buat nonton Travel & Time di Indovision.



Tadinya rute liburan kita adalah begini:

SINGAPORE

-




Tapi setelah hampir dua bulan kami diskusi, nyari info tiket, dan keadaan di tempat tujuan segala macem, tiba-tiba mendekati hari keberangkatan yang di prediksi akan jatuh pada akhir July ada berita kalo Hongkong lagi banyak Badai. Wah Weh Woh.


Kita ngga mau ngga liburan. Terpaksa banting stir jadi ke :

SINGAPORE

-



Dimana kami bertekad. Kami akan menjadi Suitcase-r yang hidup ala Backpacker. (nyeeeeh)

Perjalanan akhirnya kami mulai dari CGK menuju SG di pagi yang cerah tapi ngga cerah buat perut gue yang mendadak sakit banget begitu pesawat take off. Gue ngga bisa jelasin sakit apa ini perut. Maag? Ngga, gue ngga punya Maag. Perut gue udah keisi meskipun tadi sempet minum Orange Water yang akhirnya disita petugas Airport. Melilitnya perut gue terjadi sepanjang perjalanan. Kata Ghea, "NERVOUS KALI MELL!"

Tadinya gue ngga percaya. Ah masa iya nervous, kampung banget gue kaya baru pertama kali naek pesawat. Gue pun ngga ngerasa grogi sama sekali sama perjalanan ini, santai-santai aja. Tapi, setelah landing di Changi, menyeret koper keluar pesawat, JENG JENG! Perut gue berenti melilit. Itu masih tanda tanya besar loh sampe sekarang?!

SINGAPORE ♥


Paman Gober bawa tongkat. Berangkat!!
*norak abis*

hotel tempat kita nginep 'View'nya Singapore abis.
dari ketinggian yang bikin kaki gue lemes dan banjir lampu.
tapi tapi, Mahal.. *emoticon nangis*



Gue emang seharusnya ngga teledor sampe lupa bawa charger Kamera dan ngga bisa moto-moto semua tempat-tempat disana, karna sesungguhnya gue selalu lupa hotel di tempat kami nginep, daerahnya aja lupa coba!

*posting ini belum selesai. ternyata sebagian besar daerah tempat makan, belanja sampe rekreasinya gue lupakan begitu aja. gue butuh nanya-nanya dulu ya sama Ghea Nobeng! HAHAHAHA*

-dok. Hamsyeera Kanova Destika-